Mahasiswi Astrofisika di Italia: AI Jangan Gantikan Proses Berpikir Manusia

0
85

Mahasiswi Program Magister Astrofisika dan Kosmologi di Padua University, Italia, Jessica Syafaq Muthmaina, mengingatkan pentingnya menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara bijak agar tidak menggerus kemampuan berpikir kritis manusia.

Melalui tulisan yang dipublikasikan pada 10 Juli 2026, Jessica menegaskan bahwa dirinya bukanlah sosok yang anti terhadap perkembangan teknologi. Sebaliknya, ia mengaku aktif memanfaatkan AI, termasuk menjalankan Large Language Model (LLM) secara lokal di perangkat pribadinya untuk membantu pekerjaan seperti pemrograman (coding) dan aktivitas literasi yang bersifat repetitif.

Menurutnya, AI merupakan alat yang sangat bermanfaat apabila digunakan sesuai fungsinya. Namun, ia menilai ada batas yang tidak boleh dilanggar, yakni menyerahkan seluruh proses memahami, menganalisis, dan berpikir kepada mesin.

Jessica mengaitkan fenomena tersebut dengan konsep Jevons Paradox, yaitu kondisi ketika efisiensi justru meningkatkan tingkat penggunaan. Ia khawatir kemudahan yang ditawarkan AI membuat manusia semakin jarang melatih kemampuan berpikir, sehingga keterampilan seperti berpikir kritis, menganalisis, dan memecahkan persoalan perlahan mengalami penurunan.

“Belajar yang sulit bukanlah sebuah kelemahan, melainkan bagian penting dari proses membangun kemampuan berpikir,” tulisnya.

Ia juga menyoroti maraknya penggunaan AI dalam dunia akademik. Jessica mengungkapkan keprihatinannya terhadap munculnya karya ilmiah yang memanfaatkan AI secara tidak bertanggung jawab, seperti penggunaan data yang tidak dapat diverifikasi, referensi fiktif, hingga kesimpulan yang tidak didasarkan pada penelitian.

Menurutnya, praktik tersebut bukan sekadar pelanggaran etika akademik, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan terhadap dunia ilmiah dan memperberat proses penelaahan (peer review) dalam publikasi ilmiah.

Selain itu, Jessica menilai besarnya investasi yang mengalir ke industri AI dapat memunculkan tekanan bagi berbagai pihak untuk menampilkan kemampuan teknologi secara berlebihan demi kepentingan bisnis. Kondisi tersebut, menurutnya, berisiko menggeser orientasi dari pencarian kebenaran menuju sekadar mengejar produktivitas.

Di akhir tulisannya, Jessica kembali menegaskan bahwa dirinya tidak menolak AI. Ia justru mengajak masyarakat untuk menjadikan teknologi sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir manusia.

Ia menutup tulisannya dengan sebuah refleksi, yakni ketika seseorang menggunakan AI untuk berpikir, menulis, atau memahami sesuatu yang seharusnya dipelajari sendiri, maka muncul pertanyaan mendasar: siapa yang sebenarnya sedang belajar?

Bagi Jessica, nilai sebuah proses belajar bukan hanya terletak pada hasil akhirnya, melainkan pada perjuangan intelektual yang membentuk kemampuan manusia dalam menghadapi persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan memberikan perintah kepada mesin. (*)