GARUT — Sosok Jajang Supriatna, S.Pd., M.Pd. menjadi cerminan nyata perjalanan panjang penuh ketekunan dalam dunia pendidikan. Lahir di Tasikmalaya sekitar 59 tahun silam, Jajang tumbuh dari keluarga sederhana dengan nilai-nilai kerja keras yang kuat. Ayahnya yang bekerja sebagai pesuruh honorer di sebuah SMP pernah memanjatkan doa sederhana namun sarat makna: agar sang anak kelak “memegang kapur,” bukan sapu seperti dirinya. Doa itu pun menjadi kenyataan.
Karier Jajang dimulai pada tahun 1991 saat ia diangkat sebagai guru di wilayah Tasikmalaya Selatan. Empat tahun kemudian, tepatnya 1995, ia dimutasi ke SMPN 1 Samarang, Kabupaten Garut. Di sela tugasnya sebagai guru, ia terus berupaya meningkatkan kompetensi dengan menempuh pendidikan secara bertahap di Universitas Terbuka. Ia meraih D3 Pendidikan Matematika pada 1988, kemudian melanjutkan S1 yang diselesaikan bertepatan dengan peristiwa Serangan 11 September. Semangat “better late than never” dari almamaternya menjadi prinsip hidup yang terus ia pegang, hingga akhirnya berhasil menuntaskan pendidikan S3 di usia yang tidak lagi muda.
Dalam perjalanan kariernya, Jajang kerap merendah soal prestasi. Namun sejumlah capaian tetap tercatat. Ia pernah meraih juara pertama Guru Teladan tingkat Kabupaten pada 2001, dan di tahun yang sama menjadi juara pertama tingkat Provinsi Jawa Barat. Meski ia menyebut pencapaian itu penuh cerita unik, penghargaan tersebut menjadi bukti dedikasinya dalam dunia pendidikan.

Karier kepemimpinan dijalaninya saat dipercaya menjadi kepala sekolah dari tahun 2004 hingga 2016. Pada masa itu, ia mengakui tidak banyak prestasi spektakuler yang diraih, hingga akhirnya pada 2014 berhasil membawa sekolahnya meraih juara Sekolah Sehat tingkat Provinsi Jawa Barat. Keberhasilan tersebut lahir dari kolaborasi erat seluruh warga sekolah, dengan pendekatan kebersamaan yang ia ibaratkan seperti semangat para suporter sepak bola dalam membangun solidaritas.
Memasuki dunia pengawasan pendidikan sejak 2016, Jajang sempat mengalami masa adaptasi. Namun momentum hadir ketika program peningkatan kompetensi guru diluncurkan pasca Uji Kompetensi Guru (UKG) 2015 pada era Anies Baswedan. Ia kemudian mengikuti diklat dan dipercaya menjadi Instruktur Nasional Guru Pembelajar, dengan penugasan daring di wilayah Jawa Tengah.
Kemampuannya dalam menulis juga mulai berkembang. Pada 2018, ia mengikuti lomba penulisan best practice pengawas sekolah tingkat nasional dan berhasil menjadi finalis sekaligus meraih penghargaan favorit. Tahun berikutnya, ia kembali menjadi finalis dalam ajang serupa. Dari pengalaman tersebut, ia turut menghasilkan karya dalam bentuk buku bunga rampai bertajuk Success Story Pengawas Sekolah.
Di era transformasi pendidikan yang digagas Nadiem Makarim, Jajang aktif dalam Program Guru Penggerak. Ia dipercaya sebagai fasilitator di berbagai daerah, mulai dari Sukabumi hingga luar pulau seperti Kota Pagar Alam serta Kabupaten Ogan Komering Ulu dan Ogan Komering Ulu Selatan di Sumatera Selatan. Selain itu, ia juga mengemban tugas sebagai instruktur dalam program tersebut sejak angkatan ke-7.
Puncak perjalanan panjangnya ditandai dengan diterimanya Surat Keputusan sebagai Pengawas Ahli Utama, yang diraih hanya sekitar satu tahun sebelum memasuki masa purna tugas. Capaian ini menjadi simbol keteguhan dan konsistensi dalam mengabdi di dunia pendidikan.
Bagi Jajang Supriatna, perjalanan karier bukan semata tentang prestasi gemilang, melainkan tentang ketekunan, kebersamaan, dan kesediaan untuk terus belajar sepanjang hayat. Sebuah kisah yang membuktikan bahwa keberhasilan dapat diraih, meski dengan langkah yang perlahan namun pasti. (Jajang Sukmana)


































