Kemarau Panjang di Cigedug, Salat Istisqa Menggema, Pesan Jaga Hutan Menguat

0
40

CIGEDUG, GARUT — Hampir lima bulan tanpa hujan, warga di sejumlah kampung di Desa Cintanagara, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, menghadapi persoalan serius terkait ketersediaan air bersih. Kondisi tersebut membuat warga harus mengandalkan bantuan pasokan air dari berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun lembaga nonpemerintah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebagai ikhtiar spiritual menghadapi kemarau panjang, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Cintanagara menggelar Salat Istisqa di Lapangan Kampung Pabrik, Desa Cintanagara, Minggu (25/10/2026). Sekitar seribuan warga Desa Cintanagara dan sekitarnya memadati lapangan sejak pagi hari untuk bersama-sama memohon kepada Allah SWT agar segera diturunkan hujan yang membawa keberkahan dan kemaslahatan bagi kehidupan.

Sejumlah unsur pemerintahan dan tokoh masyarakat turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kepala Desa Cintanagara, Camat Cigedug, Danposramil, perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA), Puskesmas, serta para pimpinan pondok pesantren. Salat Istisqa dipimpin oleh pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Juariyah yang bertindak sebagai imam.

Kekeringan akibat kemarau panjang dirasakan warga di sejumlah kampung di Desa Cintanagara, meliputi Kampung Siderang Pasir, Siderang Legok, Samayuda, Jolok, Jolok Tonggoh, Jolok Lebak, Campaka, Sukamulya, Cibelendung, Panyingkiran, Cibodas, dan Sukaresmi. Bagi warga di wilayah tersebut, ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan mendesak yang memerlukan perhatian dan penanganan bersama.

Dalam khutbahnya, Ketua MUI Desa Cintanagara, K.H. Engkab Kaukabudin, mengingatkan bahwa Salat Istisqa tidak sekadar menjadi ikhtiar memohon turunnya hujan, tetapi juga momentum untuk melakukan introspeksi diri dan bertobat kepada Allah SWT. Menurutnya, manusia perlu menyadari bahwa berbagai kerusakan yang terjadi di muka bumi tidak terlepas dari perilaku manusia yang mengabaikan amanah untuk menjaga lingkungan.

Ia mengajak masyarakat menjadikan kemarau panjang sebagai pengingat untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbaiki perilaku, serta meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian alam. Kerusakan di darat dan laut, sebagaimana diingatkan dalam ajaran agama, hendaknya menjadi bahan renungan agar manusia kembali ke jalan yang diridai-Nya.

“Semoga hujan segera Allah turunkan sebagai hujan barokah yang memberikan manfaat bagi kehidupan kita semua, bukan hujan azab yang merupakan hukuman atas dosa-dosa dan kerusakan yang telah manusia perbuat di muka bumi,” ujar K.H. Engkab Kaukabudin dalam khutbahnya.

Sementara itu, Camat Cigedug, Ma’mun Gunawan, S.Ag., A.Kp., mengajak masyarakat untuk bersama-sama memulihkan kondisi gunung dan hutan yang kini menjadi lahan kritis. Menurutnya, keberadaan kawasan hutan dan tutupan vegetasi memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta mendukung keberlangsungan sumber-sumber air yang dibutuhkan masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa Kecamatan Cigedug merupakan wilayah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana tanah longsor. Karena itu, upaya menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bersama untuk mengurangi risiko bencana sekaligus mempertahankan ketersediaan air bagi kehidupan warga.

“Semoga kemarau panjang ini menyadarkan kita untuk menjaga hutan, gunung, pohon, dan kelestarian alam agar air tidak hilang dari kehidupan kita. Jangan sampai segelintir orang merusak hutan, tetapi seluruh warga Kecamatan Cigedug yang harus menanggung kerugiannya,” tegas Ma’mun.

Pelaksanaan Salat Istisqa tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperkuat ikhtiar spiritual sekaligus menumbuhkan kesadaran ekologis. Harapan akan turunnya hujan perlu berjalan beriringan dengan langkah nyata menjaga hutan, memulihkan lahan kritis, dan melindungi sumber-sumber air.

Di tengah kemarau yang berkepanjangan, warga Cintanagara tidak hanya menanti turunnya hujan, tetapi juga berharap tumbuhnya kepedulian bersama agar kelestarian alam tetap terjaga dan kebutuhan air bersih dapat terpenuhi secara berkelanjutan. (*)