FOMO vs JOMO (Fear of Missing Out vs Joy of Missing Out)

0
164

By. H. Ita Habibie, S.Pd.I., M.Pd

 

Di era digital yang serba cepat ini, kita sering kali terjebak di antara dua perasaan yang saling bertolak belakang FOMO (Fear of Missing Out) dan JOMO (Joy of Missing Out). Dua istilah ini menggambarkan bagaimana cara kita berinteraksi dengan dunia luar dan kesehatan mental kita sendiri. Kita akan coba kupasan secara singkat mengenai FOMO vs JOMO, penyebabnya, serta solusi untuk mencapai keseimbangan hidup dan pandanag islam tentang keduanya.

Perbandingan Singkat: FOMO vs JOMO

FOMO (Fear of Missing Out) Definisi Rasa takut, cemas ketinggalan momentum dan tren masa kini atau acara dan pengalaman seru orang lain. JOMO (Joy of Missing Out) Rasa bahagia dan damai saat memilih untuk tidak terlibat dalam hiruk-pikuk sosial.

Emosi Utama dari FOMO adalah Cemas, iri, gelisah, dan tidak puas. sedangkan emosi utama dari JOMO adalah Tenang, puas, bebas, dan hadir seutuhnya (present).

FOMO cenderung berpikir apa yang sedang dilakukan orang lain (Eksternal). sedangkan JOMO berpikir tentang apa yang sedang dibutuhkan oleh diri sendiri (Internal).

FOMO Penyebab dan Solusinya

FOMO bukan sekadar rasa “ingin ikut-ikutan”, melainkan kecemasan sosial yang nyata bahwa orang lain menjalani hidup yang lebih bahagia atau lebih sukses daripada kita. Penyebab utama FOMO: Pertmam, Paparan Media Sosial yang Berlebihan seperti menonton Instagram, TikTok, dan media lainya yang memperlihatkan highlight reel (hanya menampilkan bagian terbaik) hidup orang lain. Kedua, Kebutuhan untuk Diakui (Validation) Keinginan dasar manusia untuk merasa menjadi bagian dari kelompok (belonging). terlibat dalam segala hal dengan kelompok dan takut tidak di akui komunitas atau circle tertentu. Ketiga, Kurangnya Rasa Puas (Insecurity), Ketika kita tidak bahagia dengan hidup kita saat ini, kita cenderung membandingkannya dengan hidup orang lain yang menempatkan kita diposisi rendah dan tidak berharga dihadapan orang lain. rasa ini yang membuat seseorang menjadi stres mudah marah dan perilaku yang tidak terkendali.

Naah, lantas bagaimana solusi mengatasi FOMO. ada beberapa tips efektip dan mudah dilakukan yaitu:

  1. Lakukan “Digital Detox” Batasi waktu layar (screen time) Hapuslah aplikasi sosial media secara berkala di akhir pekan untuk mengistirahatkan pikiran.
  2. Praktikkan “Gratitude” (Bersyukur) Tulis 3 hal yang Anda syukuri setiap hari. Fokus pada apa yang Anda miliki, bukan apa yang tidak Anda miliki.
  3. Saring Konsumsi Media Sosial “Unfollow” atau “mute” akun-akun yang memicu rasa minder atau cemas, dan ikuti akun yang memberi inspirasi atau ketenangan.

 JOMO: Mengapa Kita Membutuhkannya?

JOMO adalah penawar racun “antidote” dari FOMO. Ini adalah keputusan sadar untuk mengatakan “tidak” pada undangan atau tren demi menjaga kesehatan mental dan energi kita.

Bagaimana JOMO bisa terbentuk?

  1. Kelelahan Mental “Burnout” Sadar bahwa terus-menerus mengikuti ekspektasi sosial itu melelahkan secara emosional dan finansial maka biasanya seseorang akan berputar arah dan mulai memikirkan diri dan kebahagianya.
  2. Kesadaran Diri “Mindfulness” Keinginan untuk hidup lebih lambat (slow living), santai dan fokus pada masa depan serta menikmati momen saat ini tanpa distraksi ponsel itulah jalan menuju JOMO yang realistis.

Cara Menerapkan JOMO dalam Kehidupan

  1. Belajar Berkata “Tidak” Tolak ajakan kumpul-kumpul atau proyek jika tubuh dan pikiran Anda memang butuh istirahat. Ingat, menolak orang lain berarti mengiyakan diri sendiri untuk kepentingan dan kesehatan diri.
  2. Nikmati Waktu Sendiri “Solitude” Temukan kebahagiaan dalam aktivitas sederhana, seperti membaca buku, menyeduh kopi tanpa main HP, atau sekadar tidur lebih awal itu lebih baik.
  3. Hadir Sepenuhnya “Be Present” Saat sedang makan atau mengobrol dengan seseorang, simpan ponsel Anda. Nikmati koneksi nyata di dunia nyata sehingga ada merasakan kehadiran orang lain secara sadar dan menikmatinya.

