Pasanggiri Rampak dan Anggana Sekar, Generasi Muda Garut Didorong Cinta Seni Sunda

0
127

GARUT – Para seniman dan pelaku seni yang tergabung dalam Pusat Olah Seni Sunda Pasundan (POSS Pas) dan Dewan Kesenian Garut (DKG) menggelar ajang “Pasanggiri Rampak dan Anggana Sekar” tingkat pelajar SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA se-Kabupaten Garut. Lomba berlangsung selama dua hari, Sabtu–Minggu, 27–28 September 2025, di Bale Paminton “Inten Dewata”, Jalan A. Yani, Kecamatan Garut Kota.

Ketua Panitia, Irno Sukarno yang juga Dewan Penasehat DKG, menuturkan bahwa Pasanggiri ini merupakan bentuk kepedulian para seniman untuk membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap seni tradisi Sunda.

“Kami berharap kegiatan ini bukan sekadar lomba, tapi menjadi langkah awal anak-anak Garut kembali mengenal dan menjiwai kawih Sunda. Bukan hanya lagunya, tetapi juga nilai perjuangan dan persatuan yang terkandung di dalamnya,” ujar Irno.

Irno menambahkan, gaung Pasanggiri semacam ini sudah lama tidak terdengar di Garut, bahkan di Jawa Barat. Saat ini, menurutnya, anak-anak lebih akrab dengan lagu-lagu modern ketimbang kawih Sunda.

Meski begitu, antusiasme peserta sangat tinggi, terutama dari wilayah Garut Selatan. “Untuk jenjang SMA sederajat, hampir 50 persen pesertanya berasal dari berbagai kecamatan di Garut. Ini menunjukkan seni budaya lebih tumbuh subur di daerah dibanding perkotaan,” ungkapnya.

Irno pun menyampaikan apresiasinya kepada sekolah-sekolah yang telah berpartisipasi. “Pembiayaan murni dari uang pendaftaran peserta. Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung. Semoga kebaikan ini dibalas Allah SWT dengan pahala berlipat,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, yang diwakili Kabid Kebudayaan Yana Suryana, S.Ip., memberikan apresiasi penuh terhadap penyelenggaraan Pasanggiri tersebut.

“Kegiatan ini selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Generasi muda harus dibiasakan berinteraksi dengan karya seni tradisional agar tumbuh kecintaan dan kebanggaan terhadap identitas budaya sendiri. Dengan kolaborasi pemerintah, komunitas seni, lembaga pendidikan, dan masyarakat, kita bisa menjaga kesinambungan seni budaya agar tetap hidup, berkembang, dan relevan dengan zaman,” tutur Yana.

Hal senada disampaikan Ketua Paguyuban Pasundan, Mokh. Ganjar Nurkoyim, S.Pd., M.Pd. Ia merasa bangga dan terharu kegiatan ini bisa kembali dihidupkan setelah sempat terpinggirkan.

“Beruntung masih ada yang peduli. Mudah-mudahan Pasanggiri ini bisa menjadi agenda rutin tahunan, sekaligus memotivasi generasi muda untuk melestarikan seni budaya Sunda,” ucapnya.

Dengan semangat kebersamaan, Pasanggiri Rampak dan Anggana Sekar ini bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga ruang silaturahmi, apresiasi, dan upaya menanamkan nilai luhur budaya Sunda kepada generasi penerus. ***Jajang Sukmana