Suparna Sastradiredja: Pejuang Garut yang Terbuang dari Tanah Airnya

0
12

Oleh: Enang Cuhendi (Pengawas SMP Disdik Garut – Alumnus Jurdik Sejarah UPI)

Di antara deretan panjang tokoh perjuangan Indonesia, ada nama-nama yang hidup megah dalam buku sejarah, tetapi ada pula yang perlahan terkubur oleh perubahan politik dan ingatan bangsa yang pendek. Salah satu di antaranya adalah Suparna Sastradiredja—putra Garut yang pernah menjadi pejuang kemerdekaan, aktivis pergerakan rakyat, organisator buruh, sekaligus tokoh politik nasional, namun akhirnya wafat dalam pengasingan jauh dari tanah yang pernah ia bela.

Kisah hidup Suparna bukan sekadar cerita seorang tokoh politik. Ia adalah potret tragis generasi pejuang Indonesia: mereka yang mengabdikan hidupnya bagi republik, tetapi kemudian tersisih oleh perubahan zaman dan pertarungan ideologi.

Anak Guru dari Tarogong
Suparna Sastradiredja lahir di Tarogong, Garut, Jawa Barat, pada 2 Februari 1914. Sebagian sumber menyebut tahun kelahiran Suparna Sastradiredja adalah 1914, sedangkan data Konstituante Republik Indonesia mencantumkan tahun 1915.

Ia berasal dari keluarga sederhana tetapi terdidik. Ayahnya, Abdul Sastradiredja, adalah seorang guru sekolah dasar, sedangkan ibunya bernama Nyi Emi Resmi. Lingkungan keluarga pendidik inilah yang membentuk watak intelektual dan kesadaran sosial Suparna sejak usia muda.

Pada masa kolonial Belanda, kesempatan pendidikan bagi pribumi sangat terbatas. Namun Suparna termasuk generasi bumiputra yang beruntung memperoleh pendidikan modern. Ia menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) di Cicalengka dan lulus sekitar tahun 1930. Setelah itu, ia melanjutkan ke MULO di Bandung, lalu meneruskan pendidikan ke Algemene Middelbare School (AMS) di Batavia dan tamat pada tahun 1936.

Pendidikan Barat tidak menjadikannya dekat dengan kolonialisme. Justru dari ruang-ruang sekolah itulah tumbuh kesadaran nasionalismenya.

Aktivis Muda yang Dipenjara Belanda
Sejak muda, Suparna aktif dalam organisasi pemuda nasionalis “Indonesia Muda.” Organisasi ini menjadi salah satu wadah penting pembentukan identitas kebangsaan generasi muda sebelum kemerdekaan.

Di organisasi tersebut, Suparna dipercaya menjadi anggota dewan pimpinan sekaligus redaktur majalah bulanan Indonesia Muda. Tulisan-tulisannya yang kritis terhadap kolonialisme membuat pemerintah Hindia Belanda gerah. Pada tahun 1937, ia ditangkap dan dipenjara selama sekitar sepuluh bulan karena dianggap menyebarkan tulisan yang menghasut rakyat melawan pemerintah kolonial.

Peristiwa itu menunjukkan bahwa perjuangan Suparna bukan perjuangan spontan setelah kemerdekaan, melainkan telah dimulai sejak masa pergerakan nasional.

Menariknya, dalam proses hukumnya, Suparna dibela oleh sejumlah tokoh besar yang kelak menjadi figur penting republik, seperti Amir Sjarifuddin dan Mohammad Yamin.

Bergerak di Bawah Tanah Melawan Jepang
Ketika Jepang menduduki Indonesia tahun 1942, banyak tokoh pergerakan menghadapi dilema: bekerja sama, diam, atau melawan secara diam-diam. Suparna memilih jalur perlawanan bawah tanah.

Ia terlibat dalam gerakan anti-Jepang di Jawa Barat dan aktif membantu rakyat yang menjadi korban eksploitasi perang, termasuk romusha. Ia juga bergabung dalam organisasi yang membantu keluarga pekerja paksa dan rakyat kecil yang terdampak kekejaman pendudukan Jepang.

Di titik ini, perjuangan Suparna tampak sangat dekat dengan rakyat kecil. Ia bukan tipe elit politik yang hanya bergerak di meja rapat, tetapi juga terjun langsung dalam persoalan sosial masyarakat.

Mempertahankan Republik yang Baru Lahir
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, perjuangan belum selesai. Belanda datang kembali bersama Sekutu. Jawa Barat menjadi salah satu wilayah paling bergolak dalam revolusi fisik Indonesia.

