Sejak Akhir 2023, Pembiasaan Positif OSIS Dorong Murid Gemar Membaca, Bersyukur, dan Belajar Menjadi Pemimpin
GARUT – SMP Negeri 2 Samarang, Kabupaten Garut, terus mengembangkan berbagai pembiasaan positif untuk memperkuat pendidikan karakter, meningkatkan budaya literasi, serta menumbuhkan jiwa kepemimpinan murid. Salah satu program unggulan yang rutin dilaksanakan sejak akhir 2023 adalah Bucama (Rabu Baca Buku Bersama). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembiasaan di lingkungan sekolah yang dilaksanakan setelah salat Duha berjamaah, sebagai upaya menanamkan kecintaan terhadap buku, membangun kebiasaan membaca, serta membentuk karakter murid yang religius, berwawasan luas, dan berbudaya literasi.
Sekolah yang berlokasi di Jalan Raya Kamojang Ciparay, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, ini terus berupaya menanamkan kebiasaan positif melalui berbagai kegiatan pembiasaan di lingkungan sekolah. Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada pengembangan pengetahuan dan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga pada pembentukan karakter, penanaman nilai-nilai kebaikan, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pembina OSIS SMPN 2 Samarang, Nia Kurniasih, S.Pd., saat ditemui di ruang tamu sekolah, Rabu (21/10/2026), menjelaskan bahwa Bucama merupakan salah satu kegiatan rutin yang dirancang untuk membiasakan murid membaca, memahami isi bacaan, sekaligus berani menyampaikan kembali informasi yang diperoleh dari buku.
Dalam pelaksanaannya, murid diberikan waktu sekitar 10 menit untuk membaca buku nonpelajaran, baik fiksi maupun nonfiksi. Setelah itu, beberapa murid mendapat kesempatan untuk menceritakan kembali isi buku yang telah dibacanya di hadapan teman-teman.
Menariknya, murid tidak hanya diminta menceritakan isi bacaan, tetapi juga menyebutkan judul buku dan nama pengarangnya. Kebiasaan ini diharapkan dapat memperluas wawasan murid mengenai buku dan penulis, sekaligus melatih kemampuan memahami bacaan, mengingat informasi, dan berbicara di depan umum.

“Tujuan utama kegiatan literasi ini adalah membiasakan anak membaca dan memahami bacaannya. Setelah membaca, anak-anak juga diberi kesempatan untuk menceritakan kembali isi buku yang dibaca,” ungkap Nia.
Untuk membuat kegiatan lebih menarik, sesi literasi juga diselingi permainan edukatif yang berkaitan dengan materi, terutama Bahasa Indonesia. Dengan cara ini, kegiatan membaca diharapkan tidak menjadi rutinitas yang membosankan, melainkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan mendorong murid semakin tertarik terhadap buku.
Menurut Nia, perubahan positif mulai terlihat dari meningkatnya pengetahuan murid mengenai judul buku dan nama pengarang. Murid juga memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keberanian, kemampuan berkomunikasi, serta pemahaman terhadap isi bacaan.
Selain Bucama, sekolah menerapkan pembiasaan positif lainnya sepanjang pekan. Pada Selasa, murid mengikuti kegiatan salat Dhuha. Rabu diisi dengan literasi melalui Bucama, sedangkan Kamis dilaksanakan senam bersama untuk menjaga kebugaran jasmani. Adapun Jumat diisi dengan kegiatan dzikir dan membaca Al-Qur’an.

Khusus kegiatan keagamaan, sekolah berupaya menanamkan rasa syukur, memperkuat kedekatan spiritual, serta membiasakan murid menjalankan aktivitas positif secara konsisten. Kegiatan tidak hanya dipimpin oleh guru, tetapi juga memberikan kesempatan kepada murid untuk mengambil peran, seperti memimpin doa, membaca Al-Qur’an, atau memandu kegiatan Dhuha secara bergiliran.
Dalam kegiatan tertentu, guru agama juga memberikan ceramah untuk memperkaya pemahaman keagamaan murid. Keterlibatan murid sebagai pemimpin kegiatan menjadi bagian dari proses pembelajaran tanggung jawab, keberanian, dan kemandirian.
Nia menambahkan, pembentukan karakter juga dilakukan melalui pendekatan antarteman. Ketika muncul persoalan di kalangan murid, sekolah berupaya membuka ruang berbagi dan berdiskusi agar mereka belajar memahami masalah, mendengarkan pendapat orang lain, serta mencari solusi bersama.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi sarana pembelajaran kepemimpinan. Murid didorong tidak selalu bergantung pada guru dalam menghadapi persoalan sederhana, tetapi belajar berdialog, bekerja sama, dan membangun sikap saling menghargai.
Ke depan, kegiatan OSIS diharapkan dapat terus dikembangkan melalui inovasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Dengan demikian, program pembiasaan yang telah berjalan tidak berhenti sebagai kegiatan rutin, tetapi berkembang menjadi ruang pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan murid dan tantangan zaman.
Sementara itu, Kepala SMPN 2 Samarang, Evy Sutisna, S.Pd., M.M., menambahkan bahwa upaya membentuk karakter dan menumbuhkan kepedulian sosial murid juga diwujudkan melalui kegiatan khitanan massal yang rutin dilaksanakan serta pembiasaan berinfak.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter yang mengajarkan murid tentang kepedulian terhadap sesama, semangat berbagi, dan pentingnya membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Melalui pembiasaan tersebut, sekolah berupaya menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan agar tidak hanya dipahami sebagai materi pembelajaran, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” tandasnya. (Jajang Sukmana)















































