GARUT, Selasa (28/9/2026) — Ada perjalanan panjang yang tidak selalu dihiasi sorotan, tetapi meninggalkan jejak mendalam bagi dunia pendidikan. Salah satunya adalah kisah pengabdian Eding, S.Pd., putra Garut yang selama lebih dari tiga dekade mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan, khususnya di wilayah Bungbulang.
Lahir di Garut pada 9 September 1966, Eding tumbuh dengan semangat untuk terus belajar. Perjalanan pendidikannya dimulai dari bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Ia menyelesaikan pendidikan SD pada 1981, kemudian SMP Bungbulang pada 1984 dan SPG Negeri Garut pada 1987.
Semangat meningkatkan kompetensi membawanya melanjutkan pendidikan ke D-2 IKIP Bandung—yang kini menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)—dan lulus pada 1989. Perjalanan akademiknya belum berhenti. Pada 2007, Eding berhasil menyelesaikan pendidikan S-1 di STKIP Garut, yang kini menjadi Institut Pendidikan Indonesia (IPI).

Bekal pendidikan tersebut kemudian mengantarkannya memasuki dunia pengabdian sebagai seorang guru. Pada 1 Maret 1991, Eding diangkat sebagai guru SMP mata pelajaran Bahasa Sunda di SMP Negeri Bungbulang, yang kini dikenal sebagai SMPN 1 Bungbulang.
Di sekolah itulah sebagian besar perjalanan profesional Eding berlangsung. Selama lebih dari 31 tahun menjadi guru, ia tidak hanya mengajarkan Bahasa Sunda sebagai mata pelajaran, tetapi turut menjadi bagian dari perjalanan tumbuh dan berkembangnya generasi muda di Bungbulang.
Bagi seorang guru, waktu bukan sekadar hitungan tahun. Setiap tahun menghadirkan wajah-wajah baru, cerita baru, tantangan baru, sekaligus kenangan yang terus tersimpan. Dari ruang kelas, Eding menyaksikan para siswanya tumbuh dan melanjutkan perjalanan masing-masing.

Setelah lebih dari tiga dekade berdiri di depan kelas, pada 4 April 2022 Eding mendapat amanah baru sebagai pengawas sekolah. Peran tersebut menjadi babak berikutnya dalam pengabdiannya. Jika sebelumnya ia berhadapan langsung dengan siswa di ruang kelas, sebagai pengawas ia memiliki tanggung jawab yang lebih luas dalam mendampingi dan mengawal pelaksanaan pendidikan di sekolah.
Kini, perjalanan panjang itu mendekati penghujung masa tugas. Eding akan memasuki masa purna tugas dengan TMT 1 Oktober 2026. Sebuah titik yang bukan sekadar akhir dari karier sebagai aparatur sipil negara, melainkan penanda perjalanan panjang seorang pendidik yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk pendidikan.

Di balik perjalanan pengabdiannya, keluarga menjadi bagian penting yang turut menopang kehidupannya. Eding bersama istrinya, Wawat Karwati, yang lahir di Garut pada 24 Februari 1969, dikaruniai dua anak. Putra mereka, Resta Cahya Nugraha, lahir 4 Maret 1995 dan kini mengikuti jejak orang tuanya di dunia pendidikan sebagai guru di SMA Ciranjang, Cianjur.
Sementara putrinya, Ai Elpa Dwiputri, lahir 8 Juli 2001 dan kini mengabdi sebagai PNS di Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat.
Menariknya, jejak pengabdian di bidang pendidikan dan pelayanan publik itu seakan berlanjut dalam keluarganya. Apa yang selama puluhan tahun dijalani Eding sebagai guru dan pengawas sekolah, kini menjadi bagian dari cerita generasi berikutnya.

Dari Bungbulang, Eding telah melewati perjalanan panjang: dari seorang guru Bahasa Sunda yang setiap hari berdiri di depan kelas, hingga menjadi pengawas sekolah yang mendampingi satuan pendidikan. Tiga puluh lima tahun lebih pengabdian tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang hadir, membersamai, dan meninggalkan jejak bagi generasi.
Kini ketika masa purna tugas semakin dekat, mungkin tidak semua nama siswa yang pernah diajarnya masih ia ingat. Namun, bagi seorang pendidik, ukuran keberhasilan bukan semata berapa banyak nama yang dapat dikenang, melainkan seberapa banyak kehidupan yang pernah disentuh melalui pengabdian.
Dan Eding telah memilih jalan itu—mengabdi, mendampingi, lalu menyerahkan estafet pendidikan kepada generasi berikutnya. (Jajang Sukmana)





































