Murid SD Yos Sudarso Raih Nilai Tertinggi Perorangan LCT SD Kabupaten Garut 2026

0
50

GARUT — Prestasi membanggakan ditorehkan Moses Alexander Megantara, murid SD Yos Sudarso Garut, dengan meraih nilai tertinggi secara perorangan pada babak penyisihan gelombang pertama Lomba Cepat Tepat (LCT) Sekolah Dasar (SD) Kabupaten Garut Tahun 2026.

Dalam kompetisi yang dilaksanakan secara daring (online) pada Rabu (28/10/2026), Moses berhasil memperoleh nilai 96,04. Pelaksanaan babak penyisihan berlangsung di masing-masing satuan pendidikan, sementara peserta dari SD Yos Sudarso Garut mengikuti perlombaan di ruang laboratorium komputer sekolah.

Capaian tersebut diketahui berdasarkan data perolehan nilai perorangan yang tercantum dalam Dashboard CBT setelah pelaksanaan babak penyisihan tahap pertama di tiga wilayah Kabupaten Garut. Hasil perolehan nilai tersebut kemudian ditetapkan secara resmi oleh panitia pada Jumat (30/10/2026).

Kepala SD Yos Sudarso Garut, Septian Nugroho, S.Psi., melalui sambungan telepon, Sabtu (31/10/2026), menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas prestasi yang diraih salah seorang muridnya tersebut.

“Kami bersyukur atas capaian yang diraih oleh salah satu murid kami. Semoga prestasi ini menjadi motivasi bagi seluruh murid untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan meraih prestasi yang lebih baik pada masa mendatang,” ujarnya.

Meski berhasil mencatatkan nilai tertinggi secara perorangan, Septian menjelaskan bahwa berdasarkan akumulasi nilai seluruh anggota tim, SD Yos Sudarso Garut menempati peringkat kedua di tingkat Kecamatan Garut Kota.

Menurutnya, hasil tersebut menjadi bahan evaluasi bagi sekolah, terutama dalam mempersiapkan komposisi peserta dan meningkatkan pembinaan menjelang kompetisi berikutnya. Sebab, keberhasilan tim tidak hanya ditentukan oleh kemampuan satu peserta, tetapi juga kontribusi seluruh anggota dalam mengumpulkan nilai.

Ia mengungkapkan, masih terdapat anggota tim yang memperoleh nilai relatif rendah, yakni 48,02. Peserta tersebut diperkirakan masih duduk di kelas IV. Kondisi ini menjadi salah satu catatan penting bagi sekolah dalam mempertimbangkan kesiapan dan kemampuan peserta yang akan diturunkan pada kompetisi selanjutnya.

“Secara perorangan, Moses mampu meraih nilai tertinggi. Namun, dari hasil akumulasi nilai seluruh anggota tim, kami berada di posisi kedua. Ini tentu menjadi bahan evaluasi bagi sekolah agar ke depan persiapan dan pembinaan peserta bisa lebih optimal,” jelasnya.

Septian menilai, menghadapi kompetisi LCT diperlukan persiapan yang matang, baik dari sisi penguasaan materi, kemampuan berpikir cepat, maupun pemahaman terhadap karakteristik soal yang diujikan. Pemilihan peserta juga perlu mempertimbangkan kemampuan akademik dan kesiapan masing-masing murid agar setiap anggota tim dapat memberikan kontribusi maksimal.

Ia berharap, capaian Moses dapat menjadi pemacu semangat bagi murid lainnya untuk terus meningkatkan kemampuan, khususnya dalam bidang literasi dan numerasi. Selain itu, pengalaman mengikuti LCT tahun ini diharapkan menjadi pembelajaran berharga bagi sekolah dalam memperkuat pembinaan serta mempersiapkan peserta didik menghadapi kompetisi berikutnya.

“Intinya, setiap perlombaan harus dipersiapkan secara serius. Kami berharap prestasi yang diraih Moses dapat menginspirasi murid lainnya untuk terus belajar dan berprestasi, sekaligus menjadi motivasi bagi sekolah untuk melakukan pembinaan yang lebih baik,” pungkasnya. (Jajang Sukmana)