SDN 2 Kota Kulon Kembangkan Program Team Learning

0
47
Kepala SD Negeri 2 Kota Kulon, H. Asep Saepul Mukti, S.Pd., M.Pd., MCE

GARUT — SD Negeri 2 Kota Kulon terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan melalui transformasi pelayanan pembelajaran. Salah satu langkah yang dikembangkan adalah Program Team Learning (pembelajaran tim), yang menjadi bagian dari Rancangan Proyek Transformasi Kepala Sekolah dengan fokus membangun budaya kolaborasi dan memperkuat kompetensi pedagogik guru.

Kepala SD Negeri 2 Kota Kulon, H. Asep Saepul Mukti, S.Pd., M.Pd., MCE, melalui sambungan telepon, Senin (2/11/2026), menjelaskan Program tersebut disampaikan kepada para guru dalam kegiatan yang berlangsung di ruang kelas serbaguna, Sabtu (31/10/2026) baru lalu.

H. Asep mengatakan, bahwa Program Team Learning dirancang sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas pelayanan pembelajaran melalui penguatan kerja sama dan budaya belajar bersama di lingkungan sekolah.

Menurutnya, transformasi pembelajaran membutuhkan keterlibatan seluruh guru dalam membangun ekosistem pendidikan yang kolaboratif. Guru tidak hanya dituntut mengembangkan kompetensi secara individual, tetapi juga perlu saling berbagi pengalaman, bertukar gagasan, serta belajar dari praktik pembelajaran rekan sejawat.

Program ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk mewujudkan kondisi pembelajaran yang ideal, yakni berpusat pada murid, inovatif, didukung budaya kolaborasi aktif antarguru, serta mampu menghadirkan mutu pelayanan belajar yang merata di setiap kelas.

Di sisi lain, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibenahi, di antaranya pola pembelajaran yang cenderung individualistis, praktik baik yang belum tersebar secara merata, serta variasi metode mengajar yang masih perlu dikembangkan.

Melalui Team Learning, sekolah menghadirkan wadah kolaboratif berupa komunitas belajar guru untuk bersama-sama merancang pembelajaran, melakukan observasi kelas, serta merefleksikan proses pembelajaran secara berkelanjutan.

Terdapat tiga tujuan utama dalam proyek transformasi tersebut. Pertama, meningkatkan budaya kolaborasi dengan membangun ekosistem kerja tim yang solid dan terstruktur, baik antarguru kelas maupun guru mata pelajaran. Kedua, memperkuat kompetensi pedagogik guru, khususnya dalam merancang metode pembelajaran yang inovatif dan berpusat pada murid. Ketiga, meningkatkan kepuasan peserta didik melalui pengalaman belajar yang lebih interaktif, menyenangkan, dan relevan dengan kebutuhan mereka.

Implementasi program diwujudkan melalui tiga kegiatan utama. Pertama, penguatan Komunitas Belajar (Kombel) melalui pertemuan mingguan untuk menyelaraskan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), menyusun modul ajar, serta menyiapkan media pembelajaran interaktif.

Kedua, kegiatan Peer Coaching dan observasi pembelajaran. Dalam kegiatan ini, guru secara bergantian mengunjungi kelas rekan sejawat untuk mengamati proses pembelajaran sekaligus memberikan masukan yang konstruktif sebagai bahan pengembangan kompetensi bersama.

Ketiga, refleksi dan bedah praktik baik melalui diskusi rutin untuk mengevaluasi proses pembelajaran, mengidentifikasi kendala yang dihadapi peserta didik, serta merumuskan solusi secara bersama-sama.

Untuk memastikan program berjalan terarah, sekolah menetapkan sejumlah indikator keberhasilan. Targetnya, 100 persen guru terlibat aktif dalam komunitas belajar internal, pelaksanaan kegiatan Team Learning sebanyak empat kali dalam sebulan, tingkat kepuasan dan antusiasme peserta didik terhadap kegiatan belajar mengajar mencapai lebih dari 85 persen, serta tersusunnya perangkat ajar kolaboratif yang melibatkan seluruh guru.

Rencana aksi proyek transformasi ini disusun dalam empat tahapan selama delapan minggu. Tahap pertama, persiapan pada minggu pertama, meliputi sosialisasi program, pembentukan tim kerja, serta penyusunan standar operasional prosedur (SOP) dan jadwal kegiatan.

Tahap kedua, pelaksanaan pada minggu kedua hingga keenam, meliputi peluncuran program, lokakarya internal, pendampingan Peer Coaching, serta penyusunan modul ajar secara kolaboratif. Tahap ketiga, monitoring dan evaluasi pada minggu ketujuh, dilakukan melalui pengisian angket umpan balik peserta didik dan evaluasi ketercapaian target bersama tim.

Selanjutnya, tahap keempat pada minggu kedelapan difokuskan pada penyusunan laporan akhir Rancangan Proyek Transformasi Kepala Sekolah (RPTKS) serta diseminasi hasil praktik baik kepada komunitas pendidikan di luar sekolah.

Dalam pelaksanaannya, sekolah juga menyiapkan langkah mitigasi terhadap sejumlah potensi kendala, seperti benturan jadwal kegiatan dengan tugas mengajar, tingkat partisipasi guru yang belum merata, serta keterbatasan anggaran operasional. Upaya antisipasi dilakukan melalui penetapan jadwal tetap yang disepakati bersama, pendekatan personal dan pemberian apresiasi kepada guru, serta pemanfaatan fasilitas digital gratis untuk mendukung kegiatan kolaborasi.

“Melalui program ini, kami berharap tercipta budaya belajar bersama yang tidak hanya meningkatkan kompetensi guru, tetapi juga berdampak langsung terhadap kualitas pengalaman belajar peserta didik,” ungkap H. Asep.

Ia menegaskan, kolaborasi menjadi kunci utama dalam mewujudkan pelayanan pembelajaran yang bermakna dan berpusat pada murid. “Dengan semangat transformasi tersebut, kami terus membangun komitmen untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas demi masa depan pendidikan,” tandasnya. (Jajang Sukmana)