Tahun Kelima, Partisipasi FTBI SD Kabupaten Garut 2026 Capai 86,7 Persen

0
19

GARUT — Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang Sekolah Dasar (SD) Tingkat Kabupaten Garut Tahun 2026 memasuki tahun kelima pelaksanaannya. Tahun ini, sebanyak 510 peserta atau sekitar 86,7 persen dari total 588 peserta yang seharusnya mengikuti ajang tersebut hadir dan tampil dalam tujuh kategori lomba bahasa dan seni budaya Sunda.

Meski angka partisipasi tersebut tergolong tinggi, masih terdapat 78 peserta atau 13,3 persen yang belum mengikuti FTBI tingkat kabupaten. Kondisi ini menjadi catatan sekaligus pertanyaan penting dalam pelaksanaan festival yang salah satu tujuan utamanya adalah menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa ibu.

Para peserta FTBI tingkat kabupaten merupakan juara pertama putra dan putri dari 42 kecamatan se-Kabupaten Garut. Sebelumnya, mereka telah mengikuti seleksi di tingkat kecamatan dan dinyatakan sebagai peserta terbaik untuk mewakili wilayahnya masing-masing.

Dengan demikian, ketidakhadiran sebagian peserta tidak sekadar menyangkut absensi dalam sebuah perlombaan. Mereka merupakan peserta yang telah melewati proses seleksi dan membawa nama sekolah serta kecamatan masing-masing.

Karena itu, angka partisipasi 86,7 persen patut diapresiasi, tetapi sekaligus perlu dibaca sebagai bahan evaluasi. Pertanyaannya, mengapa belum seluruh peserta yang telah menjadi juara di tingkat kecamatan dapat tampil di tingkat kabupaten?

Apakah faktor teknis, kondisi peserta, keterbatasan pendampingan, jarak tempuh, kesiapan sekolah, atau terdapat faktor lain yang menyebabkan 78 peserta tidak hadir? Jawaban atas pertanyaan tersebut penting untuk memastikan pelaksanaan FTBI ke depan semakin inklusif dan memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh peserta yang telah lolos dari tingkat kecamatan.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Iwan Riswandi, S.IP.

FTBI SD Tingkat Kabupaten Garut 2026 berlangsung di SDN 1 Tanjungkamuning dan SDN 4 Tanjungkamuning, Jalan Tanjungkamuning (Garut-Bandung) Nomor 251, Kecamatan Tarogong Kaler, Kamis (10/9/2026). Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Iwan Riswandi, S.IP., mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut.

Tujuh kategori yang diperlombakan meliputi Ngadongeng, Biantara, Ngarang Carita Pondok, Maca jeung Nulis Aksara Sunda, Nembang Pupuh, Ngabodor Sorangan (Borangan), dan Maca Sajak. Seluruh mata lomba dilaksanakan selama satu hari, mulai sekitar pukul 09.45 WIB hingga selesai.

Dalam sambutannya, Iwan Riswandi menekankan pentingnya membangun kebanggaan generasi muda terhadap bahasa Sunda. Menurutnya, bahasa daerah tidak semestinya hanya menjadi sesuatu yang dipelajari dalam ruang perlombaan, tetapi harus tumbuh menjadi kebanggaan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua dan guru yang telah mendampingi serta memoles kemampuan peserta didik hingga mampu tampil pada FTBI tingkat Kabupaten Garut.

“Terima kasih kepada orang tua dan guru yang telah membimbing serta memoles anak-anak sehingga bisa tampil. Ini merupakan bukti keseriusan untuk menampilkan putra-putri terbaik di tingkat Kabupaten Garut,” ujarnya.

Ia berharap dari FTBI tingkat kabupaten tersebut akan lahir peserta terbaik yang mampu membawa nama Kabupaten Garut pada tingkat Provinsi Jawa Barat.

Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Ai Sadidah, S.Pd., M.Pd., M.Si

Sementara itu, Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Ai Sadidah, S.Pd., M.Pd., M.Si., dalam laporannya mengatakan, FTBI diselenggarakan sebagai wadah untuk menumbuhkan bakat, minat, dan kreativitas peserta didik di bidang bahasa serta seni budaya Sunda. “FTBI ini menjadi salah satu upaya kita untuk melestarikan kekayaan budaya bangsa,” kata Ai.

Menurutnya, secara khusus FTBI bertujuan mengenalkan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap bahasa Sunda, budaya, dan kearifan lokal sejak dini. Selain itu, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menjaring peserta terbaik yang nantinya mewakili Kabupaten Garut pada tingkat Provinsi Jawa Barat. “Melalui FTBI ini diharapkan juga terbangun kepercayaan diri, kedisiplinan, dan kerja sama di antara siswa,” ujarnya.

Pelaksanaan FTBI tingkat Kabupaten Garut 2026 pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai siapa yang menjadi juara dari tujuh kategori lomba.

Capaian partisipasi 86,7 persen menunjukkan bahwa minat dan keterlibatan peserta didik terhadap bahasa dan seni budaya Sunda masih cukup kuat. Namun, keberadaan 13,3 persen peserta yang tidak hadir juga tidak seharusnya dilewatkan begitu saja.

Terlebih, FTBI merupakan bagian dari upaya Revitalisasi Bahasa Daerah yang menyasar generasi muda. Festival tersebut pertama kali dilaksanakan pada 2021 dan kemudian menjadi bagian dari implementasi program Revitalisasi Bahasa Daerah yang diintegrasikan dalam Merdeka Belajar Episode ke-17 pada 2022.

Program tersebut diarahkan untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah melalui keterlibatan generasi muda, khususnya peserta didik jenjang SD dan SMP.

Lima tahun perjalanan FTBI di Kabupaten Garut menjadi momentum untuk melihat kembali sejauh mana festival tersebut tidak hanya berhasil melahirkan juara, tetapi juga memberikan dampak terhadap keberlangsungan bahasa ibu.

Sebab, pelestarian bahasa Sunda tidak akan selesai dalam satu hari perlombaan. FTBI hanyalah salah satu ruang untuk memperkenalkan, menumbuhkan kecintaan, sekaligus membangun kebanggaan terhadap bahasa ibu.

Karena itu, pertanyaan “Mengapa belum 100 persen?” layak ditempatkan sebagai bahan evaluasi bersama bagi Dinas Pendidikan, sekolah, guru, orang tua, pendamping, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Kabupaten Garut.

Bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk memastikan bahwa pada pelaksanaan FTBI berikutnya, setiap peserta yang telah menjadi juara di tingkat kecamatan memperoleh kesempatan yang sama untuk tampil di tingkat kabupaten.

Pada akhirnya, keberhasilan FTBI bukan hanya ketika seorang peserta membawa pulang piala sebagai juara. Keberhasilan yang lebih besar adalah ketika bahasa Sunda tetap digunakan, dicintai, dibanggakan, dan diwariskan oleh generasi muda Garut kepada generasi berikutnya.

Sebab bahasa ibu akan tetap hidup bukan hanya karena dilombakan, tetapi karena digunakan dan diwariskan. (Jajang Sukmana)