Siswa SMKN 15 Garut Terbitkan Antologi Cerpen, Bangkitkan Semangat Literasi Sekolah

0
19

GARUT — Semangat literasi kembali digaungkan di dunia pendidikan. Kali ini datang dari SMK Negeri 15 Garut yang berhasil melahirkan karya inspiratif berupa buku antologi cerpen berjudul “Aku Tidak Tersesat, Aku Sedang Bertumbuh.”

Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek karya siswa yang ditulis dengan kejujuran emosi, refleksi diri, serta potret pengalaman kehidupan remaja. Tidak sekadar menjadi tugas akademik, karya tersebut menjelma sebagai ruang ekspresi yang kuat bagi para siswa untuk menyuarakan kegelisahan, harapan, hingga proses pendewasaan diri.

Kepala sekolah, Rahayu, M.Pd., menyampaikan bahwa gerakan menulis ini tidak hanya bertujuan menghasilkan sebuah buku, tetapi juga membangun karakter siswa.
“Menulis adalah proses berpikir, merasakan, dan menemukan jati diri. Melalui karya ini, kami ingin siswa berani menyuarakan isi hati sekaligus mengasah kemampuan literasi mereka,” ujarnya.

Judul buku yang diangkat pun sarat makna. “Aku Tidak Tersesat, Aku Sedang Bertumbuh” merepresentasikan perjalanan remaja yang kerap disalahpahami. Alih-alih dianggap kehilangan arah, proses pencarian jati diri justru dipandang sebagai bagian penting dari pertumbuhan.

Proses penyusunan buku ini melibatkan pendampingan guru serta kolaborasi antarsiswa, mulai dari tahap penulisan, penyuntingan, hingga desain visual. Hal ini menjadikan karya tersebut tidak hanya bernilai sastra, tetapi juga sebagai hasil kerja kolektif yang membanggakan.

Langkah SMK Negeri 15 Garut ini menjadi contoh konkret bahwa budaya literasi dapat tumbuh dari lingkungan sekolah apabila diberi ruang dan dukungan yang tepat. Karya tersebut diharapkan mampu menginspirasi sekolah lain untuk mengembangkan gerakan serupa—mendorong siswa menulis, berkarya, dan berani menyampaikan gagasan.

Di tengah era digital yang serba cepat, kehadiran buku ini menjadi pengingat bahwa tulisan memiliki kekuatan untuk mengabadikan pemikiran sekaligus membentuk peradaban.

Gerakan kecil dari Garut ini membuktikan satu hal: ketika siswa diberi kesempatan untuk menulis, mereka tidak hanya belajar merangkai kata—melainkan sedang menumbuhkan masa depan. (Jajang Sukmana)