
GARUT — Dalam rangka meningkatkan kompetensi, profesionalisme, sekaligus membuka ruang pengembangan karier guru, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Garut menggelar Pembinaan Profesi Guru yang dirangkaikan dengan Launching Kegiatan HUT ke-81 PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN) ke-32 Tahun 2026.
Kegiatan berlangsung di Auditorium Rektorat Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut, Rabu (23/9/2026), mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama PGRI Kabupaten Garut dengan IPI Garut dan diikuti sekitar 300 peserta yang terdiri atas 252 guru berkualifikasi Sarjana (S1) dari 42 kecamatan serta unsur pengurus PGRI Kabupaten Garut.
Sebanyak 252 guru tersebut merupakan perwakilan dari seluruh kecamatan di Kabupaten Garut, dengan masing-masing kecamatan mengirimkan enam guru. Mereka mendapatkan pembinaan secara khusus dari lima narasumber utama yang berasal dari unsur pemerintah daerah, organisasi profesi, dan perguruan tinggi.

Kelima narasumber tersebut yakni Kepala Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD) Kabupaten Garut Kristianti Wahyuni, S.H., M.H.; Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut H. Asep Wawan Budiman, S.Pd., M.Si.; Ketua PGRI Kabupaten Garut Dr. H. Encep Suherman, M.Pd.; serta Rektor IPI yang diwakili oleh Wakil Direktur (Wadir) 2 Program Pascasarjana IPI Garut, Dr. Jamilah, S.H., M.Pd., Direktur Pascasarjana diwakili oleh Wakil Direktur (Wadir) 1 Program Pascasarjana IPI Garut, Dr. Dian, M.Pd.; Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IPI Garut, Dr. Agus Hamdani, M.Pd.; dan Ketua Program Studi Magister Pendidikan Matematika, Dr. R. Sundayana, M.Pd.
Dalam laporan panitia, Wakil Ketua III, H. Nanang Sundawan, S.Pd., menyampaikan bahwa pembinaan profesi guru tersebut menjadi agenda pembuka secara resmi rangkaian kegiatan PGRI Kabupaten Garut Tahun 2026. Sebelumnya, PGRI Garut telah mengawali rangkaian kegiatan melalui agenda pendahuluan berupa senam kebugaran PGRI.
“Pembinaan profesi guru ini merupakan pembukaan secara resmi agenda kegiatan PGRI Kabupaten Garut tahun 2026. Kegiatan ini menjadi pintu masuk bagi berbagai kegiatan yang akan diselenggarakan PGRI Kabupaten Garut,” ujarnya.

Ia menyampaikan apresiasi kepada para peserta yang datang dari berbagai wilayah Kabupaten Garut, mulai Malangbong hingga Talegong, serta Cibatu hingga Cisewu. Menurutnya, kehadiran para guru tersebut menunjukkan antusiasme dan semangat untuk bersama-sama menguatkan marwah organisasi profesi guru.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada IPI Garut yang telah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan, termasuk dukungan tempat dan kebutuhan kegiatan. Ia berharap kolaborasi antara PGRI dan IPI dapat terus berkembang dalam memberikan ruang peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru.
Sementara itu, Ketua PGRI Kabupaten Garut Dr. H. Encep Suherman, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian HUT ke-81 PGRI dan HGN ke-32 Kabupaten Garut yang akan berlangsung hingga 28 November 2026.

Encep mengapresiasi antusiasme peserta yang mengikuti pembinaan profesi guru. Ia menyebut kegiatan tersebut menjadi momentum bersejarah karena IPI Garut bersama PGRI Kabupaten Garut memberikan ruang khusus bagi guru untuk memperoleh penguatan, bukan hanya dalam aspek akademik, tetapi juga aspek nonakademik yang berkaitan dengan profesi dan kehidupan sosial guru.
Menurutnya, guru memiliki empat kompetensi utama, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Dua kompetensi terakhir yang berkaitan dengan kepribadian dan sosial, menurut Encep, perlu terus diperbarui dan diperkuat seiring perubahan zaman.
“Kompetensi guru itu ada empat, yakni kompetensi kepribadian, sosial, profesional, dan pedagogik. Kompetensi profesional dan pedagogik tentu sudah sangat akrab dengan tugas guru. Tetapi kompetensi kepribadian dan sosial juga harus terus kita update, terutama di era globalisasi yang akselerasinya semakin cepat,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa guru merupakan figur yang selalu mendapat perhatian masyarakat. Apa yang dilakukan guru, baik di dalam maupun di luar kelas, dapat menjadi perhatian dan cerminan bagi lingkungan sekitarnya.
Karena itu, Encep menekankan pentingnya guru menjaga sikap, perilaku, adab, dan akhlak. Menurutnya, profesionalisme guru tidak cukup hanya dibangun melalui peningkatan kemampuan akademik, tetapi harus berjalan beriringan dengan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
“Apapun yang kita lakukan, entah di dalam kelas maupun di luar kelas, pasti memiliki tempat di mata masyarakat. Karena itu, guru harus terus menjaga diri. Kita harus kembali kepada jati diri bahwa guru adalah sosok yang menjadi teladan,” tegasnya.
Ia berharap pembinaan profesi guru ini memberikan manfaat nyata bagi peserta sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat kualitas guru di Kabupaten Garut. Kegiatan tersebut juga diharapkan memperkokoh sinergi antara PGRI, pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, BKD, dan perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan profesi guru.
Dalam kesempatan tersebut, Dewan Pembina PGRI Kabupaten Garut sekaligus tokoh pendidikan, Dra. Hj. Empat Patimah Sambas, S.Pd., memberikan penguatan kepada seluruh peserta mengenai pentingnya menjalankan tugas pokok dan fungsi sebagai guru dengan penuh ketulusan. Menurutnya, profesi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi amanah yang harus dijalankan dengan hati yang bersih dan niat yang baik agar setiap langkah pengabdian membawa keberkahan dalam kehidupan.
Ia menekankan, guru memiliki peran strategis dalam mempersiapkan generasi masa depan sekaligus mewujudkan cita-cita Indonesia Emas. Karena itu, keteladanan guru tidak hanya tercermin dari kemampuan mengajar, tetapi juga dari sikap, perilaku, etika, dan cara menjalani kehidupan sehari-hari.
“Jangan banyak gaya kalau tidak punya peluang untuk mengubah gaya hidup,” pesannya, seraya mengingatkan para guru agar lebih bijak dalam menempatkan diri, menjaga pola hidup, serta membangun karakter yang selaras dengan tanggung jawab profesinya.
Menurutnya, upaya membangun generasi emas harus dimulai dari diri sendiri. Guru perlu terlebih dahulu memberikan contoh melalui etika dan attitude yang baik, sehingga nilai-nilai tersebut dapat ditularkan kepada peserta didik dalam kehidupan di sekolah maupun di tengah masyarakat.
“Marilah kita bangun generasi emas bersama-sama, dimulai dari etika dan attitude diri kita masing-masing,” ajaknya. (Jajang Sukmana)




































