GARUT – SDN 1 Tarogong mengawali Tahun Ajaran 2026/2027 dengan menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Ramah yang mengusung konsep pelestarian budaya Sunda, Senin (13/7/2026). Kegiatan ini menghadirkan suasana istimewa sejak hari pertama masuk sekolah dengan menyambut peserta didik baru melalui prosesi adat Sunda yang sarat makna.
Sebanyak tiga rombongan belajar (rombel) peserta didik baru bersama orang tua disambut oleh Abah Lengser yang diiringi alunan musik tradisional Sunda. Penyambutan tersebut menciptakan kesan hangat dan membanggakan bagi para orang tua yang mengantarkan putra-putrinya menempuh pendidikan di sekolah yang mereka harapkan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta doa bersama. Selanjutnya, Kepala SDN 1 Tarogong, Sadiah, S.Pd., secara resmi membuka kegiatan MPLS dengan memukul gong sebagai tanda dimulainya masa pengenalan lingkungan sekolah.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyambutan secara simbolis tiga orang peserta didik baru yang mewakili tiga rombongan belajar. Abah Lengser memasangkan tanda pengenal (name tag) sebagai simbol diterimanya mereka menjadi bagian dari keluarga besar SDN 1 Tarogong.
Dalam sambutannya, Sadiah mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta didik baru dan mengajak mereka memulai perjalanan pendidikan dengan penuh semangat.
“Selamat datang dan selamat bergabung di SDN 1 Tarogong. Hari ini merupakan awal perjalanan kalian dalam menuntut ilmu. Datanglah ke sekolah dengan hati yang senang dan gembira, belajar dengan semangat, pulang membawa ilmu, lalu kembali ke sekolah dengan penuh kebahagiaan,” pesannya.

Ia menjelaskan, selama MPLS para peserta didik akan dikenalkan dengan lingkungan sekolah, para guru, teman-teman baru, budaya positif yang diterapkan di sekolah, serta berbagai kegiatan ekstrakurikuler, di antaranya Dokter Kecil (Dokcil), Adiwiyata, kegiatan keagamaan, pencak silat, dan Pramuka.
Menurutnya, MPLS bukan sekadar mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi momentum pembentukan karakter peserta didik melalui penerapan Tujuh Kebiasaan Anak Hebat Indonesia, sehingga sejak dini mereka terbiasa berdisiplin, mandiri, bertanggung jawab, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Mengusung tema “Mapag Elmu, Ngamumule Budaya, Ngamimitian Lengkah, Ngawangun Karakter, Ngajaga Budaya Sunda”, sekolah memadukan pendidikan karakter dengan pelestarian budaya lokal dan kepedulian terhadap lingkungan.

Sebagai implementasi konsep MPLS Ramah, sekolah juga menghadirkan Bale Atikan SDN 1 Tarogong, sebuah taman edukasi yang dibangun menggunakan berbagai bahan alami. Taman tersebut menjadi media pembelajaran bagi peserta didik untuk mengenal tanaman pangan tradisional, menumbuhkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus mengenalkan gaya hidup masyarakat Sunda tempo dulu sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya daerah.
Setelah peserta didik memasuki ruang kelas, para orang tua diarahkan menuju Bale Atikan untuk menuliskan pesan, kesan, dan harapan kepada sekolah pada kartu yang telah disediakan. Kegiatan tersebut menjadi simbol kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Pelaksanaan MPLS di SDN 1 Tarogong mengacu pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 tentang Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan. Kegiatan dilaksanakan selama lima hari pada pekan pertama tahun ajaran baru dengan mengedepankan prinsip MPLS Ramah, yakni ramah terhadap anak, ramah terhadap lingkungan, dan ramah anggaran, serta bebas dari perpeloncoan, kekerasan, maupun pungutan liar.

Melalui konsep yang memadukan budaya Sunda, pendidikan karakter, dan kepedulian terhadap lingkungan, SDN 1 Tarogong berharap setiap peserta didik baru dapat memulai perjalanan belajarnya dengan penuh kegembiraan, merasa aman dan nyaman di sekolah, serta tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, mencintai budaya, dan peduli terhadap lingkungan. (Jajang Sukmana)
































