GARUT — Dinas Pendidikan Kabupaten Garut terus memperkuat inovasi berbasis digital melalui pengembangan Garut Edu Control 2.0. Sistem ini dirancang untuk membantu mengidentifikasi, memetakan, dan menuntaskan berbagai persoalan pendidikan, terutama penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang jumlahnya diperkirakan mencapai 29.000 anak di Kabupaten Garut.
Sebagai langkah awal, penerapan Garut Edu Control 2.0 dilakukan melalui tahap uji coba di tiga kecamatan yang mewakili wilayah utara, tengah, dan selatan Kabupaten Garut, yakni Kecamatan Leles, Cisurupan, dan Banjarwangi. Ketiga wilayah tersebut menjadi lokasi awal untuk menguji efektivitas sistem sekaligus memperoleh gambaran kondisi riil permasalahan pendidikan di lapangan.
Melalui pemanfaatan teknologi digital, proses pendataan, verifikasi, pemetaan, hingga penelusuran anak tidak sekolah diharapkan dapat dilakukan secara lebih sistematis dan akurat. Dengan demikian, intervensi yang dilakukan tidak hanya bertumpu pada data administratif, tetapi juga diarahkan pada langkah nyata untuk mengembalikan anak-anak ke dalam layanan pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, H. Asep Wawan Budiman, S.Pd., M.Si., saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (3/11/2026) menjelaskan bahwa Garut Edu Control 2.0 dikembangkan sebagai sistem pendukung keputusan berbasis data. Sistem ini berfungsi mengintegrasikan berbagai informasi pendidikan, mendeteksi potensi risiko, mengarahkan tindak lanjut, serta mengukur hasil penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS).

Inovasi yang digagas H. Asep Wawan Budiman tersebut mengusung semangat “Dari Data Menjadi Tindakan dan Bukti Hasil.” Filosofi ini menegaskan bahwa data pendidikan tidak sekadar dikumpulkan dan disajikan sebagai angka, tetapi harus menjadi dasar pengambilan keputusan, penentuan kebijakan, serta pelaksanaan intervensi yang memberikan dampak nyata.
Melalui Garut Edu Control 2.0, Dinas Pendidikan Kabupaten Garut berharap pengelolaan pendidikan semakin terukur, terintegrasi, dan responsif terhadap berbagai persoalan di lapangan. Inovasi ini sekaligus menjadi salah satu langkah strategis dalam mempercepat penanganan ATS agar setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk mengakses dan menuntaskan pendidikan.
Garut Edu Control 2.0 dilatarbelakangi kebutuhan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagaimana menjadi salah satu prioritas pembangunan dalam RPJMD Kabupaten Garut 2025–2029. Peningkatan dan pemerataan akses pendidikan berkualitas menjadi agenda penting yang harus didukung tata kelola pemerintahan pendidikan yang efektif.
Dalam implementasinya, terdapat tiga program prioritas yang menjadi perhatian, yakni peningkatan akses dan mutu pendidikan, penanganan Anak Tidak Sekolah, serta penguatan tata kelola pendidikan. Ketiganya membutuhkan dukungan data yang akurat agar kebijakan dan intervensi dapat dilakukan secara tepat sasaran.
Diagnosis organisasi dalam dokumen inovasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada ketiadaan data, melainkan belum terintegrasinya berbagai sumber data untuk menghasilkan keputusan dan tindakan yang tepat. Setidaknya terdapat empat persoalan mendasar, yaitu data masih terfragmentasi, kendali kinerja belum optimal, kepemilikan atau penanggung jawab data dan tindak lanjut belum jelas, serta hasil penyelesaian dan dampaknya belum terukur.
Kondisi tersebut menjadi perhatian penting mengingat Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Kabupaten Garut tercatat 7,86 tahun, masih lebih rendah dibandingkan capaian tingkat provinsi dan nasional. Karena itu, diperlukan tata kelola pendidikan yang mampu menghubungkan data, prioritas penanganan, penanggung jawab atau person in charge (PIC), hingga bukti hasil penyelesaian.
Secara umum, Garut Edu Control 2.0 bertujuan mengubah data menjadi dasar pengambilan keputusan untuk mempercepat penanganan ATS di Kabupaten Garut. Adapun tujuan khususnya mencakup empat hal, yakni mengintegrasikan data, mendeteksi risiko, mengarahkan tindak lanjut, dan mengukur hasil. Manfaat yang diharapkan meliputi pengambilan keputusan lebih cepat, penanganan ATS lebih tepat, serta tata kelola pendidikan yang semakin efektif.
