SMKN 4 Garut Perkuat Konservasi Kukang Jawa Lewat Konsultasi Publik di Karacak Valley

0
128
Perwakilan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat mengikuti Konsultasi Publik Biodiversity di SMKN 4 Garut untuk memperkuat sinergi pelestarian lingkungan. Rabu (3/6). Foto: Hendra YG.

GARUT,- Upaya pelestarian satwa dilindungi terus digencarkan SMK Negeri 4 Garut. Sekolah tersebut menggelar Konsultasi Publik Kegiatan Pengamatan Kukang Jawa di kawasan Karacak Valley, Gunung Karacak, Rabu (3/6/2026).

Bertempat di Aula SMKN 4 Garut, forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan strategi bersama dalam menjaga primata endemik Indonesia yang berstatus terancam punah.

Kepala SMKN 4 Garut, Pudji Santoso, mengatakan program konservasi ini merupakan bagian dari penguatan pendidikan vokasi berbasis lingkungan. Melalui program tersebut, siswa Jurusan Kehutanan tidak hanya memperoleh pembelajaran teori di kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam berbagai kegiatan konservasi dan pengelolaan ekosistem di lapangan.

“Program ini mengintegrasikan pembelajaran berbasis kompetensi dengan praktik lapangan. Siswa terlibat langsung dalam upaya pelestarian hutan dan satwa liar, khususnya Kukang Jawa,” ujar Pudji.

Pelaksanaan program konservasi ini didukung melalui kolaborasi dengan PT Federal International Finance (FIF) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) di bidang lingkungan. Selain itu, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat turut berperan aktif dalam mendukung koordinasi dan pengembangan kawasan konservasi.

Menurut Pudji, kemitraan antara SMKN 4 Garut dan FIF telah terjalin selama kurang lebih delapan tahun. Pada enam tahun pertama, program difokuskan pada kegiatan penghijauan dan penanaman pohon. Dalam dua tahun terakhir, cakupan program diperluas dengan fokus pada konservasi Kukang Jawa serta pemantauan habitatnya.

Pemilihan kawasan konservasi ini disesuaikan dengan kompetensi yang dimiliki Jurusan Kehutanan SMKN 4 Garut. Selain itu, kawasan Hutan Karacak dinilai memiliki potensi penting karena adanya indikasi kuat keberadaan populasi Kukang Jawa di wilayah tersebut.

Setiap angkatan, sekitar 136 siswa Jurusan Kehutanan terlibat secara bergilir dalam berbagai kegiatan lapangan. Kegiatan tersebut meliputi penanaman pohon, observasi malam untuk memantau keberadaan Kukang Jawa, hingga monitoring kondisi habitatnya.

Pudji menegaskan, program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan teknis siswa, tetapi juga membangun kepedulian dan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.

“”Keberlanjutan kegiatan pemantauan masih menjadi tantangan yang perlu diatasi. Oleh karena itu, observasi lapangan akan terus diintegrasikan ke dalam kurikulum Jurusan Kehutanan agar upaya konservasi dapat dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan,” pungkasnya.

Kepala Seksi Madya Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Perhutani KPH Garut, Saryana, menegaskan komitmen Perhutani dalam mendukung pengembangan Wisata Alam Karacak Valley yang berada di kawasan hutan lindung RPH Karangpawitan, BKPH Cibatu.

Menurutnya, kawasan tersebut memiliki potensi besar sebagai lokasi pengamatan keanekaragaman hayati sekaligus pusat edukasi konservasi berbasis lingkungan.

“Perhutani berkomitmen mendukung pemanfaatan kawasan hutan dengan memberikan akses serta pendampingan dalam pengelolaannya agar setiap aktivitas berjalan sesuai prinsip keberlanjutan. Selain itu, Perhutani terbuka untuk membangun kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap upaya konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati,” ujar Saryana.

Ia menegaskan, Perhutani berperan sebagai fasilitator dengan menyediakan lokasi dan akses kegiatan, tanpa mencampuri substansi penelitian yang dilakukan oleh pihak lain.

Melalui konsultasi publik ini, SMKN 4 Garut berharap dapat menghimpun berbagai masukan konstruktif dari kalangan akademisi, komunitas lingkungan, pemerintah, dan masyarakat. Masukan tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam upaya pelestarian Kukang Jawa beserta ekosistem hutan Karacak Valley secara berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua Tim Pelaksana Konsultasi Publik Biodiversity, Dadan Arief NM, menjelaskan bahwa Kukang Jawa merupakan primata endemik Jawa Barat yang masuk dalam daftar 25 primata paling terancam punah di dunia dengan status kritis (critically endangered). Kondisi tersebut dipicu oleh berbagai faktor, seperti perdagangan ilegal, perburuan liar, serta fragmentasi hutan akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan monokultur.

“Berdasarkan informasi dari masyarakat mengenai aktivitas perburuan pada malam hari, tim melakukan survei lapangan sejak Juli hingga Desember 2025. Hasilnya, tim berhasil mendokumentasikan sembilan individu Kukang Jawa, yang mengonfirmasi keberadaan populasi satwa tersebut di lokasi penelitian,” ujarnya.

Meski berstatus terancam punah, Dadan menegaskan bahwa upaya pemulihan populasi Kukang Jawa masih sangat memungkinkan dilakukan melalui pengayaan habitat. Fokus utama program ini adalah meningkatkan ketersediaan sumber pakan, tempat berlindung, serta area jelajah melalui penguatan keanekaragaman hayati di kawasan habitatnya.

Ia menambahkan, ancaman terbesar terhadap kelangsungan hidup Kukang Jawa masih berasal dari aktivitas manusia, terutama perburuan menggunakan anjing pemburu (dogi) serta perubahan fungsi hutan yang terus mengurangi kualitas dan luas habitat alami satwa tersebut.

Penentuan lokasi penelitian di Karacak Valley juga tidak terlepas dari peran masyarakat setempat. Informasi yang diberikan warga terkait aktivitas perburuan liar menjadi faktor penting dalam proses identifikasi dan pemetaan keberadaan Kukang Jawa di kawasan tersebut.

Sebagai tindak lanjut, upaya konservasi tidak berhenti pada tahap penelitian. Tahun ini, tim bersama para pemangku kepentingan berencana melakukan penanaman pada lahan seluas lima hektare di Karacak Valley sebagai bagian dari program pengayaan habitat. Langkah ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas lingkungan sekaligus memperkuat peluang pertumbuhan populasi Kukang Jawa di masa mendatang.

“Terdapat kontras antara kondisi Kukang Jawa yang saat ini berada di ambang kepunahan dengan optimisme tim peneliti bahwa populasinya dapat pulih dan meningkat kembali apabila kualitas habitatnya diperbaiki secara berkelanjutan dan berbasis pendekatan teknis yang tepat,” tutupnya. (Hendra YG)