Menjelang Purna Tugas, Kepala SDN 3 Kota Wetan Tetap Berkarya, Selamatkan Aset Sekolah dengan Tangan Sendiri

0
17

GARUT, Sabtu (7/11/2026) – Masa menjelang purna tugas bukan menjadi alasan untuk mengendurkan semangat pengabdian. Justru di penghujung masa tugasnya, Kepala SDN 3 Kota Wetan, Dindin, S.Pd., masih menunjukkan kepedulian dan dedikasi nyata terhadap sekolah yang dipimpinnya. Salah satunya dengan membuat sendiri konstruksi pengaman Papan Interaktif Digital (PID) menggunakan besi yang dirancang, dipotong, hingga dilas dengan tangannya sendiri.

SDN 3 Kota Wetan yang beralamat di Jalan Gagaklumayung No. 51, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, menjadi tempat Dindin terus mencurahkan perhatian dan keterampilannya. Baginya, menjaga fasilitas sekolah bukan sekadar pekerjaan rutin, melainkan bagian dari tanggung jawab untuk memastikan sarana pendidikan tetap aman, terawat, dan bermanfaat.

Menariknya, pembuatan pengaman PID tersebut tidak mengandalkan tenaga ahli ataupun memesan kepada pihak lain. Dindin memanfaatkan keterampilan pertukangan serta peralatan milik pribadinya, termasuk mesin las, untuk membuat konstruksi pelindung perangkat pembelajaran tersebut. Langkah sederhana itu dilakukannya sebagai bentuk kepedulian dalam menjaga aset negara agar tidak mudah rusak dan tetap dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

Baginya, keberadaan PID bukan sekadar fasilitas sekolah, melainkan sarana penting untuk mendukung pembelajaran yang lebih modern. PID merupakan perangkat layar sentuh interaktif yang memungkinkan guru menyampaikan materi secara visual, menarik, dan kolaboratif. Karena itu, perangkat yang telah disediakan pemerintah tersebut perlu dijaga, dirawat, dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Kepeduliannya terhadap fasilitas pembelajaran juga terlihat dari kreativitasnya membuat papan tulis multifungsi. Salah satu sisinya berwarna putih untuk kegiatan pembelajaran menggunakan spidol whiteboard. Sementara sisi lainnya berwarna hitam dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan menulis tegak bersambung. Dengan rancangan tersebut, satu fasilitas dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan pembelajaran yang berbeda.

Kreativitas itu menunjukkan bahwa menghadirkan sarana pembelajaran yang bermanfaat tidak selalu harus melalui pengadaan barang baru. Dengan keterampilan, kemauan, dan sedikit kreativitas, berbagai kebutuhan sekolah dapat diatasi melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia.

Diketahui, Dindin memang memiliki keahlian di bidang bangunan dan pertukangan. Berbagai peralatan kerja tersedia cukup lengkap, mulai dari mesin bor, mesin serut, alat ukur presisi bangunan, hingga perlengkapan pertukangan lainnya. Peralatan tersebut kerap dimanfaatkan untuk merawat, memperbaiki, bahkan membuat berbagai fasilitas yang dibutuhkan sekolah.

Tidak sedikit pekerjaan yang ditanganinya secara langsung, sesekali dibantu beberapa guru. Belum lama ini, misalnya, ia membuat pintu ruang kelas, memperbaiki toilet, meja dan kursi peserta didik, lemari, serta sejumlah fasilitas sekolah lainnya yang membutuhkan penanganan.

Kemampuannya pun tidak terbatas pada urusan bangunan. Dindin dikenal rajin merawat tanaman di lingkungan sekolah. Ia juga memiliki keterampilan memperbaiki berbagai perangkat elektronik, termasuk laptop. Beragam pekerjaan teknis yang membutuhkan ketelitian dan keterampilan kerap diselesaikannya sendiri dengan memanfaatkan kemampuan serta peralatan yang dimiliki.

Tak heran, sejumlah guru di lingkungan SDN 3 Kota Wetan memberikan apresiasi terhadap sosok kepala sekolah tersebut. Di mata mereka, Dindin merupakan pribadi yang motekar, istilah Sunda untuk menggambarkan seseorang yang kreatif, terampil, banyak akal, dan pandai mencari solusi ketika menghadapi persoalan.

“Pak Dindin itu motekar, peralatan juga ada. Apa-apa bisa dikerjakan sendiri,” demikian ungkapan kekaguman sejumlah guru terhadap sosok kepala sekolah yang dikenal cekatan dan gemar turun tangan langsung dalam memenuhi kebutuhan sekolah.

Hal yang membuat dedikasinya semakin menarik, Dindin kini tinggal menghitung bulan menuju masa purna tugas yang dijadwalkan pada Juni 2027. Meski waktu pengabdiannya sebagai kepala sekolah semakin dekat dengan akhir, semangatnya untuk membenahi sekolah tidak surut. Ia tetap berupaya memastikan berbagai fasilitas pendidikan terawat, berfungsi dengan baik, dan dapat digunakan secara optimal oleh guru maupun peserta didik.

Apa yang dilakukan Dindin menjadi gambaran bahwa pengabdian seorang kepala sekolah tidak semata-mata diukur dari jabatan ataupun panjangnya masa kerja. Kepedulian, kreativitas, keterampilan, serta kesediaan mencurahkan tenaga untuk kepentingan bersama merupakan nilai yang jauh lebih bermakna dan akan terus dikenang.

Bagi Dindin, menjaga sekolah bukan hanya tentang menjalankan tugas sebagai kepala sekolah, melainkan juga merawat amanah yang dipercayakan kepadanya. Menjelang purna tugas, ia masih ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi sekolah yang selama ini dipimpinnya. Sebuah warisan sederhana, tetapi nyata: fasilitas yang lebih terawat, aset negara yang terlindungi, dan lingkungan belajar yang semakin nyaman bagi generasi penerus. (Jajang Sukmana)