Salah satu substansi utama Garut Edu Control 2.0 adalah pengelolaan data Anak Tidak Sekolah yang dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu DO (Drop Out), LTM (Lulus Tidak Melanjutkan), dan BPB (Belum Pernah Bersekolah).
Berdasarkan rekapitulasi data ATS dalam dokumen per Oktober 2026, jumlah keseluruhan tercatat sebanyak 32.375 anak. Rinciannya, kategori DO sebanyak 5.846 anak atau 18 persen, LTM sebanyak 9.742 anak atau 30,1 persen, dan BPB sebanyak 16.787 anak atau 51,9 persen.
Dari keseluruhan data tersebut, sebanyak 9.531 anak atau 29,4 persen telah diverifikasi. Rinciannya, kategori DO sebanyak 2.317 anak telah diverifikasi dan 3.529 belum diverifikasi. Kategori LTM sebanyak 4.810 telah diverifikasi dan 4.932 belum diverifikasi. Sementara kategori BPB sebanyak 2.404 telah diverifikasi dan 14.383 belum diverifikasi.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan verifikasi dan penanganan masih membutuhkan perhatian serius, terutama pada kelompok anak yang belum pernah bersekolah. Melalui sistem pengelolaan berbasis risiko, data tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai angka statistik, tetapi menjadi dasar penentuan prioritas dan tindakan konkret.
Perkembangan data ATS juga memperlihatkan adanya perubahan jumlah setelah pembaruan dan pemadanan data. Pada Juni 2026, jumlah ATS tercatat 46.668 anak, kemudian menjadi 43.870 anak pada September 2026, turun menjadi 29.748 anak pada Oktober 2026, dan kembali tercatat 27.660 anak per 29 Oktober 2026.
Jika dilihat berdasarkan kategorinya, data Juni 2026 mencatat DO sebanyak 15.236 anak, LTM 11.194 anak, dan BPB 19.354 anak. Pada September, jumlahnya menjadi DO 14.035 anak, LTM 10.776 anak, dan BPB 19.059 anak.
Selanjutnya, pada Oktober 2026 tercatat DO sebanyak 5.297 anak, LTM 7.827 anak, dan BPB 16.624 anak. Adapun per 29 Oktober 2026, jumlahnya menjadi DO 5.038 anak, LTM 6.787 anak, dan BPB 15.835 anak.
Dokumen tersebut menjelaskan bahwa pembaruan data Oktober 2026 berasal dari Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) yang telah melalui pemadanan dengan data kependudukan Dukcapil. Data ATS yang disajikan mencakup kelompok usia 6–18 tahun dan selanjutnya digunakan sebagai data pengelolaan selama satu tahun hingga batas waktu pembaruan data berikutnya.
Untuk memastikan inovasi berjalan secara sistematis, Garut Edu Control 2.0 dirancang melalui sembilan tahapan atau milestone proyek perubahan.
Tahap pertama adalah mobilisasi dan organisasi yang dilaksanakan pada 1–5 September 2026. Kegiatannya meliputi kick off, sosialisasi tujuan dan ruang lingkup, penguatan komitmen pimpinan dan pemangku kepentingan, pembentukan tim pelaksana, serta penyamaan pemahaman mengenai arah, peran, dan tata kelola data berbasis risiko.
Tahap kedua, perencanaan pada 7–12 September 2026. Tahapan ini meliputi inventarisasi dan pemetaan data, penetapan sumber daya manusia dan sarana, penyusunan jadwal, target, serta rencana aksi. Pada tahap ini juga ditentukan lokasi pilot project, yaitu Kecamatan Banjarwangi, Cisurupan, dan Leles.
Tahap ketiga adalah penyusunan standar operasional prosedur (SOP) dan sosialisasi internal pada 14–19 September 2026. Tahapan ini bertujuan menyusun panduan proses, pembagian peran, dan mekanisme tindak lanjut agar seluruh pelaksana memiliki pemahaman yang sama.
Tahap keempat berupa finalisasi pilot project yang berlangsung pada 21 September hingga 3 Oktober 2026. Fokusnya memastikan kesiapan implementasi, memeriksa kondisi awal, memetakan kebutuhan, serta memastikan sekolah dan operator siap menjalankan sistem.
