Disdik Garut Gelar Bimtek Penguatan Implementasi PKRS untuk Guru SMP, Hadirkan Narasumber dari UGM dan YGSI

0
110

GARUT – Dinas Pendidikan Kabupaten Garut menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Kemampuan Guru dalam Mengimplementasikan Pendidikan Kesehatan Reproduksi Seksualitas (PKRS) jenjang SMP tahun 2025. Kegiatan berlangsung di Hotel Tirtagangga Garut, Jl. Raya Cipanas No. 130, Cipanas, pada Kamis (20/11/2025) dan dibagi menjadi dua sesi, yakni pukul 08.00 dan 12.00 WIB hingga selesai.

Bimtek dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Teguh Iman Pribadi, S.Kom., bersama Kepala Seksi Kurikulum Bidang SMP, Dr. Ajang Rusmana, M.Pd., untuk sebanyak 280 peserta.

Kabid SMP Teguh Iman Pribadi, menegaskan bahwa penguatan PKRS merupakan langkah penting untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah bagi remaja. Ia juga menekankan pentingnya kapasitas guru dalam memberikan materi PKRS yang sesuai perkembangan peserta didik.

Sementara Ketua MKPS Kabupaten Garut, Dr. Endang Kasupardi, M.Pd., PKRS merupakan kebutuhan dasar bagi remaja dan harus menjadi agenda prioritas sekolah.

Salah satu pengawas, Enang Cuhendi, menambankan bahwa meskipun Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) telah dihapus, implementasi PKRS tetap dapat dilakukan melalui kegiatan kokurikuler.

“Alur P5 masih bisa dipakai dalam pengimplementasian PKRS melalui kokurikuler, yang penting kegiatan kokurikuler tidak dinamai P5. Walaupun P5 sudah dihapus dan proyek yayasan Semak dan YGSI sudah berakhir di Garut, PKRS tetap harus jadi prioritas utama sekolah demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Selain dihadiri para pengawas, kegiatan ini juga melibatkan narasumber nasional dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI), di antaranya: Prof. dr. Siswanto Agus Wilopo, SU., M.Sc., ScD (UGM), Dr. Heru Subekti, S.Kep., NS., MPH (UGM), Dr. Abdul Wahab, MPH (UGM), Althaf Setyawan, S.Si., MPH (UGM), Akto Adhi Kuntoro (UGM), dan Desrina Dewi Respati (YGSI).

Mereka menyampaikan paparan terkait implementasi PKRS, hasil riset intervensi SETARA, hingga strategi keberlanjutan program di sekolah dan keluarga.

Tujuan khususi dari implementasi dan studi intervensi SETARA, diantaranya:

  • Mengukur perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja usia 10–14 tahun setelah intervensi SETARA.
  • Mengevaluasi perubahan komunikasi remaja–orang tua tentang kesehatan reproduksi setelah intervensi.
  • Menilai perubahan pengetahuan, sikap, dan keterlibatan orang tua dalam pendidikan kesehatan reproduksi di rumah.
  • Mengidentifikasi faktor pendukung dan hambatan efektivitas intervensi di sekolah dan keluarga
  • Memberikan rekomendasi perbaikan serta strategi penguatan program SETARA berbasis keluarga untuk implementasi lebih luas.

Adapun metode penelitian yaitu melalui pendekatan Mixed methods (kuantitatif dan kualitatif). Kuantitatif: Mengukur perubahan pengetahuan & sikap (baseline–post). Kualitatif: Mendalami pengalaman, dinamika pengasuhan, hambatan, serta pandangan peserta.

Populasi remaja 10–14 tahun dan orang tua. Lokasi Penelitian untuk Garut adalah SMPN 3 Cilawu, SMPN 3 Cisurupan, SMPN 2 Leuwigoong, SMPN 3 Kadungora.

Sedangkan lokasi untuk Lombok Timur yaitu SMPN 3 Pringgabaya, SMPN 6 Masbagik, SMPN Labuhan Haji, SMPN Suralaga.

Total Sampel untuk Kuantitatif: 244 pasangan (124 Garut, 120 Lombok Timur), dan Kualitatif: 30 orang tua (16 Garut, 14 Lombok Timur). ***Jajang Sukmana