Siswa SMPN 1 Garut Jadi Saksi Prosesi Awal Peringatan HJG ke-213

0
65

GARUT – Setelah cukup lama tidak digelar, prosesi Upacara Adat Mapag Hurip Gumiwang di Sumur Ci Garut kembali dilaksanakan pada masa kepemimpinan Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin. Kegiatan tersebut berlangsung di lokasi sumur yang berada di sudut SMP Negeri 1 Garut, Kamis (12/2/2026), sebagai rangkaian awal peringatan Hari Jadi Garut (HJG) ke-213.

Prosesi sakral yang menjadi simbol berdirinya Kabupaten Garut ini dihadiri oleh Bupati Garut, Ketua DPRD, unsur Forkopimda, para kepala SKPD, serta keluarga besar guru dan siswa SMPN 1 Garut. Para siswa pun menjadi saksi sejarah di lokasi yang diyakini sebagai fondasi awal lahirnya nama Garut.

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menegaskan bahwa upacara adat tersebut merupakan momentum penting untuk merenungi perjalanan awal berdirinya Kabupaten Garut sekaligus mengenang jasa para leluhur.

“Kita melaksanakan ini untuk mengingatkan kembali masyarakat Kabupaten Garut tentang perjalanan awal keberadaan Garut serta apa yang telah dilakukan para leluhur. Membangun Garut harus benar-benar dilakukan dengan serius agar ke depan semakin banyak perubahan positif yang terjadi,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 1 Garut, Rd. Yusup Satria Gautama, S.Pd., menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan sehingga sekolahnya menjadi lokasi awal peringatan HJG ke-213. Ia berharap prosesi ini memberi dampak positif bagi para siswa sebagai generasi penerus.

“Semoga momentum ini menjadi pembelajaran sejarah yang bermakna bagi peserta didik kami, sehingga mereka semakin bangga dan mencintai daerahnya,” ujarnya.

Mengutip keterangan Dinas Komunikasi dan Informatika, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Beni Yoga Gunasantika, menjelaskan bahwa Sumur Ci Garut diidentifikasi sebagai salah satu peninggalan awal sejarah Garut.

“Sumur ini bukan hanya mata air, melainkan sumber cerita, sumber kehidupan, dan titik awal berkembangnya peradaban di Kabupaten Garut. Proses ngarawat sumur ini adalah wujud penghormatan kepada para leluhur yang telah menancapkan jejak sejarah di Garut,” ungkap Beni.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan prosesi Napak Darma Lingga Buana di Titik Nol Garut, Jalan Kiansantang, tepatnya di depan Kantor BPKAD Garut. Prosesi tersebut mengandung makna simbolik sebagai penegasan identitas dan komitmen untuk membangun Garut yang adil, makmur, dan sejahtera.

Beni Yoga menambahkan, pelaksanaan kedua upacara adat tersebut menjadi catatan sejarah baru dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Garut ke-213. Pemerintah Kabupaten Garut berharap generasi muda semakin mengenal serta bangga terhadap sejarah daerahnya, sehingga semangat menjaga kelestarian budaya tetap tumbuh di tengah perkembangan zaman.

“Semoga ini menjadi langkah awal yang mulia untuk menjaga dan menguatkan jati diri Garut agar tetap lestari dan mendatangkan keberkahan bagi kita semua,” tutupnya.

Ziarah ke Makam Para Leluhur dan Bupati Terdahulu

Melengkapi rangkaian peringatan HJG ke-213, Pemerintah Kabupaten Garut juga melaksanakan ziarah ke makam para leluhur dan Bupati terdahulu yang tersebar di sejumlah titik di Garut Kota.

Ziarah pertama dilaksanakan di TPU Cipeujeuh, Kelurahan Paminggir, yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Bupati Garut pertama, Raden Adipati Arya Adiwidjaya (1813–1831).

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Garut, Aji Sekarmaji, menjelaskan bahwa makam tersebut menjadi bukti autentik peralihan masa pemerintahan dari Kabupaten Balubur Limbangan ke Kabupaten Garut.

“Beliau adalah putra sulung Dalem Sumedang, Pangeran Kornel. Di kompleks ini juga terdapat makam istri beliau, Raden Ajeng Situ Ningrum,” jelasnya.

Rangkaian ziarah dilanjutkan ke Kompleks Makam Keluarga Hoofd Panghoeloe R.H.M. Moesa di Jalan Kabupaten, Kecamatan Garut Kota. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Garut, Totong, menyampaikan bahwa kompleks tersebut diperuntukkan bagi keturunan dan kerabat dekat sang Penghulu Besar.

Di lokasi tersebut dimakamkan sejumlah tokoh penting, termasuk lima Bupati Garut, yakni Raden Adipati Suryanatakusuma (Bupati ke-III, 1833–1871), Raden Adipati Aria Wiratanudatar VII (Bupati ke-IV, 1871–1915), Raden Adipati Aria Soeria Kartalegawa (Bupati ke-V, 1915–1929), Raden Adipati Aria Moehammad Moesa Soeria Kartalegawa (Bupati ke-VI, 1929–1944), serta Raden Gahara Wijaya Surya (Bupati ke-XIII, 1960–1966).

Melalui rangkaian prosesi adat dan ziarah tersebut, Pemerintah Kabupaten Garut berharap peringatan Hari Jadi Garut ke-213 tidak sekadar menjadi seremoni, tetapi juga momentum refleksi sejarah dan penguatan karakter generasi muda dalam membangun Garut ke depan. ***Jajang Sukmana