Apel Pagi di SDN 7 Kota Kulon, Tanamkan Karakter dan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

0
13

GARUT – SDN 7 Kota Kulon, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, terus membangun karakter peserta didik melalui pembiasaan apel pagi sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Program ini menjadi salah satu upaya sekolah dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, toleransi, cinta tanah air, serta penguatan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

Kepala SDN 7 Kota Kulon, Sri Asdianwati, S.Pd., M.Pd., saat ditemui di sela-sela kegiatan lomba memasak mi goreng di Gedung PGRI Cabang Garut Kota, Kamis (5/11/2026), menjelaskan bahwa apel pagi bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari pembiasaan positif untuk membentuk karakter dan kepribadian peserta didik.

Menurutnya, melalui kegiatan apel pagi, sekolah dapat menanamkan sekaligus membiasakan nilai-nilai yang terkandung dalam program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Salah satunya adalah membangun kebiasaan bangun pagi dan melaksanakan ibadah.

“Melalui apel pagi, kita bisa melihat kedisiplinan anak, termasuk siapa yang datang terlambat. Ini menjadi salah satu cara untuk membiasakan anak bangun pagi, mempersiapkan diri, dan melaksanakan ibadah sebelum berangkat ke sekolah,” jelasnya.

Selain kedisiplinan, apel pagi juga menjadi sarana melatih toleransi dan kepedulian terhadap sesama. Hal tersebut terlihat ketika para siswa diminta berbaris dengan tertib sesuai postur tubuh, yakni siswa yang lebih tinggi berada di barisan belakang, sedangkan siswa yang lebih pendek menempati barisan depan.

Pembiasaan sederhana tersebut mengajarkan anak untuk saling menghargai, memahami perbedaan, serta menempatkan diri dengan baik dalam kebersamaan. Dengan demikian, nilai toleransi tidak hanya disampaikan melalui materi pembelajaran, tetapi langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

Dalam pelaksanaannya, apel pagi juga diisi dengan menyanyikan lagu-lagu wajib nasional dan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan rasa nasionalisme, memperkuat semangat persatuan, serta menanamkan kecintaan peserta didik terhadap bangsa dan tanah air sejak usia dini.

Sementara itu, kegiatan apel pagi ditutup dengan doa bersama, salah satunya membaca Surah Al-Fatihah. Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak membangun kebiasaan berdoa sekaligus menumbuhkan kepedulian dan rasa empati terhadap orang lain.

Doa bersama itu dipanjatkan untuk kebaikan diri sendiri, kedua orang tua, para guru, serta saudara-saudara yang sedang mengalami musibah atau tertimpa bencana. Baik bencana alam maupun bencana yang terjadi akibat ulah manusia.

“Melalui doa bersama, kami ingin mengajarkan anak-anak agar tidak hanya mendoakan dirinya sendiri, tetapi juga orang tua, guru, dan saudara-saudara kita yang sedang mendapatkan musibah. Kami ingin menanamkan kepedulian dan rasa kemanusiaan sejak dini,” ungkap Sri.

Ia berharap, pembiasaan apel pagi dapat membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter yang baik, disiplin, religius, toleran, nasionalis, serta peduli terhadap lingkungan dan sesama.

“Apel pagi menjadi bagian penting dari budaya positif sekolah. Nilai-nilai yang ditanamkan melalui kegiatan sederhana tersebut diharapkan dapat terbawa dalam kehidupan peserta didik, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat,” pungkasnya. (Jajang Sukmana)