Garut Jadi Percontohan SMP se-Indonesia Dalam Pengembangan Asesmen Non-akademik

0
245

GARUT – Patut dibanggakan, Kabupaten Garut ditetapkan sebagai salah satu daerah percontohan dalam pengembangan asesmen non-akademik tingkat SMP se-Indonesia. Penetapan ini dilakukan oleh Pusat Asesmen Pendidikan, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Selain Garut, daerah lain yang menjadi percontohan adalah Kota Banda Aceh, Kabupaten Gunungkidul, Kota Balikpapan, serta Kabupaten Lombok Timur.

Dari 428 SMP yang ada di Kabupaten Garut, hanya empat sekolah yang terpilih sebagai lokasi uji coba, yakni SMPN 1 Garut, SMPN 2 Garut, SMPN 1 Tarogong Kaler, dan SMP Plus Qurrota Ayun Samarang. Untuk memastikan pelaksanaan, tim pusat menggelar uji coba asesmen non-akademik berbasis komputer kepada 20 siswa kelas VIII pada Rabu (1/10/2025).

Dr. Idwin Irma Krisna

Ketua Tim Asesmen Non-Akademik Pusat Asesmen Pendidikan, Dr. Idwin Irma Krisna, menjelaskan bahwa uji coba ini masih dalam tahap pengembangan model. Fokus utama asesmen adalah menggali kondisi psikologis siswa, seperti hambatan yang dialami, daya tahan dalam menghadapi masalah, serta pemahaman terhadap dirinya sendiri.

“Sebenarnya ini masih uji coba model, belum bisa langsung dijadikan instrumen resmi. Kami ingin melihat apakah model ini sudah mampu mengukur dengan tepat atau masih ada yang perlu diperbaiki. Dari hasil uji coba di Garut maupun daerah lain, nanti akan terlihat bagaimana kondisi siswa dan apa yang perlu ditingkatkan,” ungkap Idwin.

Ia menambahkan, asesmen ini menekankan pentingnya kejujuran siswa dalam menjawab soal yang berkaitan dengan karakter, ketahanan, serta respons ketika menghadapi permasalahan. Hasil uji coba akan dianalisis bersama dengan daerah lain, sehingga tidak hanya menggambarkan profil siswa Garut, melainkan potret umum pendidikan di Indonesia.

Kegiatan ini turut didampingi oleh Kasi Kurikulum Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Dr. Ajang Rusmana, M.Pd., bersama kepala sekolah dan perwakilan sekolah yang menjadi lokasi uji coba.

Dengan ditetapkannya Garut sebagai daerah percontohan, diharapkan model asesmen non-akademik ini kelak dapat menjadi rujukan nasional untuk melengkapi asesmen akademik, sehingga pendidikan di Indonesia tidak hanya mengukur aspek pengetahuan, tetapi juga ketahanan diri dan karakter peserta didik. ***Jajang Sukmana