Jelang “Pasanggiri Rampak & Anggana Sekar” antar SD–SMA se-Kabupaten Garut

0
307

Menghidupkan Seni Tradisi Sunda yang Mulai Memudar di Kalangan Milenial

GARUT — Sudah lama Pasanggiri Rampak Sekar dan Anggana Sekar untuk pelajar SD hingga SMA tidak lagi terdengar gaungnya di Kabupaten Garut, bahkan di Jawa Barat sekalipun. Tak heran, banyak anak-anak kini lebih hafal lagu pop, dangdut, hingga lagu Korea atau Barat ketimbang kawih Sunda. Minimnya pelatihan dan lomba membuat lagu-lagu tradisi Sunda makin jarang diperdengarkan, berdampak pula pada menurunnya rasa nasionalisme generasi muda.

Dulu, pada masa awal kemerdekaan, lagu-lagu Sunda kerap menjadi sumber semangat juang. Kawih perjuangan “17 Agustus ’45” karya Mang Koko dan Karna Yudibrata, atau “Kembang Tanjung Paningeungan” yang merekam heroisme “pagar betis” melawan DI/TII, menjadi peneguh rasa cinta tanah air. Bukan sekadar lagu “jadul”, tetapi syair atau rumpaka-nya tetap relevan sepanjang NKRI berdiri.

Semangat inilah yang menggerakkan para seniman dan pelaku seni yang tergabung dalam Pusat Olah Seni Sunda Pasundan (POSS Pas) dan Dewan Kesenian Garut (DKG) — banyak di antaranya alumni ISBI Bandung — untuk kembali menggelar “Pasanggiri Rampak dan Anggana Sekar” antar pelajar SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA se-Kabupaten Garut. Lomba ini direncanakan berlangsung Sabtu–Minggu, 20–21 September 2025 di Bale Paminton “Inten Dewata”.

Pada Selasa (26/8/2025), panitia telah menggelar technical meeting bersama perwakilan sekolah peserta yang sudah mendaftar. Meski begitu, pendaftaran masih dibuka hingga 10 September 2025.

Menurut Ketua Panitia Irno Sukarno, yang juga Dewan Penasehat DKG, pihaknya berharap Pasanggiri ini bisa memperebutkan Piala Bergilir Bupati Garut, Kepala Disparbud, dan Kepala Dinas Pendidikan. “Kami masih menunggu respon dari para pejabat terkait. Semoga sebelum pelaksanaan ada titik terang,” ujarnya.

Pasanggiri ini diharapkan menjadi langkah awal membangkitkan kembali kecintaan generasi muda Garut pada seni tradisi Sunda — tidak hanya mengenal lagunya, tetapi juga menjiwai nilai perjuangan dan persatuan yang terkandung di dalamnya. ***Jajang Sukmana