Tahap kelima adalah pelatihan kepala sekolah dan operator pada 5–10 Oktober 2026. Kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pengguna dalam mengoperasikan sistem serta memahami peran masing-masing dalam penanganan ATS.
Tahap keenam adalah implementasi, yakni aktivasi platform dan pemberian hak akses kepada pengguna. Tahap ketujuh berupa uji operasional melalui penginputan data, pengujian alur kerja, dan simulasi sistem.
Tahap kedelapan adalah penyelesaian ATS melalui identifikasi dan tindak lanjut terhadap anak-anak yang masuk dalam data sasaran. Adapun tahap kesembilan adalah evaluasi melalui monitoring dan evaluasi hasil untuk mengetahui perkembangan serta efektivitas pelaksanaan program.
Kesembilan tahapan tersebut memperlihatkan bahwa Garut Edu Control 2.0 tidak hanya berorientasi pada pembangunan aplikasi, tetapi juga menekankan kesiapan organisasi, kejelasan prosedur, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pelaksanaan tindak lanjut, serta evaluasi hasil.
Dalam mendukung pengelolaan data, inovasi ini juga menghadirkan pemanfaatan aplikasi SADATA yang menyediakan informasi dan pemetaan berdasarkan jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga PKBM/SKB. Sistem tersebut juga dilengkapi akses bagi pegawai dan administrator.
Salah satu informasi penting yang ditampilkan adalah alasan anak tidak bersekolah berdasarkan catatan yang telah diverifikasi. Sepuluh alasan teratas mencakup bekerja sebanyak 1.179 anak, tidak mau bersekolah 1.062 anak, melanjutkan ke pondok pesantren atau lainnya 915 anak, pindah domisili 608 anak, alasan lainnya 541 anak, bersekolah 203 anak, tidak ada biaya 233 anak, masalah kesehatan atau disabilitas 253 anak, serta menikah atau mengurus rumah tangga 218 anak.
Dalam pemetaan alasan tersebut, sistem juga menampilkan kelompok faktor yang berkaitan dengan motivasi, ekonomi, alasan lainnya, akses, serta sosial dan administratif. Informasi ini menjadi bagian penting untuk memahami latar belakang anak tidak bersekolah sehingga penanganannya dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Dengan demikian, intervensi tidak bisa dilakukan menggunakan pendekatan yang sama untuk semua anak. Anak yang berhenti sekolah karena faktor ekonomi membutuhkan pendekatan berbeda dengan anak yang bekerja, mengalami kendala akses, memiliki masalah kesehatan atau disabilitas, maupun anak yang memilih melanjutkan pendidikan di pondok pesantren.
Melalui SADATA, informasi yang telah terverifikasi diharapkan dapat membantu pemangku kepentingan menentukan langkah penanganan yang lebih terarah. Aplikasi tersebut dapat diakses melalui alamat https://sadata-disdik.garutkab.go.id/.
Secara keseluruhan, Garut Edu Control 2.0 membawa pendekatan baru dalam pengendalian kinerja pendidikan. Setiap persoalan diharapkan memiliki data yang jelas, prioritas penanganan, penanggung jawab, target waktu penyelesaian atau service level agreement (SLA), serta mekanisme eskalasi apabila tindak lanjut belum berjalan sesuai target.
Hasil pelaksanaan program selanjutnya menjadi dasar evaluasi dan pengambilan keputusan. Dengan mekanisme tersebut, penanganan ATS di Kabupaten Garut diharapkan semakin terukur, mulai dari proses identifikasi, verifikasi, penentuan prioritas, pelaksanaan intervensi, hingga pembuktian hasil.
Semangat utama inovasi ini terangkum dalam pesan: pendidikan Garut lebih baik dengan data. Sebab, data yang tepat harus diikuti tindakan yang cepat agar semakin banyak anak di Kabupaten Garut memperoleh kembali kesempatan untuk mengenyam pendidikan.
Garut Edu Control 2.0 pada akhirnya bukan sekadar sistem digitalisasi data pendidikan, melainkan upaya membangun tata kelola yang menghubungkan informasi dengan tanggung jawab dan hasil nyata. Keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh konsistensi pemutakhiran data, kolaborasi lintas pihak, ketepatan tindak lanjut, serta komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari layanan pendidikan. (Jajang Sukmana)

















