Suparna turut aktif mempertahankan kemerdekaan. Ia mendirikan Angkatan Pemuda Indonesia (API), sebuah laskar pemuda yang bergerak melawan kembalinya kekuasaan kolonial Belanda. Ia juga terlibat dalam organisasi rakyat dan gerakan perburuhan yang berkembang pesat setelah kemerdekaan.

Pada masa ini, Suparna semakin dikenal sebagai tokoh yang dekat dengan kalangan buruh perkebunan dan rakyat kecil. Ia aktif membangun Sarekat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (Sarbupri) dan terlibat dalam organisasi buruh nasional SOBSI. Sebelumnya juga terlibat aktif dalam pembentukan Barisan Buruh Indonesia (BBI) di Bandung.

Politik, Ideologi, dan Jalan Sunyi Pengasingan
Memasuki dekade 1950-an, Suparna semakin aktif dalam dunia politik nasional dan bergabung dengan Partai Komunis Indonesia. Dalam Pemilu 1955, ia terlibat dalam politik parlementer dan kemudian menjadi anggota DPR-GR serta anggota MPRS pada masa Demokrasi Terpimpin.

Namun sejarah Indonesia tahun 1965 mengubah hidupnya secara drastis.
Ketika peristiwa G30S meletus, Suparna sedang berada di luar negeri dalam kunjungan delegasi ke Tiongkok dan Korea Utara. Situasi politik Indonesia yang berubah cepat membuatnya tidak dapat kembali ke tanah air. Ia kemudian hidup di pengasingan selama bertahun-tahun di Tiongkok sebelum akhirnya mencari suaka politik di Belanda.

Di negeri asing, Suparna menjalani hidup sebagai eksil politik—nasib yang juga dialami banyak intelektual dan pejuang Indonesia pasca-1965.

Yang paling tragis, ia wafat di Amsterdam pada tahun 1996 tanpa pernah kembali ke Garut yang dicintainya.

Pejuang yang Dikalahkan Politik Ingatan
Kisah Suparna Sastradiredja memperlihatkan bagaimana sejarah sering kali tidak netral. Setelah 1965, banyak tokoh yang pernah berjasa bagi republik tiba-tiba dihapus dari ingatan publik karena afiliasi politiknya.

Akibatnya, generasi muda mengenal mereka hanya dari stigma, bukan dari keseluruhan perjalanan hidupnya.
Padahal sebelum seluruh kontroversi politik itu, Suparna adalah bagian dari generasi pejuang yang:
– melawan kolonialisme Belanda,
– bergerak melawan Jepang,
– mempertahankan kemerdekaan,
– memperjuangkan kaum buruh,
– serta membangun kesadaran rakyat kecil.

Sejarah yang sehat semestinya tidak dibangun atas dasar penghapusan total, melainkan keberanian melihat manusia dan zamannya secara utuh.

Mengapa Suparna Penting Diingat?
Bagi Garut dan Jawa Barat, Suparna Sastradiredja adalah bagian dari mozaik sejarah daerah yang penting. Ia menunjukkan bahwa tanah Priangan tidak hanya melahirkan ulama, budayawan, dan birokrat, tetapi juga tokoh pergerakan nasional dengan pengaruh luas.

Menghidupkan kembali nama Suparna bukan berarti membenarkan seluruh pilihan politiknya. Sejarah tidak bekerja sesederhana itu. Mengingat Suparna berarti mengakui bahwa republik ini dibangun oleh manusia-manusia kompleks dengan gagasan, perjuangan, dan tragedinya masing-masing.

Karena bangsa yang matang bukan bangsa yang hanya mengingat tokoh yang nyaman dikenang, tetapi juga yang berani berdialog dengan sejarahnya sendiri.

Penutup
Suparna Sastradiredja adalah salah satu contoh bagaimana seorang pejuang dapat berubah menjadi “orang asing” di negerinya sendiri akibat perubahan politik. Ia pernah menjadi bagian dari generasi yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tetapi kemudian tersingkir dari narasi resmi bangsa.
Bagi masyarakat

Garut dan Jawa Barat, mengingat kembali sosok Suparna bukan sekadar mengenang seorang tokoh lokal, melainkan juga membuka ruang refleksi tentang bagaimana sejarah ditulis, diwariskan, dan terkadang dilupakan.

Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang mampu berdialog dengan sejarahnya sendiri—termasuk terhadap bagian-bagian sejarah yang rumit, kontroversial, dan menyakitkan. (*)