Atap SDN 1 Margawati Garut Kota Melorot, Sekolah Lakukan Penanganan Darurat dengan Penyangga Bambu

0
7
Kepala SDN 1 Margawati, Usep, S.Pd., M.Pd., M.CE menunjukkan kondisi bangunan, Rabu (20/5/2026).

Garut, Rabu (20/5/2026) – Kondisi atap bagian atas (geuning) di SDN 1 Margawati mengalami penurunan secara bertahap. Akibatnya, sejumlah genting dan lisplang bangunan terancam runtuh. Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah, pihak sekolah melakukan penanganan darurat dengan memasang penyangga menggunakan tiga batang bambu besar.

Kepala SDN 1 Margawati, Usep, S.Pd., M.Pd., M.CE., menjelaskan bahwa kondisi awal kerusakan bangunan tersebut sebelumnya telah ditinjau langsung oleh Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Ai Sadidah, S.Pd., M.Pd., M.Si., bersama Pengawas Bina Wawan Sopyan, S.Pd., M.Pd., beberapa waktu lalu.

“Namun, seiring tingginya intensitas hujan dalam beberapa pekan terakhir, kerusakan sedikit demi sedikit semakin membahayakan,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, pihak sekolah memanfaatkan hari libur pada 14–15 Mei 2026 untuk melakukan perbaikan sementara. Perbaikan meliputi pemasangan genteng baru, penggantian beberapa kaso, penguatan pada bagian konsol, serta pemasangan penyangga bambu sebagai penahan struktur atap.

Usep bersyukur kondisi ruang kelas secara umum masih aman. “Alhamdulillah, ruang kelas tidak mengalami kerusakan serius. Hanya terdapat sedikit kebocoran dan langit-langit turun sekitar lima sentimeter,” katanya.

Ia menegaskan bahwa selama kerusakan masih dapat ditangani melalui anggaran pemeliharaan sekolah, pihaknya akan terus berupaya melakukan perbaikan. Namun, apabila kebutuhan biaya melebihi kemampuan anggaran yang tersedia, pihak sekolah berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Garut dapat segera memberikan perhatian.

“Kami berharap ada dukungan dari dinas pendidikan agar kerusakan ini dapat ditangani lebih permanen dan tidak menunggu sampai bangunan ambruk,” tuturnya.

Menurut Usep, bangunan tersebut dibangun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) pada tahun 2009 dengan nilai anggaran sekitar Rp210 juta. Setelah digunakan selama kurang lebih 17 tahun dan melewati empat periode kepemimpinan kepala sekolah, bangunan baru mengalami kerusakan yang cukup signifikan.

“Jika melihat usia bangunan, sebenarnya konstruksi ini tergolong kuat. Kemungkinan kerusakan terjadi akibat faktor cuaca dan usia bangunan,” pungkasnya. (Jajang Sukmana)