SMPN 3 Cisurupan Ukir Sejarah, Tembus Semifinal LCC Garut

0
29

Setahun Ditempa, Perjuangan Siswa Berbuah Capaian Bersejarah

GARUT – Angka 500 poin menjadi catatan berharga bagi SMP Negeri 3 Cisurupan. Bukan semata karena menempatkan sekolah tersebut di posisi ketiga babak semifinal, tetapi karena angka itu menandai sebuah pencapaian yang belum pernah diraih sebelumnya: menembus semifinal Lomba Cerdas Cermat (LCC) Jenjang SMP Tingkat Kabupaten Garut.

Capaian bersejarah tersebut diraih dalam semifinal sesi kedua LCC Kabupaten Garut 2026 yang berlangsung di Gedung Pendopo Kabupaten Garut, Kamis (17/9/2026).

SMPN 3 Cisurupan harus bersaing dengan SMPN 1 Sukawening, SMPN 1 Bungbulang, dan SMPN 1 Cibalong. SMPN 1 Sukawening berada di posisi pertama dengan 950 poin, disusul SMPN 1 Bungbulang 750 poin. SMPN 3 Cisurupan mengoleksi 500 poin, sementara SMPN 1 Cibalong berada di posisi keempat dengan 375 poin.

Meski belum berhasil melaju ke babak final, hasil tersebut menjadi tonggak penting perjalanan prestasi sekolah. Sebab, untuk pertama kalinya SMPN 3 Cisurupan mampu melangkah hingga babak semifinal di tingkat Kabupaten Garut.

Wakasek Kesiswaan SMPN 3 Cisurupan, H. Salman Arif, S.Pd., M.Pd., mengatakan keberhasilan tersebut merupakan buah dari pembinaan yang dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Persiapan peserta didik telah dilakukan selama sekitar satu tahun dengan melibatkan para guru.

“Ini merupakan hasil kerja keras kami dalam mempersiapkan anak-anak selama satu tahun,” ujar Salman saat ditemui di ruang kerja kepala sekolah, Senin (21/9/2026).

Menurutnya, keberhasilan itu tidak lahir dari kerja satu atau dua orang guru. Seluruh guru ikut berkolaborasi memberikan pembinaan dan pendampingan kepada peserta didik.

“Kami mendidik dan membimbing mereka agar mendapatkan hasil yang maksimal. Ini suatu pencapaian yang sangat luar biasa, karena biasanya kami jarang masuk, tetapi alhamdulillah sekarang bisa sampai tingkat kabupaten,” katanya.

Proses pembinaan diawali melalui seleksi di lingkungan sekolah. Para siswa dipetakan berdasarkan prestasi dan kemampuan akademiknya. Dari proses tersebut, sekolah memilih beberapa siswa untuk mendapatkan pembinaan lebih intensif.

“Karena di sini ada beberapa rombel, kami melihat nilai pencapaian mereka. Dari situ dipilih tiga sampai empat siswa, termasuk untuk disiapkan cadangannya,” jelas Salman.

Pembinaan kemudian dilakukan secara rutin, termasuk setelah jam pelajaran berakhir. Bagi sekolah, proses tersebut bukan hanya mempersiapkan siswa untuk menjawab soal, tetapi juga melatih ketelitian, keberanian, kerja sama, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Pengalaman LCC 2026 kini menjadi modal bagi SMPN 3 Cisurupan untuk mempersiapkan diri lebih matang pada tahun berikutnya. Sekolah berencana memperluas seleksi dengan menyiapkan lima siswa.

“Untuk tahun depan rencananya lima orang. Kami seleksi dulu semuanya. Apalagi wacananya LCC tahun depan tidak hanya seperti materi kemarin, tetapi akan digabung dengan literasi dan numerasi,” ungkap Salman.

Ia menilai pengembangan materi tersebut dapat membuat kompetisi semakin mampu mengukur kemampuan siswa secara luas, tidak hanya dari penguasaan pengetahuan, tetapi juga kemampuan literasi, numerasi, penalaran, dan kompetensi lainnya.

Bagi SMPN 3 Cisurupan, semifinal LCC 2026 bukanlah akhir perjalanan. Justru, capaian tersebut menjadi awal untuk membangun tradisi prestasi yang lebih kuat.

500 poin menjadi bukti bahwa kerja keras selama setahun telah membawa siswa SMPN 3 Cisurupan ke panggung kompetisi tingkat kabupaten. Dari ruang kelas, mereka belajar. Dari proses pembinaan, mereka ditempa. Dan dari Pendopo Garut, mereka pulang membawa sebuah sejarah baru bagi sekolahnya.

“Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari guru. Kami membimbing siswa setelah pulang sekolah. Ada kerja keras yang dilakukan, dan Insyaallah dari kerja keras itu akan ada hasil atau buah yang didapat,” pungkas Salman. (Jajang Sukmana)