GARUT — Tiga murid SDN 7 Regol Kiansantang berhasil menorehkan prestasi membanggakan pada Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang SD Tingkat Kecamatan Garut Kota Tahun 2026 yang digelar di Kompleks SDN 1 dan SDN 2 Kota Kulon, Jalan Ciledug Nomor 213, Kelurahan Kota Kulon, Kecamatan Garut Kota, Sabtu (29/8/2026).
Ketiga murid tersebut berhasil meraih prestasi pada cabang Nembang Pupuh dan Maca Sajak. Mereka adalah Azkayra Putri Syahmi, Zainab Rahma Rizqina, dan Gaza Adhyasta Prasetyo.
FTBI Jenjang SD Tingkat Kecamatan Garut Kota Tahun 2026 diikuti sebanyak 420 peserta, terdiri atas 174 peserta laki-laki dan 246 peserta perempuan. Kegiatan ini menjadi salah satu wadah bagi peserta didik untuk mengembangkan bakat dan kreativitas sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa serta budaya Sunda sebagai bahasa ibu.

Prestasi tertinggi diraih Azkayra Putri Syahmi, murid Kelas 5A SDN 7 Regol Kiansantang, yang berhasil menjadi Juara 1 Nembang Pupuh kategori putri.
Azkayra, yang lahir di Garut pada 28 Februari 2016, merupakan anak kedua dari dua bersaudara, pasangan Budi Darjaturramdan dan Nia Kurniati.
Selain aktif mengembangkan bakat seni di sekolah, Azkayra juga mengikuti kegiatan di Sanggar Seni Warak Satya. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan seni tersebut menjadi ruang bagi Azkayra untuk terus mengasah kemampuan sekaligus membangun kepercayaan diri dalam bidang seni tradisional Sunda.
Prestasi berikutnya diraih Zainab Rahma Rizqina yang berhasil menjadi Juara 1 Maca Sajak kategori putri.
Zainab yang juga merupakan murid Kelas 5A SDN 7 Regol Kiansantang mendapat bimbingan dari De Rani Naluri, S.Pd., serta dukungan dan pendampingan dari wali kelasnya, Ismi Nurfadillah, S.Pd.

Sementara itu, pada cabang Maca Sajak kategori putra, Gaza Adhyasta Prasetyo berhasil meraih Juara 2.
Raihan ketiga murid tersebut semakin melengkapi catatan prestasi SDN 7 Regol Kiansantang pada ajang FTBI Jenjang SD Tingkat Kecamatan Garut Kota Tahun 2026.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SDN 7 Regol Kiansantang, Yayu Sri Rahayu, S.Pd., menyampaikan rasa syukur dan bangga atas capaian yang diraih para muridnya.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur dan bangga atas pencapaian luar biasa ini. Prestasi ini tentu bukan sekadar sebuah kemenangan, tetapi merupakan bukti nyata dari kerja keras, ketekunan, keberanian, dan kemampuan anak-anak dalam mengembangkan serta melestarikan bahasa dan budaya daerah,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Menurut Yayu, keberhasilan tersebut juga tidak terlepas dari peran para guru yang dengan penuh kesabaran, ketulusan, dan semangat memberikan pembinaan serta mendampingi para murid selama proses persiapan hingga perlombaan.
“Harapan kami, pencapaian ini dapat menjadi inspirasi bagi seluruh siswa bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berprestasi apabila diberikan kesempatan, bimbingan, dukungan, dan ruang untuk berkembang,” katanya.
Ia berharap prestasi yang diraih pada FTBI tahun ini menjadi awal lahirnya prestasi-prestasi berikutnya sekaligus semakin menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa, sastra, dan budaya daerah.
Sementara itu, pembimbing Yulis Nurparidah, S.Pd., mengatakan keberhasilan para murid tidak terlepas dari proses latihan dan pendampingan yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan.

Menurutnya, persiapan menghadapi FTBI bukan hanya berkaitan dengan kemampuan tampil di atas panggung, tetapi juga bagaimana murid memahami, mencintai, dan turut melestarikan bahasa serta seni budaya Sunda.
Ia menambahkan, antusiasme murid dalam mengikuti pembinaan menjadi salah satu modal penting dalam menghadapi perlombaan. Dengan latihan yang konsisten serta dukungan dari sekolah dan orang tua, para murid dapat tampil lebih percaya diri dan memberikan penampilan terbaik.
Keberhasilan Azkayra, Zainab, dan Gaza pada FTBI Kecamatan Garut Kota Tahun 2026 diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh keluarga besar SDN 7 Regol Kiansantang untuk terus memberikan ruang kepada peserta didik dalam mengembangkan potensi di bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya Sunda.
Prestasi tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa pelestarian bahasa ibu dapat ditanamkan sejak usia sekolah dasar melalui kegiatan yang menyenangkan, kompetitif, sekaligus berorientasi pada pengembangan bakat dan karakter peserta didik. (Jajang Sukmana)









































