GARUT, Senin (13/4/2026) — Rapor pendidikan di Kabupaten Garut tahun 2026 menunjukkan tren penurunan pada sejumlah indikator prioritas, khususnya di jenjang sekolah dasar (SD). Data yang bersumber dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkapkan bahwa capaian literasi, numerasi, hingga iklim satuan pendidikan mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024.
Pada jenjang SD, indikator kemampuan literasi tercatat sebesar 65,64 persen, turun 6,78 poin dari tahun sebelumnya yang mencapai 72,42 persen. Jika dirinci, SD negeri mencatat 65,37 persen (turun 6,78 poin), sementara SD swasta berada di angka 69,29 persen (turun 6,72 poin).
Penurunan paling tajam terjadi pada indikator kemampuan numerasi. Secara keseluruhan, capaian SD negeri dan swasta hanya mencapai 62,21 persen, turun 12,6 poin dari tahun 2024 yang sebesar 74,81 persen. SD negeri berada di angka 62,04 persen, sedangkan SD swasta 64,29 persen. Kemampuan numerasi sendiri merupakan kecakapan peserta didik dalam menggunakan konsep dan prosedur matematika untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator kualitas pembelajaran juga mengalami penurunan menjadi 64,59 persen atau turun 2,33 poin. Pada SD negeri, capaian sebesar 64,82 persen (turun 2,36 poin), sementara SD swasta 61,83 persen (turun 1,89 poin). Kualitas pembelajaran mencerminkan interaksi antara guru, siswa, dan materi dalam proses belajar mengajar.
Sementara itu, indikator iklim keamanan satuan pendidikan tercatat sebesar 74,28 persen, turun 3,37 poin dari tahun sebelumnya. SD negeri mencapai 74,51 persen dan SD swasta 71,31 persen. Indikator ini mencakup rasa aman siswa dari perundungan, hukuman fisik, hingga penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekolah.
Penurunan juga terjadi pada indikator iklim kebinekaan yang berada di angka 66,29 persen (turun 6,02 poin). SD negeri mencatat 66,5 persen, sementara SD swasta 63,59 persen. Indikator ini mengukur praktik toleransi dan komitmen kebangsaan di lingkungan pendidikan.
Untuk indikator iklim inklusivitas, capaian berada di angka 59,42 persen, turun 1,89 poin dibandingkan tahun sebelumnya. SD negeri mencatat 59,6 persen, sedangkan SD swasta juga mengalami penurunan sebesar 2,65 poin.
Di tengah penurunan sejumlah indikator tersebut, Angka Partisipasi Sekolah (APS) justru mengalami peningkatan. APS usia 5–6 tahun mencapai 85,56 persen atau naik 10,24 poin dari tahun 2024. Sementara APS usia 16–18 tahun meningkat menjadi 71,26 persen atau naik 7,06 poin.
Pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP), capaian menunjukkan hasil yang lebih beragam. Kemampuan literasi mengalami peningkatan menjadi 75,34 persen (naik 1,31 poin). Namun, kemampuan numerasi menurun menjadi 70,45 persen (turun 1,39 poin). Kualitas pembelajaran relatif stagnan di angka 61,15 persen (turun tipis 0,13 poin), sedangkan iklim kebinekaan mengalami penurunan cukup signifikan menjadi 64,4 persen dari sebelumnya 68,29 persen.
Secara umum, terdapat tujuh indikator prioritas dalam rapor pendidikan, yakni kemampuan literasi, numerasi, kualitas pembelajaran, iklim keamanan satuan pendidikan, iklim kebinekaan, iklim inklusivitas, serta angka partisipasi sekolah.
Penurunan sejumlah indikator ini menjadi catatan penting bagi pemangku kebijakan pendidikan di Kabupaten Garut untuk melakukan evaluasi dan perbaikan guna meningkatkan mutu pendidikan di masa mendatang. (Jajang Sukmana)


































