Meriahkan HGN 2026, DKG dan Seniman Garut Gelar Pasanggiri Nembang Pupuh dan Rampak Sekar untuk Guru

0
16

GARUT, Senin (19/10/2026) – Memeriahkan Hari Guru Nasional (HGN) 2026 sekaligus memperkuat pelestarian seni tradisi Sunda, Dewan Kesenian Garut (DKG) melalui Komite Tradisi berkolaborasi dengan para alumni Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Komisariat Daerah Garut serta para seniman yang tergabung dalam Pusat Olah Seni Sunda Pasundan (POSS Pas), akan menggelar Pasanggiri Nembang Pupuh dan Rampak Sekar antarguru SD/MI dan SMP/MTs se-Kabupaten Garut.

Kegiatan yang mendapat dukungan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut bersama PGRI dan SEGI, serta Kantor Kementerian Agama Kabupaten Garut bersama PGM tersebut, direncanakan berlangsung selama dua hari, Sabtu–Minggu, 21–22 November 2026, bertempat di Amphitheater “Swiss van Java”, Ciplaz–Ramayana Garut.

Ketua Panitia yang juga Ketua POSS Pas, Irno Sukarno, menuturkan bahwa pasanggiri ini merupakan wujud kepedulian para seniman dan alumni ISBI Bandung yang berdomisili di Garut terhadap keberlangsungan seni tradisi Sunda, khususnya seni suara berupa kawih. Melalui keterlibatan para guru, kegiatan ini diharapkan mampu membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya leluhur.

Irno Sukarno, Ketua Pusat Olah Seni Sunda (POSS) Pasundan sekaligus Ketua Pelaksana “Pasanggiri Nembang Pupuh & Rampak Sekar” antar Guru SD-SMP sederajat.

Menurut Irno, guru memiliki posisi strategis sebagai pendidik sekaligus penggerak dan agen pelestarian budaya. Karena itu, penguatan kecintaan terhadap seni tradisional perlu dimulai dari para pendidik agar dapat diteruskan kepada peserta didik melalui pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, maupun aktivitas seni di lingkungan sekolah.

“Kami berharap kegiatan ini bukan sekadar lomba, tetapi menjadi langkah awal agar anak-anak Garut kembali mengenal dan menjiwai kawih Sunda. Bukan hanya lagunya, melainkan juga nilai atikan, perjuangan, patriotisme, dan persatuan yang terkandung di dalamnya,” ujar Irno.

Ia menjelaskan, pasanggiri ini merupakan pengembangan dari kegiatan serupa yang sebelumnya telah dilaksanakan dua tahun berturut-turut dengan peserta para murid melalui Pasanggiri Rampak Sekar dan Anggana Sekar. Pada penyelenggaraan kali ini, para guru menjadi sasaran utama sebagai bentuk penguatan dari sisi pendidik, pembina, dan pelatih seni di sekolah.

Irno menambahkan, gaung pasanggiri Rampak Sekar sudah cukup lama tidak terdengar di Kabupaten Garut, bahkan di Jawa Barat. Sementara itu, anak-anak saat ini dinilai semakin akrab dengan lagu-lagu modern dibandingkan kawih Sunda yang sarat nilai budaya dan pendidikan karakter.

Kegiatan “Pasanggiri Rampak Sekar” yang pernah dilaksanakan antarpelajar.

Di sisi lain, pembinaan seni Pupuh bagi anak-anak telah dilaksanakan secara berjenjang oleh Badan Bahasa, mulai dari tingkat rayon hingga nasional. Oleh karena itu, menurut Irno, penguatan kompetensi guru sebagai pendidik dan pelatih seni menjadi bagian penting untuk memperluas pembinaan tersebut.

“Penguatan diperlukan pada sisi guru, pendidik, dan pelatihnya. Dengan demikian, diharapkan pasanggiri untuk tingkat peserta didik pada masa mendatang dapat berlangsung lebih semarak dan menjangkau lebih banyak sekolah,” ungkapnya.

Irno pun mengapresiasi sekolah-sekolah yang bersedia mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia berharap setiap sekolah dapat mengirimkan perwakilannya, baik untuk kategori Nembang Pupuh maupun Rampak Sekar.

“Pembiayaan kegiatan ini murni bersumber dari uang pendaftaran peserta. Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung. Semoga segala kebaikan ini dibalas Allah SWT dengan pahala yang berlipat,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Irno menegaskan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Menurutnya, generasi muda perlu dibiasakan berinteraksi dengan karya seni tradisional agar tumbuh rasa cinta sekaligus kebanggaan terhadap identitas budaya bangsa.

“Kegiatan ini selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Generasi muda harus dibiasakan berinteraksi dengan karya seni tradisional agar tumbuh kecintaan dan kebanggaan terhadap identitas budaya sendiri. Dengan kolaborasi pemerintah, komunitas seni, lembaga pendidikan, dan masyarakat, kita bisa menjaga kesinambungan seni budaya agar tetap hidup, berkembang, dan relevan dengan zaman,” tutur Irno, yang juga aktif mendorong pembentukan Forum Dewan Kebudayaan dan/atau Kesenian se-Jawa Barat.

Dukungan terhadap kegiatan ini semakin kuat dengan telah diterbitkannya surat rekomendasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Garut dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Garut. Melalui dukungan tersebut, sekolah-sekolah di bawah naungan kedua instansi, baik SD/MI maupun SMP/MTs, diharapkan dapat berpartisipasi dengan mengirimkan peserta terbaiknya.

Selain itu, PGRI dan PGM diharapkan dapat memfasilitasi para guru untuk membentuk kelompok Rampak Sekar sehingga partisipasi tidak hanya bersifat perorangan, tetapi juga memperkuat kebersamaan dan kolaborasi antarguru dalam menghidupkan seni suara Sunda.

Para pemenang pasanggiri nantinya diharapkan dapat memperoleh kesempatan tampil dalam rangkaian peringatan Hari Guru Nasional tingkat Kabupaten Garut. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang apresiasi bagi para guru yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian seni dan budaya daerah.

Dengan semangat kebersamaan, Pasanggiri Nembang Pupuh dan Rampak Sekar diharapkan menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antarguru, meningkatkan apresiasi terhadap seni tradisional, serta menanamkan nilai-nilai luhur budaya Sunda kepada generasi penerus.

Melalui suara pupuh dan harmoni rampak sekar, para guru diharapkan tidak hanya mewariskan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap budaya sendiri agar tetap hidup dan lestari di tengah perkembangan zaman. (*)