Pasanggiri Rampak & Anggana Sekar antar Pelajar se-Kabupaten Garut 2025
GARUT – Persoalan kompleks bangsa tidak hanya berakar pada aspek politik, ekonomi, dan sosial, tetapi juga pada hilangnya jati diri budaya. Tradisi yang kian terpinggirkan oleh derasnya arus modernisasi menjadi keprihatinan bersama. Padahal, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, pelestarian seni dan budaya daerah adalah upaya memperteguh jati diri bangsa serta memperkaya keberagaman budaya.
Dalam semangat itulah, Pasanggiri Rampak & Anggana Sekar antar pelajar SD, SMP, dan SMA sederajat se-Kabupaten Garut tahun 2025 digelar pada 27–28 September. Ajang ini menjadi sarana bagi generasi muda untuk menampilkan kepiawaian dalam seni suara Sunda (kawih), baik secara individu (Anggana Sekar) maupun berkelompok (Rampak Sekar).

Ketua Panitia, Irno Sukarno, menegaskan bahwa kegiatan ini dimaksudkan untuk menanamkan kecintaan budaya sejak dini. “Kami khawatir tradisi mulai hilang. Sekarang, pada perayaan 17 Agustusan hampir tidak pernah lagi terlihat penampilan Rampak Sekar, baik dari ibu-ibu maupun pemuda Karang Taruna,” ujarnya melalui telepon selulernya pada Senin, 29 September 2025.
Pasanggiri ini diinisiasi oleh Ikatan Alumni ISBI Bandung (IA-ISBI) bekerja sama dengan Dewan Kesenian Garut dan Pusat Olah Seni Sunda Pasundan (POSS Pas). Kegiatan juga mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Disparbud Garut, Kemenag Garut, dan KCD Pendidikan Wilayah XI Jawa Barat, serta sejumlah pihak swasta seperti PT Tama Cokelat Indonesia (Chocodot), PT Herlinah Cipta Pratama (Dodol Picnic, Dolchoc, Pure Picnic 57), Hotel Harmoni, Hotel Sabda Alam, BRI Garut, hingga Komunitas Wahegar.
Pasanggiri perdana ini diikuti oleh perwakilan 19 kecamatan dari total 41 kecamatan di Garut:
- Tingkat SD: 20 peserta Anggana Sekar & 2 grup Rampak Sekar (9 kecamatan)
- Tingkat SMP: 30 peserta Anggana Sekar & 5 grup Rampak Sekar (12 kecamatan)
- Tingkat SMA/SMK/MA: 26 peserta Anggana Sekar & 4 grup Rampak Sekar (11 kecamatan)
Dewan juri didatangkan dari kalangan akademisi dan praktisi seni, di antaranya Komarudin, S.Kar., MM. (dosen ISBI Bandung), Elis Rosliani, M.Sn. (guru SMKN 10 Bandung), dan Iis Ida Rosidayati, S.Sn.
Setiap peserta diwajibkan membawakan dua lagu: satu lagu wajib dan satu pilihan dari karya-karya maestro kawih Sunda, mulai dari Mang Koko, Nano S., Dedy WNO, R. Mahyar, AK., Karna Yudibrata, hingga Wahyu Wibisana.
Pasanggiri yang bertepatan dengan peringatan Hari Pariwisata Dunia sekaligus Hari Komedi Indonesia (hari lahir Bing Slamet) ini ditutup oleh Kabid Kebudayaan Disparbud Garut, Wawan Somarwan, S.Sen., yang menyerahkan trofi, sertifikat, serta bingkisan bagi para pemenang.
Adapun hasil kejuaraan selengkapnya adalah sebagai berikut:


































