GARUT — Semangat melestarikan bahasa dan budaya Sunda kembali digaungkan melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang SD Tingkat Kecamatan Garut Kota Tahun 2026. Mengusung tema “Berani Berbahasa, Bangga Budaya, Lestarikan Bahasa Ibu”, kegiatan tersebut berlangsung di Kompleks SDN 1 dan SDN 2 Kota Kulon, Jalan Ciledug Nomor 213, Kelurahan Kota Kulon, Kecamatan Garut Kota, Sabtu (29/8/2026).
FTBI menjadi salah satu wadah untuk melestarikan, mengembangkan, dan meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat dan keterampilan di bidang bahasa, sastra, dan seni Sunda.
Ketua Pelaksana FTBI Tingkat Kecamatan Garut Kota Tahun 2026, Dr. Hanny Latifah, M.M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti siswa SD dari sekolah-sekolah yang berada di wilayah Kecamatan Garut Kota.

Menurutnya, di Kecamatan Garut Kota terdapat 70 sekolah. Berdasarkan ketentuan panitia, setiap sekolah diharapkan mengirimkan satu peserta laki-laki dan satu peserta perempuan untuk setiap mata lomba. Dengan demikian, apabila seluruh sekolah berpartisipasi sesuai ketentuan, setiap mata lomba seharusnya diikuti 140 peserta, terdiri atas 70 peserta laki-laki dan 70 peserta perempuan.
Namun, berdasarkan rekapitulasi pendaftaran yang diterima panitia, jumlah peserta pada setiap mata lomba masih beragam dan belum mencapai jumlah yang diharapkan.
Pada mata lomba Maca jeung Nulis Aksara Sunda tercatat 46 peserta, Ngabodor Sorangan (Borangan) 45 peserta, Ngarang Carita Pondok (Carpon) 44 peserta, Maca Sajak 81 peserta, Nembang Pupuh 61 peserta, Ngadongeng 64 peserta, dan Biantara 79 peserta.

Secara keseluruhan, FTBI Tingkat Kecamatan Garut Kota 2026 diikuti 420 peserta, terdiri atas 174 peserta laki-laki dan 246 peserta perempuan.
Tujuh mata lomba yang dipertandingkan tersebut masing-masing terdiri atas kategori laki-laki dan perempuan, dengan penilaian dilakukan oleh dewan juri yang telah ditugaskan panitia.
Ketujuh cabang yang dilombakan meliputi Maca jeung Nulis Aksara Sunda, Ngabodor Sorangan (Borangan), Ngarang Carita Pondok (Carpon), Maca Sajak, Nembang Pupuh, Ngadongeng, dan Biantara.
Dr. Hany Latifah menjelaskan, kegiatan FTBI tidak semata-mata diarahkan sebagai ajang perlombaan, tetapi juga sebagai upaya menumbuhkan minat dan kecintaan siswa terhadap bahasa serta sastra Sunda.

Selain melestarikan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu, kegiatan ini bertujuan mengembangkan bakat dan keterampilan siswa, memberikan pengalaman berkompetisi secara sportif, sekaligus menyaring peserta terbaik yang nantinya akan mewakili Kecamatan Garut Kota pada tingkat berikutnya.
Sementara itu, Korwas Kecamatan Garut Kota, Pudin, S.Pd., M.Pd., turut memberikan perhatian terhadap tingkat partisipasi sekolah dalam pelaksanaan FTBI tahun ini.
Ia menekankan kepada para guru agar terus meningkatkan pembelajaran bahasa Sunda di sekolah, sehingga peserta didik memiliki kemampuan dan kesiapan untuk mengikuti berbagai cabang lomba yang dipertandingkan dalam FTBI.
Menurutnya, peningkatan partisipasi semua pihak juga perlu menjadi perhatian bersama, termasuk para pengawas, agar pada pelaksanaan FTBI mendatang semakin banyak sekolah yang mengikutsertakan peserta didiknya.
Partisipasi yang lebih luas juga diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada lebih banyak siswa untuk mengenal, menggunakan, mengembangkan, sekaligus menunjukkan kemampuan mereka dalam bahasa dan seni Sunda. “Bahasa ibu menjadi pusaka, bahasa Sunda tetap hidup dalam cerita.” (Jajang Sukmana)










































