
Gedung Sekolah Pertama dari Sampah Plastik Bernilai Rendah
GARUT — Sampah plastik yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan, ternyata dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai guna. Di SDN 3 Sukanegla, Jalan Margawati, Kelurahan Sukanegla, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, sampah plastik disulap menjadi material bangunan untuk fasilitas pendidikan.
Dua ruang kelas dan dua toilet di sekolah tersebut dibangun menggunakan material berbahan dasar sampah plastik. Fasilitas bantuan Yayasan Bakti Barito itu secara resmi diresmikan Sekretaris Daerah Kabupaten Garut Nurdin Yana bersama Direktur Eksekutif Yayasan Bakti Barito Fifi Pangestu, Rabu (30/9/2026). Peresmian turut dihadiri Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Kwok Fook Seng.
Kepala SDN 3 Sukanegla, Fitri Firdaus, S.Pd., mengatakan kehadiran tambahan ruang kelas tersebut menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana sekolah, terutama seiring bertambahnya jumlah peserta didik.
Saat ditemui di ruang kerjanya pada Kamis (1/10/2026), Fitri menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Yayasan Bakti Barito serta seluruh pihak yang telah memberikan perhatian dan dukungan kepada sekolah.
Menurutnya, dua ruang kelas baru tersebut akan memberikan ruang belajar yang lebih memadai dan nyaman bagi peserta didik. “Alhamdulillah, dari program pendampingan Sekolah Adiwiyata ini akhirnya kami mendapatkan bantuan untuk pembangunan ruang kelas dan toilet. Kami sangat berterima kasih kepada Yayasan Bakti Barito dan semua pihak yang telah mendukung,” ujar Fitri.
Keterlibatan SDN 3 Sukanegla dalam program tersebut bermula dari keikutsertaan sekolah dalam program pendampingan Sekolah Adiwiyata bersama Yayasan Bakti Barito. Melalui program itu, sekolah mendapatkan pendampingan mengenai pengelolaan sampah sekaligus penguatan kepedulian terhadap lingkungan.
Dari proses tersebut, kepedulian terhadap sampah kemudian tidak berhenti pada kegiatan memilah dan mengelola limbah. Sampah plastik yang terkumpul justru dimanfaatkan lebih jauh sebagai bahan dasar material bangunan.
Menariknya, pembangunan dua ruang kelas dan dua toilet tersebut memanfaatkan sekitar 18 ton sampah plastik. Material yang sebelumnya dipandang bernilai rendah itu diolah sehingga dapat digunakan sebagai bagian dari bangunan fasilitas pendidikan.
Bagi Fitri, pemanfaatan sampah plastik sebagai material bangunan memberikan pelajaran nyata kepada peserta didik. Anak-anak dapat melihat secara langsung bahwa sampah tidak selalu harus berakhir sebagai limbah, tetapi dapat memiliki nilai guna apabila dikelola dengan tepat.
“Harapannya melalui bangunan berbahan sampah plastik ini, tumbuh kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan pada anak-anak. Mereka bisa melihat langsung bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” katanya.
Selain menjadi bagian dari upaya pengelolaan sampah, inovasi tersebut juga diarahkan untuk menghadirkan fasilitas pendidikan dengan biaya produksi material yang diupayakan setara dengan penggunaan bahan bangunan konvensional.
Dengan demikian, pemanfaatan sampah plastik tidak hanya menawarkan alternatif dalam pengelolaan limbah, tetapi sekaligus menjawab kebutuhan nyata sekolah terhadap ruang belajar dan fasilitas sanitasi.
Bagi SDN 3 Sukanegla, dua ruang kelas dan dua toilet tersebut bukan sekadar tambahan bangunan. Kehadirannya menjadi contoh bagaimana kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan pendidikan. (Jajang Sukmana)




































