Sony MS Purna Bhakti Tak Purna Berkarya

0
243

Oleh : H.Nanang SH (Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Garut)

Jumat, 1 Agustus 2025 – Pesan singkat di grup WA APSI Garut sore itu membuat langkah saya terhenti sejenak: “Pak Sony MS purna bhakti.”

Sebagai sahabat lama sekaligus teman kerja, hati saya diliputi rasa haru yang sulit diungkapkan. Pikiran langsung berkelana jauh, mengembalikan ingatan pada jejak-jejak perjalanan yang pernah kami lalui bersama. Terbayang wajahnya yang teduh, langkahnya yang mantap, dan semangatnya yang tak pernah surut ketika membicarakan pendidikan Garut. Saya tahu, kabar ini bukan akhir cerita, melainkan babak baru dalam hidup seorang kawan yang pengabdiannya tak pernah mengenal kata pensiun.

Di negeri yang diapit pegunungan, dibalut kabut pagi, dan dialiri sungai-sungai yang tak pernah lelah mengalir, kisah Sony MS terukir sebagai bagian dari denyut nadi pendidikan. Garut, tanah yang indahnya adalah anugerah, tetapi bagi seorang pengawas sekolah, luas wilayah dan kerasnya medan adalah ujian yang tiada henti. Dari pantai selatan yang berdebur ombak hingga dataran tinggi yang sunyinya hanya dipecah angin, jalan-jalan berliku dan tebing curam telah menjadi sahabat setianya dalam menunaikan amanah.

Di tengah medan tugas yang berat itu, Sony tidak sekadar menjalankan instruksi. Ia menghidupkan perannya dengan hati dan jiwa. Ia hadir bukan hanya untuk memeriksa berkas, tetapi untuk menggerakkan hati, mengobarkan semangat, dan menyalakan lilin harapan di kelas-kelas yang kadang temaram. Bagi banyak guru di Garut, nama “Sony MS” bukan hanya sebutan, melainkan sebuah kisah perjalanan yang mereka kenang.

Tiga puluh lima tahun lalu, ia memulai langkahnya sebagai guru olahraga di SMPN 1 Cikelet pada tahun 1989. Kemudian pada tahun 1991 beralih tugas sabagai guru DPK di SMP PGRI Tarogong sekolah kebanggaan banyak orang tua kala itu. Saya pertama kali mengenalnya pada 1991, saat beliau mengajar di Tarogong dan saya saat itu Tengah bertugas di SMA PGRI Cibatu. Kami sama sama bertugas bernaung di bawah bendera yang sama, YPLP PGRI Kabupaten Garut. Sejak awal, saya tahu lelaki ini membawa lebih dari sekadar peluit dan bola; ia membawa cerita, tawa, dan semangat belajar yang menular, bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk orang lain.

Perjalanan waktu membawanya menjadi pengawas jabatan yang di atas kertas berisi kata “supervisi” dan “manajerial”, tetapi di tangannya menjelma misi kemanusiaan. Ia mendatangi sekolah-sekolah pelosok, berbicara dengan guru bukan seperti atasan kepada bawahan, melainkan seperti kawan lama yang datang membawa kabar baik. Ia tahu, pendidikan tak bisa dibenahi hanya dengan aturan; ia perlu disentuh dengan hati.

Namun Sony tak berhenti di sana. Darah seniman mengalir deras di nadinya. Ia menulis lagu-lagu yang memadukan kata dan nada menjadi jembatan antara pesan dan perasaan: Hormat Kami Ibu Bapak Guru, Cinta di Pematang Basah, Mas Menteri Dengarkanlah, Negeri Tikus. Lagu-lagu itu adalah potret kehidupan kadang bening menampilkan keindahan, kadang buram menunjukkan kekelaman yang harus kita perbaiki. Ia bahkan membangun channel GURU GAUL, tempat ia berbagi suara, cerita, dan ide segar untuk dunia pendidikan.

Di sisi lain, pena dan kameranya sebagai jurnalis tak pernah lelah bekerja. Ia menulis di Garut Pos, Garut Express, Majalah Kandaga, dan menjadi penggagas TV 9 televisi pertama di Kota Intan. Baginya, berita bukan sekadar peristiwa, tetapi kisah tentang manusia di baliknya. Ia tahu bagaimana memotret wajah kehidupan dari sudut yang jarang dilihat orang.

Seakan tak cukup, ia pun mengabdikan diri pada seni bela diri Tadjimalela.Pencak silat, baginya, bukan sekadar gerakan tubuh, tetapi bahasa jiwa yang mengajarkan disiplin, kesabaran, dan hormat nilai-nilai yang ia bawa ke dunia pendidikan.

Dalam dunia organisasi, ia memimpin MKPS SMP untuk memayungi pengawas sekolah agar saling belajar dan berbagi. Sejak 2017, ia menjadi Ketua APSI Kabupaten Garut, memimpin para pengawas bukan hanya untuk memeriksa, tapi untuk menginspirasi. Ia menanamkan keyakinan bahwa pengawas harus menjadi agen perubahan, sahabat guru, dan pembuka jalan inovasi. Bagi saya pribadi, Sony adalah teman diskusi yang kritis namun hangat. Di warung kopi atau tengah perjalanan dinas, kami kerap membedah masalah pendidikan Garut dari hulu ke hilir. Ia selalu datang dengan data, kisah lapangan, dan mimpi besar menjadikan pendidikan Garut bermartabat.

Kini, status purna bhakti telah disematkan padanya. Namun siapa yang berani mengatakan ini akhir? Lagu-lagunya masih akan dinyanyikan, tulisannya masih akan dibaca, dan semangatnya masih akan mengalir ke hati-hati yang pernah ia sentuh. Ia akan tetap hadir di ruang kelas, di layar yutube, di halaman koran, di panggung seni, dan di arena pencak silat meski tanpa surat tugas yang membawanya pergi.

Purna bhakti hanyalah perubahan status, bukan akhir pengabdian. Sebab, bagi orang seperti Sony MS, hidup adalah serangkaian karya, dan karya adalah nafas itu sendiri. Selama ia masih bernafas, ia akan terus mencipta. Dan selama itu pula, namanya akan dikenang bukan hanya sebagai pengawas yang bekerja, tetapi sebagai manusia yang menghidupkan pendidikan. Sony MS, purna bhakti tak purna berkarya karena dedikasi tak mengenal kata pensiun, dan cinta pada pendidikan tak pernah meminta izin untuk berhenti. Semoga !