SDN 4 Sukajaya Kembangkan Program HIBER, Bangun Budaya Sekolah Hijau dan Bersih

0
9

GARUT — SD Negeri 4 Sukajaya terus berupaya meningkatkan mutu layanan pendidikan melalui penguatan kepemimpinan pembelajaran dan budaya peduli lingkungan. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah mengembangkan program Sekolah HIBER (Hijau dan Bersih) melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema Transformasi Kepemimpinan Sekolah HIBER (Hijau dan Bersih).

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis (29/10/2026), pukul 13.00 hingga 17.00 WIB, bertempat di ruang kelas 2 SDN 4 Sukajaya. FGD yang diselenggarakan oleh Komunitas Belajar (KOMBEL) BERJAYA ini diikuti 17 peserta yang terdiri atas pendidik, tenaga kependidikan, komite sekolah, dan perwakilan orang tua.

Kepala SDN 4 Sukajaya, Suhendar, S.Pd., melalui sambungan telepon, Senin (2/11/2026), menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh pentingnya membangun kesadaran dan kebiasaan hidup bersih di lingkungan sekolah. Pasalnya, berdasarkan pengamatan, masih ditemukan sampah berserakan di halaman maupun di sekitar ruang kelas.

Menurutnya, persoalan kebersihan tidak cukup diselesaikan melalui instruksi, perintah, atau larangan. Diperlukan transformasi kepemimpinan yang mampu menggerakkan seluruh warga sekolah agar memiliki kesadaran dan tanggung jawab bersama terhadap lingkungan.

“Harapannya, kebersihan bukan lagi sekadar kegiatan karena ada jadwal piket atau perintah guru. Akan tetapi, menjadi kebiasaan yang tumbuh dari kesadaran masing-masing. Siswa memiliki inisiatif untuk memungut sampah yang ditemukan tanpa harus disuruh,” demikian semangat yang ingin dibangun melalui program Sekolah HIBER.

Dalam pelaksanaannya, FGD menggunakan pendekatan partisipatif melalui pemaparan kondisi sekolah, diskusi kelompok, presentasi hasil pembahasan, hingga perumusan kesepakatan dan rencana tindak lanjut. Peserta dibagi menjadi empat kelompok dengan fokus pembahasan meliputi kebiasaan dan budaya siswa, keteladanan guru, sarana prasarana pendukung, serta peran orang tua, komite, dan kemitraan masyarakat.

Dari hasil diskusi, teridentifikasi sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian, di antaranya kesadaran siswa terhadap kebersihan yang belum merata, keteladanan orang dewasa yang perlu diperkuat, sarana pendukung yang belum tertata optimal, serta perlunya kesinambungan pembiasaan hidup bersih antara lingkungan sekolah dan rumah.

FGD juga menghasilkan empat kesepakatan utama sebagai fondasi pelaksanaan Sekolah HIBER. Pertama, penghijauan kelas melalui penyediaan minimal satu pot tanaman di depan setiap kelas yang pengelolaan dan perawatannya melibatkan siswa. Kedua, penguatan pendampingan kebersihan dengan mengharuskan guru menemani dan memantau siswa ketika membersihkan ruang kelas masing-masing.

Ketiga, meningkatkan keterlibatan orang tua dalam mendukung kebersihan lingkungan, baik di dalam maupun di luar sekolah. Keempat, membangun sinergi dan harmonisasi internal antara sesama guru serta antara guru dan kepala sekolah agar pelaksanaan program berjalan secara konsisten.

Selain itu, peserta menyepakati bahwa Sekolah HIBER menjadi gerakan bersama seluruh warga sekolah. Pelaksanaannya akan diperkuat melalui pembentukan tim dan duta HIBER, pembiasaan membuang dan memungut sampah, penyediaan tempat sampah terpilah, penghijauan lingkungan, serta pengolahan sampah organik menjadi kompos.

Sebagai bentuk keberlanjutan, sekolah juga merancang kegiatan jeda bersih selama lima menit setiap pagi dan sebelum pulang, penilaian serta apresiasi kelas terbersih dan terhijau secara berkala, serta sosialisasi program kepada orang tua dan komite sekolah. Monitoring dan evaluasi akan dilakukan secara rutin untuk memastikan program berjalan sesuai target.

“Melalui program HIBER, kami berharap dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang bersih, hijau, asri, sehat, dan nyaman untuk kegiatan belajar mengajar. Lebih dari sekadar penataan lingkungan fisik, program ini diharapkan mampu menanamkan karakter peduli lingkungan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan gotong royong kepada peserta didik sejak dini,” pungkas Suhendar. (Jajang Sukmana)