REFLEKSI HARI GURU NASIONAL

0
207

Oleh: Uloh SàpullohKepala SMK IT Muhajirin Garut

Tanggal 25 November 2025 menjadi momentum untuk kembali meneguhkan makna seorang guru sebagai insan terdidik yang memiliki nilai-nilai pedagogik, profesionalitas, sosial, serta pribadi yang luhur. Guru adalah sosok yang dengan tulus mengamalkan seluruh potensi dirinya untuk mendidik, mengajar, membimbing, dan melatih peserta didik. Sosok inilah yang hari ini kita peringati dalam Hari Guru Nasional.

Namun, alangkah baiknya jika penghormatan ini tidak berhenti pada seremoni atau momen tertentu saja. Lebih mulia apabila penghargaan itu terus melekat pada diri setiap guru sepanjang hayatnya, bahkan setelah ia tiada.

Belakangan ini kita sering dipertontonkan oleh berbagai kasus di media massa maupun media sosial tentang guru-guru yang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari sejumlah oknum, baik dari masyarakat, orang tua siswa, ataupun pihak-pihak lainnya. Bahkan lebih tragis, ada guru yang mendapat perlakuan tidak pantas—baik fisik maupun nonfisik—dari siswanya sendiri.
Bukan karena guru tidak mampu membela diri, tetapi sering kali guru memilih diam atau mengalah demi menghindari persoalan besar yang mungkin muncul setelahnya.

Fenomena tersebut mengajak kita untuk merenung. Ada ruang yang hilang dari nilai-nilai penghormatan dan penghargaan yang seharusnya diterima oleh para pendidik. Ada sesuatu yang tergerus dari jati diri adab, akhlak, dan moralitas sebagian kecil peserta didik.

Di titik ini, kita pantas bertanya kepada para pemimpin lembaga pendidikan: “Apakah dasar dan cita-cita pendidikan yang kita berikan kepada peserta didik?”
Tentu setiap pemimpin memiliki jawaban beragam, namun hemat saya setidaknya ada kesimpulan yang dapat diambil, yaitu bahwa dasar pendidikan kita adalah ‘Tauhid’.

Tauhid merupakan pokok kemerdekaan batin, kekuatan ruhani, dan landasan kemajuan serta kecerdasan manusia. Tujuan pendidikan adalah mencetak peserta didik agar mampu memenuhi syarat-syarat kehidupan sebagaimana termaktub dalam firman Allah SWT pada Q.S. Al-Qashash: 77:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”

Berangkat dari pemikiran tersebut, pendidikan harus mampu mengintegrasikan pengetahuan umum dan teknologi agar tidak tertinggal dalam persaingan global, sekaligus tidak meninggalkan pendidikan agama, akhlak, moral, dan adab.
Lembaga yang mengabaikan pendidikan agama akan membuat siswanya kehilangan misi hakiki dalam hidup sesuai tuntunan Ilahi.

Indonesia boleh berbangga memiliki siswa yang pintar, hebat, dan cerdas. Namun bangsa ini akan jauh lebih kuat bila kecerdasan itu diimbangi dengan moral dan integritas yang baik. Karakter moral yang kuat akan membentuk karakter fisikal dan perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika hubungan seorang peserta didik dengan Tuhannya baik, maka moralnya akan baik. Dan ketika moralnya baik, pelayanannya kepada orang-orang di sekitarnya pun akan baik—termasuk kepada guru, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Demikian catatan kecil dari SMK IT Muhajirin sebagai refleksi pada Hari Guru Nasional. (*)