GARUT — Senja perlahan turun di halaman SDN 3 Paminggir, Jalan Cimanuk No. 231, Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota, Kamis (12/3/2026). Anak-anak berpakaian muslim duduk di atas tikar yang telah digelar. Para guru juga orang tua siswa bercengkerama ringan menunggu waktu berbuka. Aroma takjil mulai tercium, sementara tawa
anak-anak sesekali memecah suasana.
Begitulah suasana hangat yang mewarnai penutupan Gebyar Ramadhan 1447 Hijriah di SDN 3 Paminggir. Tidak sekadar kegiatan seremonial, acara ini menjadi ruang kebersamaan antara sekolah, siswa, dan orang tua dalam merayakan nilai-nilai Ramadhan.
Sejak sore hari, halaman sekolah telah dipenuhi aktivitas. Sebagian siswa tampil di sederhana menampilkan pentas seni Islami. Ada yang membacakan puisi religi dengan penuh penghayatan, ada pula yang melantunkan nasyid dengan suara lantang. Tepuk tangan dari para guru dan orang tua mengiringi setiap penampilan, menambah semangat anak-anak yang tampil percaya diri.
Di sudut lain, sejumlah siswa bersama guru menyiapkan paket takjil dan bantuan sosial untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar. Bagi mereka, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang berbagi kebahagiaan.

Kepala SDN 3 Paminggir, Hj. Imas Jamilah, S.Pd., mengatakan bahwa kegiatan Gebyar Ramadhan merupakan momentum penting untuk menanamkan nilai keimanan sekaligus membangun kepedulian sosial sejak dini.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan rasa empati, kebersamaan, dan semangat berbagi pada anak-anak. Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai tersebut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan Gebyar Ramadhan di SDN 3 Paminggir telah berlangsung selama tiga hari, sejak 10 hingga 12 Maret 2026. Berbagai kegiatan religius dan edukatif digelar, mulai dari perlombaan Pendidikan Agama Islam (PAI), menonton film Islami, berbagi dengan anak yatim dan dhuafa, hingga pentas seni Islami.
Namun bagi banyak siswa, momen yang paling dinantikan adalah buka puasa bersama. Saat adzan Maghrib berkumandang, seluruh peserta yang sejak tadi menunggu dengan sabar langsung menikmati takjil yang telah disiapkan. Suasana sederhana itu terasa istimewa karena dinikmati bersama-sama.

Tak lama kemudian, siswa, guru, dan orang tua berdiri rapi membentuk saf untuk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah. Halaman sekolah yang sebelumnya riuh oleh tawa anak-anak berubah khusyuk dalam lantunan doa.
Bagi pihak sekolah, kegiatan ini bukan hanya tentang meramaikan Ramadhan, tetapi juga tentang membangun kedekatan antara sekolah, keluarga, dan siswa.
Melalui kebersamaan sederhana di halaman sekolah itu, nilai-nilai Ramadhan—iman, ukhuwah, dan kepedulian—tidak hanya diajarkan, tetapi juga dirasakan langsung oleh setiap anak yang hadir.
Dan ketika malam mulai turun, anak-anak pulang dengan wajah ceria. Mereka mungkin tidak akan selalu mengingat setiap perlombaan yang diikuti, tetapi kebersamaan di senja Ramadhan itu akan tinggal lama dalam ingatan mereka. (Jajang Sukmana)




































