Meneguhkan Akar, Menyongsong Cahaya: Refleksi 213 Tahun Garut

0
84

Oleh: Enang Cuhendi – Pengawas SMP Kabupaten Garut

Setiap pagi, Garut selalu lahir kembali. Kabut turun perlahan dari lereng-lereng pegunungan, menyentuh hamparan sawah, menyelinap di antara rumah-rumah penduduk, lalu menghilang ketika matahari mulai menghangatkan kota. Dalam suasana alam yang teduh itulah perjalanan sejarah Garut berlangsung—tenang di permukaan, namun sesungguhnya menyimpan kisah panjang tentang perubahan, ketahanan, dan pencarian jati diri.

Tahun 2026 ini, Garut genap berusia 213 tahun. Usia yang tidak lagi muda bagi sebuah daerah, tetapi juga belum selesai menuliskan takdirnya. Peringatan hari jadi bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan momentum untuk menengok kembali: dari mana Garut berasal, bagaimana ia bertumbuh, dan ke mana arah yang hendak dituju.

Tema yang diusung tahun ini, “Garut Gumiwang, Tanjeur Dangiang,” seakan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Sejarah yang Lahir dari Perpindahan
Awal abad ke-19 menjadi titik penting dalam perjalanan Garut. Saat itu, pusat pemerintahan Kabupaten Limbangan dinilai tidak lagi memenuhi kebutuhan administrasi dan perkembangan wilayah. Pemerintah kolonial Hindia Belanda memandang perlu adanya lokasi baru yang lebih strategis—baik dari segi geografis maupun ekonomi.

Pada 16 Februari 1813, seorang bupati, R.A.A Adiwijaya, mulai menjalankan tugas mencari dan membuka wilayah baru yang kelak menjadi pusat pemerintahan. Daerah yang semula berupa hutan dan semak belukar itu kemudian dibuka, ditata, dan perlahan berubah menjadi kawasan pemukiman.

Dari proses inilah nama “Garut” muncul. Dalam tradisi tutur masyarakat, istilah itu berkaitan dengan kata Sunda kakarut, yang berarti tergores. Sebuah kisah sederhana tentang seseorang yang tergores tanaman saat membuka lahan, namun justru melahirkan nama yang kini melekat kuat sebagai identitas daerah. Ada juga yang berpendapat bahwa nama Garut berkaitan dengan keberadaan jenis umbi-umbian yang disebut Umbi Garut (maranta arundinacea) yang waktu itu begitu banyak ditemukan saat dibersihkan oleh tim pembuka lahan untuk menentukan lokasi kabupaten Garut.

Sejarah sering kali memang tidak lahir dari peristiwa besar, melainkan dari detail kecil yang kemudian diberi makna oleh perjalanan waktu.

Tanggal yang Pernah Diperdebatkan
Menariknya, perjalanan menuju penetapan Hari Jadi Garut tidak berlangsung sekaligus. Pemahaman sejarah berkembang melalui penelitian dan penafsiran ulang.

Pada masa tertentu, masyarakat memperingati hari jadi berdasarkan momentum pembangunan awal kota yang terjadi beberapa bulan setelah pembukaan wilayah. Ada pula pandangan yang mengaitkannya dengan perubahan administratif kolonial pada awal abad ke-20, ketika nama Limbangan secara resmi diganti menjadi Kabupaten Garut.

Perbedaan-perbedaan itu menunjukkan bahwa sejarah bukanlah sesuatu yang statis. Ia adalah hasil dialog panjang antara arsip, penelitian, ingatan kolektif, dan kesadaran masyarakat terhadap asal-usulnya.

Melalui kajian historis yang lebih komprehensif, akhirnya disepakati bahwa tanggal 16 Februari 1813 merupakan titik paling awal yang merepresentasikan lahirnya Garut sebagai entitas baru. Bukan hanya kota yang dibangun, tetapi juga identitas yang mulai dibentuk. Sebelumnya pada periode 1963-1981 sempat diambil tanggal 15 September 1812 sebagai patokan hari jadi. Kemudian periode 1981-2011 ditetapkan tanggal 15 Maret 1813.

Garut sebagai Ruang Budaya dan Ketahanan Sosial

Selama lebih dari dua abad, Garut berkembang dalam dinamika yang tidak selalu mudah. Pada abad ke-19, wilayah ini menjadi bagian dari sistem ekonomi kolonial berbasis perkebunan. Tanahnya yang subur menjadikannya kawasan agraris penting, tetapi juga menghadirkan tekanan sosial bagi masyarakat pribumi.