Dalam kajian Islam, fenomena FOMO dan JOMO sebenarnya bukanlah hal baru. Meskipun istilahnya modern, esensi psikologis dari keduanya telah dibahas dalam Al-Qur’an dan Hadis ribuan tahun yang lalu melalui konsep penyakit hati dan kesehatan mental “syifa’ al-qulub”. Berikut adalah analisis FOMO dan JOMO dari sudut pandang Islam. FOMO dalam Kajian Islam disebut dengan Penyakit Hasad dan Wahn. FOMO (Fear of Missing Out) berakar dari kurangnya rasa syukur, penyakit hasad (iri dengki), serta kecintaan yang berlebihan terhadap dunia (wahn). Ketika seseorang FOMO, ia selalu memandang ke atas dalam urusan duniawi, sehingga merasa cemas dan tidak puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya. terkait FOMO islam mengajarkan Larangan Memandang Milik Orang Lain dengan Iri. Allah SWT mengingatkan agar kita tidak silau dengan apa yang dinikmati orang lain di media sosial atau kehidupan nyata. Firman Allah yang artinya: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan rezeki Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.”(QS. Taha: 131) Rasulullah SAW memberikan resep medis spiritual agar kita terhindar dari penyakit mental akibat membanding-bandingkan diri dengan cara “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah dunia) dan janganlah kamu memandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.” (HR. Muslim) Fenomena Mengejar Dunia Tanpa Puas Sifat “FOMO” yang membuat seseorang selalu ingin ikut tren dunia digambarkan dalam hadis: “Seandainya manusia memiliki dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam melainkan tanah (kematian)…” (HR. Bukhari)

JOMO dalam Kajian Islam dikenal dengan konsep “Qana’ah, Zuhud, dan Uzlah”

JOMO (Joy of Missing Out) sangat sejalan dengan prinsip-prinsip Islam seperti Qana’ah (merasa cukup dan rida dengan pemberian Allah), Zuhud (tidak menjadikan dunia sebagai pusat orientasi hati), dan Uzlah (mengasingkan diri sejenak dari hiruk-pikuk yang tidak bermanfaat). Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati (the real joy) bukan saat kita tahu semua hal atau berada di setiap tempat, melainkan saat hati kita tenang bersama Allah. Kekayaan Sejati adalah Kepuasan Hati (Qana’ah), JOMO mengajarkan kita untuk bahagia dengan apa yang ada. Islam menyebutnya sebagai kekayaan jiwa. Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan jiwa (hati yang merasa cukup).” (HR. Bukhari dan Muslim). Menjaga Lisan dan Ruang Personal (Uzlah Digital), Ketika dunia luar terlalu bising dan penuh fitnah (hoaks, pamer, ghibah), Islam menganjurkan kita untuk “menarik diri” demi menjaga hati. Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, apa itu keselamatan?” Beliau menjawab: “Jagalah lisanmu, hendaknya rumahmu membuatmu merasa lapang (betah di rumah), dan tangisilah dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi)

Kesimpulan

FOMO membuat kita mengejar hidup orang lain, sementara JOMO membuat kita menghargai hidup kita sendiri. Beralih dari FOMO ke JOMO tidak berarti Anda harus menjadi seorang pertapa yang antisosial. Ini adalah tentang kendali. JOMO memberi Anda kebebasan untuk memilih mana hal yang benar-benar membawa nilai dalam hidup Anda, dan merelakan sisanya berlalu tanpa rasa penyesalan.

Dari kedua konsep di atas, mana yang lebih sering Anda rasakan akhir-akhir ini?

Dalam Islam, FOMO adalah bentuk jebakan nafsu dan tipu daya setan yang membuat manusia selalu merasa kurang dan cemas (anxiety).

Sebaliknya, JOMO yang islami adalah ketika seorang muslim secara sadar membatasi diri dari hiruk-pikuk duniawi yang sia-sia agar bisa lebih fokus pada kualitas ibadah, hubungan keluarga, dan kesehatan mentalnya. Melalui sifat qana’ah, seorang muslim bisa merasakan indahnya JOMO tidak tahu tren dunia takkan membuat hidup berhenti dan selesai, asalkan hati tetap tenang, dekat dengan Allah tanpa meninggalkan duniawi. (*)