
GARUT – Mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) Gerakan Pramuka 2026 bukan hanya soal hadir, berkemah, mengikuti rangkaian kegiatan, lalu kembali ke daerah. Bagi 32 Pramuka Penggalang yang akan mewakili Kabupaten Garut, perjalanan menuju Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur justru menjadi ujian yang lebih besar: mampukah mereka menunjukkan karakter, kompetensi, sekaligus memperkenalkan identitas daerah di tengah pergaulan Pramuka dari seluruh Indonesia dan mancanegara?
Tantangan tersebut disampaikan Bupati Garut sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Mabicab) Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Garut, Abdusy Syakur Amin, saat memberikan arahan kepada peserta _Training Center (TC)_ Kontingen Kwarcab Garut di Ruang Rapat Sekretariat Daerah Kabupaten Garut, Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Senin (27/7/2026).
Bagi Bupati, Jamnas harus menjadi ruang pembuktian bahwa pendidikan kepramukaan tidak berhenti pada keterampilan teknis. Nilai-nilai seperti disiplin, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian terhadap kebersihan, ketepatan waktu, serta kemampuan bekerja sama harus terlihat dalam perilaku peserta selama kegiatan.
“Pertama, tunjukkan bahwa Pramuka Garut itu kompeten, penuh disiplin, tepat waktu, menjaga kebersihan, bertanggung jawab, jujur dan lain-lain. Yang kedua, mereka adalah perwakilan Kabupaten Garut, sehingga diharapkan menjadi ambasador Kabupaten Garut,” ujar Abdusy Syakur Amin.
Pesan tersebut menyentuh persoalan penting dalam pendidikan karakter. Keberhasilan seorang peserta didik tidak selalu dapat diukur dari piala yang dibawa pulang. Cara bersikap, berkomunikasi, menghormati orang lain, menjaga lingkungan, serta mempertanggungjawabkan tugas juga merupakan bentuk prestasi.
Karena itu, Bupati meminta peserta tidak datang ke Jamnas hanya sebagai pengikut kegiatan. Mereka harus mampu menjadi representasi Kabupaten Garut yang memiliki wawasan dan percaya diri.
Jamnas 2026 akan mempertemukan anggota Pramuka dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk peserta dari luar negeri. Situasi tersebut dinilai menjadi kesempatan berharga bagi peserta Garut untuk memperluas pergaulan sekaligus memperkenalkan daerah asalnya.
Persoalannya, menjadi duta daerah membutuhkan bekal yang lebih luas daripada sekadar menguasai materi kepramukaan.
Peserta ditantang memahami Garut, mulai dari kondisi geografis dan demografi, potensi ekonomi, produk unggulan, hingga berbagai kekayaan daerah yang dapat diperkenalkan kepada peserta lain.
Bupati bahkan mendorong peserta membawa produk khas Garut sebagai buah tangan. Dodol Garut menjadi salah satu contoh sederhana yang dapat digunakan untuk membuka percakapan sekaligus memperkenalkan identitas daerah.
“Kalau ada yang bertanya tentang Garut, mereka harus bisa menjelaskan. Jadi bukan hanya datang mengikuti kegiatan, tetapi juga mampu memperkenalkan Kabupaten Garut kepada teman-teman dari seluruh Indonesia,” katanya.
Pesan itu sekaligus memperluas makna pendidikan kepramukaan. Peserta tidak hanya dilatih untuk mandiri dan terampil, tetapi juga diharapkan memiliki literasi daerah—kemampuan mengenali lingkungan, memahami potensi wilayah, dan menceritakan daerahnya dengan baik kepada orang lain.
Kontingen Kabupaten Garut yang dipersiapkan mengikuti Jamnas 2026 berjumlah 32 Pramuka Penggalang. Mereka terdiri atas dua regu putra dan dua regu putri yang berasal dari 20 Kwartir Ranting (Kwarran).
Para peserta berasal dari 24 gugus depan atau pangkalan sekolah. Mereka tidak hanya berasal dari wilayah yang mudah dijangkau, tetapi juga melibatkan peserta dari kawasan pelosok. Bahkan, dua anggota kontingen merupakan Pramuka dari Sekolah Rakyat.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa Jamnas dapat menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan peserta didik dari latar belakang dan wilayah yang beragam.
Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Garut, Ade Hendarsyah, mengatakan Training Center menjadi bagian penting untuk memastikan peserta tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga memiliki pengetahuan yang cukup tentang Kabupaten Garut.
“Dua hari ini kita melaksanakan pemusatan latihan dan pembekalan, sekaligus menambah pengetahuan terutama terkait Kabupaten Garut,” kata Ade.
Pembekalan tersebut menjadi penting karena peserta akan berhadapan dengan lingkungan sosial yang jauh lebih luas dibandingkan aktivitas mereka sehari-hari. Jamnas bukan hanya tempat menguji keterampilan, tetapi juga ruang belajar untuk berkomunikasi, beradaptasi, membangun jejaring, dan menghargai keberagaman.
“Ketika mengikuti jambore nasional, mereka akan bertemu dengan teman-teman di seluruh Indonesia, termasuk Pramuka dari luar negeri. Mereka juga bisa berbicara tentang Kabupaten Garut,” ujarnya.
Jamnas Gerakan Pramuka 2026 dijadwalkan berlangsung pada 13–21 Agustus 2026 di Buperta Cibubur, Jakarta. Sebelum berangkat, kontingen Garut dijadwalkan mengikuti pelepasan resmi pada 10 Agustus 2026.
Namun, tantangan sebenarnya bukan sekadar bagaimana kontingen tampil dalam kegiatan. Mereka juga harus mampu menjaga nama baik daerah sepanjang berada di lokasi Jamnas.
Ketika mengenakan atribut Kabupaten Garut, setiap peserta membawa identitas daerahnya. Sikap sederhana seperti datang tepat waktu, menjaga kebersihan, menghormati peserta lain, menaati aturan, dan bertanggung jawab terhadap tugas dapat membentuk kesan tentang Garut di mata orang lain.
Dengan demikian, target kontingen tidak berhenti pada prestasi di arena Jamnas. Ada misi pendidikan yang jauh lebih penting, yakni membentuk generasi muda yang percaya diri, berkarakter, memiliki wawasan daerah, mampu berinteraksi dengan keberagaman, dan siap menjadi bagian dari masyarakat.
Sebanyak 32 Pramuka Garut pun diharapkan tidak hanya pulang membawa pengalaman, tetapi juga prestasi dan cerita positif tentang daerahnya.
Sebab, ketika ribuan Pramuka bertemu di satu tempat, setiap peserta bukan hanya membawa nama dirinya sendiri. Mereka membawa wajah sekolah, keluarga, organisasi, dan Kabupaten Garut.
Di situlah Jamnas 2026 menjadi lebih dari sekadar jambore: sebuah ruang pendidikan karakter sekaligus panggung untuk membuktikan bahwa generasi muda Garut mampu berprestasi tanpa kehilangan jati diri daerahnya. (Hendra YG)

































