GARUT – Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri masih menjadi pilihan utama masyarakat, contohnya di Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut. Berdasarkan data Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang dihimpun pada 21 Oktober 2026, jumlah peserta didik di delapan SMP negeri mencapai 7.857 orang. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan delapan SMP swasta yang tercatat memiliki 718 peserta didik.
Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah peserta didik SMP negeri dan swasta di Garut Kota mencapai 8.575 orang. Dari total tersebut, sekitar 91,6 persen tercatat bersekolah di SMP negeri, sedangkan 8,4 persen lainnya berada di SMP swasta.
Di antara SMP negeri, SMP Negeri 1 Garut menempati posisi teratas dengan 1.485 peserta didik. Disusul SMP Negeri 2 Garut sebanyak 1.449 peserta didik, SMP Negeri 4 Garut sebanyak 1.251 orang, SMP Negeri 3 Garut sebanyak 1.172 orang, SMP Negeri 6 Garut sebanyak 1.110 orang, dan SMP Negeri 5 Garut sebanyak 904 orang.
Sementara itu, SMP Negeri 8 Garut tercatat memiliki 278 peserta didik, sedangkan SMP Negeri 7 Garut sebanyak 208 orang. Dengan demikian, enam dari delapan SMP negeri dalam daftar tersebut memiliki jumlah peserta didik di atas 900 orang.
Kondisi berbeda terlihat pada kelompok SMP swasta. SMP Islam Atturmudziyyah menjadi sekolah swasta dengan jumlah peserta didik terbanyak, yakni 218 orang. Berikutnya, SMP Yos Sudarso mencatat 113 peserta didik, SMP Daya Susila 110 orang, SMP Pemuda Garut 82 orang, SMP Pasundan 1 Garut 69 orang, SMP Pasundan 2 Garut 63 orang, SMP Muhammadiyah Garut 53 orang, serta SMPS Islam Terpadu Assalam sebanyak 10 orang.

Perbandingan tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan jumlah peserta didik yang cukup besar antara kelompok SMP negeri dan swasta. Secara keseluruhan, delapan SMP negeri menampung peserta didik sekitar sebelas kali lipat dibandingkan delapan SMP swasta dalam daftar yang sama.
Besarnya jumlah peserta didik di sekolah negeri dapat menjadi gambaran kuatnya pilihan masyarakat terhadap lembaga pendidikan tersebut. Namun, data jumlah peserta didik saja belum cukup untuk memastikan alasan orang tua memilih sekolah negeri dibandingkan swasta. Faktor biaya pendidikan, lokasi, daya tampung, fasilitas, mutu pembelajaran, prestasi, hingga pertimbangan keluarga dapat turut memengaruhi keputusan tersebut.
Data Dapodik ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara pendidikan, baik negeri maupun swasta, untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan. Sekolah perlu memperkuat mutu pembelajaran, pembentukan karakter, prestasi peserta didik, serta lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Bagi sekolah swasta, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan daya saing melalui program unggulan dan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Adapun sekolah negeri perlu terus menjaga kualitas pembelajaran seiring dengan besarnya jumlah peserta didik yang dilayani.
Dengan demikian, peta jumlah peserta didik SMP di Garut Kota tidak hanya menggambarkan perbandingan statistik antarsekolah, tetapi juga menjadi bahan refleksi mengenai pilihan pendidikan masyarakat dan upaya pemerataan mutu pendidikan di Kabupaten Garut. (*)















































