GARUT – Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Sekolah Dasar (SD) Kabupaten Garut tahun 2025 berlangsung meriah di Kampus STAI Persis Garut, Jalan Aruji Kartawinata, depan Lapangan Ciateul Ciawitali, Kecamatan Tarogong Kidul, pada Rabu (20/8/2025).
Acara secara resmi dibuka oleh Kepala Bidang SD sekaligus Plt. Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Suryana, S.Pd., M.M.Pd., yang menegaskan bahwa FTBI bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi menjadi wahana pelestarian jati diri bangsa melalui bahasa daerah.
“Bahasa ibu adalah akar kebudayaan. Ia menjadi identitas dan kekayaan yang harus kita jaga di tengah derasnya arus globalisasi. FTBI hadir untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa ibu sekaligus meneguhkan peran mereka sebagai pewaris dan penerus kebudayaan,” ujar Suryana.

Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara, termasuk guru dan orang tua yang membimbing anak-anak agar tidak hanya mahir berbahasa Indonesia dan bahasa asing, tetapi tetap bangga berbahasa daerah.
“Bangga berbahasa ibu bukan berarti menutup diri dari bahasa lain. Sebaliknya, dengan menguasai bahasa ibu, anak-anak memiliki pondasi kuat untuk menyerap ilmu, memperkaya wawasan, dan mengangkat martabat bangsa,” tambahnya.

Sebagai puncak rangkaian Revitalisasi Bahasa Daerah 2025, Dinas Pendidikan Kabupaten Garut menggelar FTBI kelima kalinya dengan peserta dari 42 kecamatan. Sebelum pelaksanaan lomba, Disdik Garut telah melakukan diseminasi revitalisasi bahasa daerah kepada guru SD di seluruh kecamatan, menghadirkan guru utama yang dibekali Balai Bahasa dan Seni Daerah Provinsi Jawa Barat sebagai narasumber.

FTBI menjadi media apresiasi murid secara berjenjang—dimulai dari komunitas belajar tingkat kecamatan, kabupaten/kota, hingga provinsi—sekaligus sarana memperkuat toleransi kebhinekaan di Indonesia.
Tahun ini, FTBI diikuti 528 peserta yang terbagi dalam tujuh mata lomba untuk kategori putra dan putri:
- Ngadongeng – 70 peserta
- Biantara – 69 peserta
- Maca sajak – 72 peserta
- Nembang pupuh – 76 peserta
- Maca jeung nulis aksara Sunda – 66 peserta
- Ngarang carita pondok – 67 peserta
- Ngabodor sorangan (borangan) – 71 peserta
Penyelenggaraan diawali dengan technical meeting untuk para pendamping lomba dan dibuka secara resmi di lapangan Kampus IAIP Garut.

Melalui FTBI 2025, Dinas Pendidikan Garut berharap lahir para pinunjul (juara) di setiap cabang lomba yang mampu mengharumkan nama Kabupaten Garut di tingkat Provinsi Jawa Barat. Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan terhadap bahasa dan sastra Sunda, yang kini kian berkurang di kalangan generasi muda.
“Generasi muda, dimulai dari sekolah dasar, diharapkan menjadi penutur aktif bahasa daerah. Mereka bukan hanya menjaga kelangsungan bahasa dan sastra Sunda, tetapi melakukannya dengan sukacita dan penuh kreativitas,” pungkas Suryana. ***Jajang Sukmana




