Memasuki abad ke-20, gelombang kesadaran nasional mulai tumbuh. Garut ikut merasakan denyut perjuangan menuju kemerdekaan, hingga kemudian menjadi bagian dari republik yang terus membangun dirinya.

Namun yang menarik, di tengah perubahan zaman, karakter masyarakat Garut tetap memperlihatkan kesinambungan nilai. Tradisi religius, kehidupan pesantren, semangat gotong royong, serta budaya Sunda yang kuat menjadi fondasi sosial yang tidak mudah goyah.

Garut bertahan bukan karena menolak perubahan, melainkan karena mampu menyerap perubahan tanpa kehilangan akar.

Memaknai “Garut Gumiwang, Tanjeur Dangiang”

Tema Hari Jadi Garut ke-213 tahun ini bukan sekadar rangkaian kata indah, tetapi mengandung filosofi mendalam.
Gumiwang berarti bersinar atau bercahaya. Dalam konteks pembangunan, ia melambangkan kemajuan, kesejahteraan, dan keunggulan daerah yang mampu memberi manfaat bagi masyarakatnya.

Tanjeur bermakna tumbuh tegak dan kokoh. Ia menggambarkan ketahanan—baik ketahanan budaya, sosial, maupun moral—di tengah arus perubahan global yang begitu cepat.
Sementara Dangiang merujuk pada ruh atau nilai luhur warisan leluhur. Ia adalah kesadaran bahwa setiap langkah pembangunan harus tetap berpijak pada sejarah, tradisi, dan kearifan lokal.

Dengan demikian, “Garut Gumiwang, Tanjeur Dangiang” adalah harapan agar Garut menjadi daerah yang maju dan bercahaya, tetapi tetap berdiri teguh di atas nilai-nilai budayanya.
Tema ini seolah menegaskan bahwa modernitas tidak boleh memutus ingatan, dan pembangunan tidak boleh menghilangkan identitas.

Tantangan Zaman Baru
Di usia ke-213, Garut menghadapi tantangan yang berbeda dibanding masa-masa sebelumnya. Aneka masalah sosial daerah yang sedang berkembang, perubahan tata ruang, tekanan terhadap lingkungan, hingga transformasi digital menjadi realitas yang tidak bisa dihindari.

Kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan pelestarian alam. Pengembangan wilayah harus tetap menjaga keseimbangan ekologis. Pendidikan dan budaya perlu terus diperkuat agar generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarahnya.

Jika dahulu Garut dibangun dengan membuka hutan, maka hari ini Garut dibangun dengan membuka wawasan.

Jika dahulu tantangannya adalah membentuk kota, maka kini tantangannya adalah membentuk peradaban yang berkelanjutan.

Menjadi Daerah yang Belajar dari Sejarah
Peringatan hari jadi sesungguhnya adalah bentuk refleksi kolektif. Ia mengajak masyarakat untuk tidak sekadar mengenang, tetapi juga memahami bahwa sejarah adalah sumber pelajaran.

Garut telah melewati berbagai fase: pembentukan administratif, tekanan kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga pembangunan modern. Semua itu membentuk watak daerah yang adaptif sekaligus berakar kuat.

Di sinilah makna terdalam dari perjalanan 213 tahun: Garut bukan hanya tempat, melainkan proses yang terus berlangsung.

Melangkah ke Depan

Usia ke-213 adalah kesempatan untuk menegaskan arah baru—bahwa kemajuan harus berlandaskan nilai, dan identitas harus menjadi kekuatan, bukan beban.
Kabut pagi akan tetap turun di Garut, sebagaimana dua abad lalu. Namun masa depan daerah ini ditentukan oleh generasi hari ini: apakah mereka sekadar mewarisi nama, atau juga merawat makna di baliknya.

Dengan semangat Gumiwang yang bercahaya, Tanjeur yang kokoh, dan Dangiang yang berakar pada kearifan, Garut melangkah memasuki abad berikutnya.

Selamat Hari Jadi ke-213.
Semoga Garut terus tumbuh sebagai daerah yang maju tanpa kehilangan jiwa, dan berubah tanpa melupakan sejarahnya. (*)