Oleh : Ayi Aam
Ajang Inovasi, Kreasi, dan Kolaborasi Pendidik yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Garut pada 28 Juni 2026 merupakan langkah positif dalam mendorong lahirnya berbagai inovasi pembelajaran yang kreatif, inspiratif, dan berdampak bagi dunia pendidikan. Kegiatan seperti ini patut diapresiasi karena menjadi ruang bagi para guru untuk saling berbagi praktik baik serta menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai persoalan pembelajaran.
Namun, keberhasilan sebuah kompetisi tidak hanya ditentukan oleh kualitas peserta yang mengikuti perlombaan, tetapi juga oleh kredibilitas sistem penilaian yang diterapkan. Sebab, kepercayaan peserta dibangun bukan hanya dari hasil akhir, melainkan dari keyakinan bahwa setiap karya dinilai menggunakan standar yang sama.
Berdasarkan rekapitulasi hasil penilaian, terdapat temuan adanya perbedaan nilai yang sangat mencolok antarjuri terhadap salah satu peserta. Dua juri memberikan penilaian pada kategori sangat baik, sedangkan satu juri memberikan nilai yang jauh lebih rendah pada hampir seluruh aspek penilaian. Bahkan, selisih skor mencapai 2 poin pada beberapa aspek dalam skala penilaian 1–4. Perbedaan sebesar ini tentu menjadi perhatian dan layak menjadi bahan refleksi bersama.
Dalam kajian evaluasi pendidikan, kondisi tersebut dikenal sebagai inter-rater disagreement, yaitu perbedaan persepsi antarpenilai terhadap objek yang sama. Perbedaan penilaian merupakan sesuatu yang wajar karena setiap juri memiliki sudut pandang masing-masing. Akan tetapi, apabila selisih penilaian sangat jauh pada hampir seluruh aspek, maka kondisi tersebut patut dievaluasi untuk memastikan bahwa rubrik benar-benar diterapkan secara konsisten.
Lebih jauh lagi, inovasi pendidikan bukan hanya sekadar kemampuan melakukan presentasi di hadapan dewan juri. Hakikat inovasi adalah menghadirkan solusi yang mampu memberikan dampak nyata, kebermanfaatan, keberlanjutan program, serta peluang untuk direplikasi di berbagai satuan pendidikan. Presentasi hanyalah media untuk menjelaskan inovasi, sedangkan substansi yang seharusnya menjadi fokus utama adalah sejauh mana inovasi tersebut mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dan memberikan manfaat bagi peserta didik.
Oleh karena itu, sistem penilaian sebaiknya tidak hanya berorientasi pada performa presentasi, tetapi juga mempertimbangkan implementasi inovasi, bukti dampak, keberlanjutan program, serta kontribusinya terhadap pengembangan pendidikan.
Beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam penyelenggaraan kegiatan serupa ke depan adalah:
1. Rubrik penilaian perlu dibuat lebih rinci dan operasional.
Setiap aspek, seperti naskah, penguasaan materi, presentasi, dan respons, sebaiknya memiliki indikator yang jelas sehingga tidak menimbulkan perbedaan interpretasi yang terlalu jauh.
2. Kalibrasi juri perlu dilakukan sebelum penilaian.
Penyamaan persepsi terhadap rubrik akan membantu menghasilkan penilaian yang lebih konsisten antarjuri.
3. Perbedaan nilai yang signifikan sebaiknya disertai argumentasi akademik.
Catatan penilaian akan menjadi bentuk transparansi sekaligus memberikan umpan balik yang bermanfaat bagi peserta.
4. Independensi dewan juri perlu terus diperkuat.
Ke depan, penyelenggara dapat mempertimbangkan melibatkan akademisi, praktisi pendidikan, maupun pakar dari luar kepengurusan organisasi penyelenggara. Langkah ini bukan untuk meragukan profesionalisme juri, melainkan sebagai bentuk penguatan independensi, menghindari potensi maupun persepsi konflik kepentingan, serta meningkatkan kepercayaan seluruh peserta terhadap proses penjurian.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mempersoalkan hasil perlombaan ataupun mendiskreditkan pihak mana pun. Sebaliknya, tulisan ini merupakan refleksi akademik yang diharapkan dapat menjadi masukan konstruktif bagi penyelenggara agar kualitas kompetisi semakin baik dari waktu ke waktu.
Pada akhirnya, tujuan sebuah ajang inovasi pendidikan bukan sekadar menentukan siapa yang menjadi juara. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap inovasi dinilai secara objektif, transparan, konsisten, dan berdasarkan substansi serta dampaknya terhadap pendidikan.
Sebab, dalam dunia pendidikan, kepercayaan terhadap proses adalah fondasi utama. Ketika proses dipercaya, hasil akan lebih mudah diterima. Namun ketika proses masih menyisakan pertanyaan, maka evaluasi merupakan langkah terbaik untuk menghadirkan kompetisi yang semakin profesional dan berintegritas. (*)



































