“Dejavu” Penentuan 1 Syawal: Antara Perhitungan, Penglihatan, dan Kebijaksanaan Berpikir

0
154

Oleh: H. Ita Habibie, S.Pd.I., M.Pd

Setiap menjelang Idulfitri, umat Islam di Indonesia hampir selalu dihadapkan pada fenomena yang berulang: perbedaan penentuan 1 Syawal. Sebagian mengikuti metode hisab (perhitungan astronomi), sementara sebagian lainnya berpegang pada ru’yat (pengamatan hilal). Dalam dinamika tersebut, muncul sebuah sikap yang menarik untuk direnungkan, yang dapat kita sebut sebagai “dejavu”—sebuah jalan kebijaksanaan dalam memahami perbedaan dengan hati yang lapang dan pikiran yang jernih.

Hisab dan ru’yat pada hakikatnya adalah dua pendekatan dengan satu tujuan yang sama: menentukan awal bulan Syawal sebagai penanda berakhirnya Ramadan. Hisab merupakan pendekatan ilmiah yang menggunakan perhitungan matematis dan astronomi, sehingga mampu memberikan kepastian waktu jauh hari sebelumnya. Sementara itu, ru’yat menekankan pada pengamatan langsung terhadap hilal, baik dengan mata telanjang maupun bantuan teknologi, sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjalankan syariat. Keduanya memiliki landasan yang kuat, baik secara keilmuan maupun keagamaan.

Namun, ketika perbedaan itu hadir di ruang publik, tidak jarang masyarakat awam terjebak dalam kebingungan, bahkan memunculkan perdebatan yang kurang produktif. Pada titik inilah “dejavu” menjadi penting: sebuah cara berpikir yang tidak sekadar memilih metode, tetapi juga mengedepankan kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan.

Menariknya, di tengah perbedaan penentuan hari raya, ada satu hal yang hampir selalu sama: tradisi mudik. Jalanan dipenuhi kendaraan, kemacetan panjang menjadi pemandangan yang lazim. Orang-orang rela menempuh perjalanan berjam-jam, bahkan berhari-hari, demi satu tujuan: pulang. Kemacetan bukan sekadar persoalan lalu lintas, melainkan simbol kerinduan. Di dalamnya ada kesabaran, pengorbanan, dan harapan akan pertemuan yang hangat.

Ironisnya, kesabaran yang begitu besar saat menghadapi kemacetan, panas, dan hujan di perjalanan, terkadang tidak hadir ketika menyikapi perbedaan penentuan hari raya. Padahal, keduanya sama-sama membutuhkan kelapangan hati. Di sinilah “dejavu” mengingatkan kita untuk tetap tenang dan bijak, bahkan dalam perbedaan yang sensitif.

Setelah gema takbir berkumandang dan salat Idulfitri dilaksanakan, kita kerap menjumpai pemandangan sederhana namun penuh makna: kertas koran bekas atau alas seadanya yang berserakan di lapangan atau halaman masjid. Kertas-kertas itu digunakan sebagai alas ibadah, lalu ditinggalkan begitu saja. Fenomena ini menggambarkan kecenderungan manusia yang fokus pada momen puncak, tetapi kurang menjaga nilai setelahnya.

Demikian pula dalam perbedaan hisab dan ru’yat—kita sering kali sibuk memperdebatkan awal dan akhir, namun melupakan esensi Idulfitri itu sendiri: kembali kepada kesucian diri. Sekali lagi, “dejavu” mengajak kita untuk tidak berhenti pada simbol, tetapi melanjutkan pada makna.

Usai Hari Raya, masyarakat Indonesia memiliki tradisi khas: halal bihalal. Dalam momen ini, keluarga besar berkumpul, saling memaafkan, berjabat tangan, dan berpelukan. Hubungan yang sempat renggang pun kembali hangat. Di ruang inilah perbedaan menjadi tidak lagi penting. Tidak ada lagi pertanyaan siapa yang lebih dahulu merayakan Idulfitri. Yang ada hanyalah kehangatan, haru, dan kebersamaan.

Halal bihalal menjadi bukti nyata bahwa persatuan jauh lebih kuat daripada perbedaan. Inilah wujud konkret dari “dejavu”: memilih kebersamaan di atas ego.

Idulfitri juga identik dengan tradisi berbagi sebagai wujud kepedulian sosial. Banyak orang saling memberi rezeki, baik kepada keluarga, anak-anak, maupun kerabat. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas, tetapi simbol kasih sayang yang melampaui perbedaan. Dalam momen berbagi, tidak ada lagi pertanyaan: “mengikuti hisab atau ru’yat?” Yang ada hanyalah keinginan untuk saling membahagiakan.

“Dejavu” pada akhirnya bukan sekadar istilah, melainkan sikap batin yang melahirkan kemampuan menerima perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat. Ia mengajarkan bahwa hisab adalah ilmu, ru’yat adalah kehati-hatian, dan kebijaksanaan adalah jembatan di antara keduanya.

Dalam kehidupan yang semakin kompleks, kita tidak selalu harus merasa paling benar. Terkadang, yang jauh lebih penting adalah menjaga kebersamaan agar tercipta harmoni sosial tanpa mengabaikan nilai-nilai syariat Islam.

Pada akhirnya, perbedaan dalam penentuan 1 Syawal adalah sebuah keniscayaan. Namun, cara kita menyikapinya adalah pilihan: apakah akan memperlebar jurang perbedaan, atau justru membangun jembatan persatuan.

Melalui kemacetan mudik yang penuh kesabaran, kertas koran bekas yang mengingatkan pada makna, tradisi halal bihalal yang menyatukan, serta kebiasaan berbagi sebagai wujud kasih sayang—kita diajak memahami bahwa Idulfitri bukan semata tentang kapan dirayakan, melainkan bagaimana ia dimaknai.

Di situlah “dejavu” menemukan tempatnya: bukan pada perbedaan yang diperdebatkan, tetapi pada kebijaksanaan yang dirayakan. (*)

Penulis adalah Ketua MGMP PAI SMP Kabupaten Garut, Wakil Ketua AGPAI Garut, Wakil Sekertaris PGRI Garut Kota, Guru Penggerak Angkatan Pertama