HGN dan HUT ke-80 PGRI: Ketua PGRI Garut Ajak Guru Menjaga Marwah Profesi Lewat Profesionalitas

0
143

GARUT – Bupati Garut, Dr. Ir. H. Abdusy Syakur Amin, M.Eng., IPU, bertindak sebagai inspektur upacara pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang digelar di Lapangan Otto Iskandardinata (Alun-alun) Garut, Jl. A. Yani, Kecamatan Garut Kota, Selasa (25/11/2025). Para peserta upacara tampil seragam mengenakan batik PGRI dan pakaian adat Sunda, sehingga menambah kekhidmatan acara tahunan tersebut.

Ketua PGRI Kabupaten Garut, Dr. H. Encep Suherman, M.Pd., mengapresiasi suasana pelaksanaan upacara yang dinilainya lebih kompak dan penuh dukungan dari berbagai pihak. “Tampaknya kekompakan lebih meningkat. Atensi semua stakeholder luar biasa—Bupati, Sekda, para mitra usaha termasuk BUMD Bank BJB. Yang lebih penting, ada kolaborasi yang sinergis antara panitia HGN dengan panitia HUT PGRI,” ujar Encep.

Encep menyampaikan bahwa pada peringatan tahun ini, Bupati Garut memberikan izin resmi kepada PGRI untuk menggunakan seragam kebesaran PGRI sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan terhadap marwah organisasi guru tersebut. “Pak Bupati secara bijak mengabulkan permohonan penggunaan batik PGRI Kusuma Bangsa bagi para pengurus PGRI Kabupaten Garut. PGRI bukan tidak menghargai pakaian adat Nyunda, akan tetapi ingin menunjukkan identitas PGRI-nya dalam upacara tersebut,” tandasnya.

Selain itu, Encep menyoroti apresiasi pemerintah pusat melalui pidato yang disampaikan Bupati mengenai kenaikan tunjangan guru. “Jangan dilihat hanya nominalnya, misalnya Rp100.000, tetapi niat baik pemerintah di tengah efisiensi yang ketat. Pemerintah tetap berupaya memperhatikan guru secara bertahap,” tambahnya.

Ketua PGRI Garut mengingatkan bahwa peringatan Hari Guru harus menjadi momentum penguatan kualitas, bukan hanya seremoni. “Hari Guru jangan hanya sebatas euforia, hura-hura, atau seremoni. Yang lebih penting adalah memacu guru untuk meningkatkan profesionalitasnya. Apalah artinya kemegahan upacara kalau tidak diimplikasikan dengan profesionalitas guru di lapangan,” tegas Encep.

Ia menyebut empat kompetensi guru—kepribadian, sosial, profesional, dan pedagogis—harus selalu menjadi pegangan utama agar marwah guru tetap terjaga.

Dalam peringatan ini, sejumlah guru menerima penghargaan atas dedikasi dan pengabdiannya. Encep menegaskan bahwa penghargaan tersebut merupakan hasil sinergi antara PGRI dan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut. “Dinas Pendidikan sebagai penyelenggara utama HGN tidak egois. Mereka meminta masukan dari kami. Penghargaan-penghargaan itu lahir dari kerja sama yang positif,” jelasnya.

Ia mencontohkan dua guru yang direkomendasikan PGRI untuk menerima penghargaan, termasuk seorang guru honorer yang tinggal enam bulan lagi memasuki masa pensiun. “Guru honorer yang menjelang pensiun itu kami rekomendasikan. Alhamdulillah Pak Kadis sangat responsif. Kami bangga dan terharu karena ini menunjukkan perhatian yang proporsional dari pemerintah,” ungkap Encep.

Menurutnya, hal ini menjadi motivasi bagi para guru honorer lainnya, terlebih masih banyak pekerjaan rumah seperti penyelesaian urusan PPPK dan peningkatan status para guru yang belum masuk Dapodik.

Di akhir wawancara, Encep kembali menegaskan bahwa PGRI harus menjadi rumah bagi seluruh anggotanya. “PGRI ini milik anggota, bukan milik pengurus. Marwah guru hanya akan terjaga jika guru menunjukkan profesionalitasnya,” pungkasnya. ***Jajang Sukmana