GARUT — Pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang Sekolah Dasar (SD) Tingkat Kecamatan Tahun 2026 di Kabupaten Garut menyisakan catatan penting. Di tengah upaya melestarikan bahasa dan seni budaya daerah, tingkat partisipasi murid dalam ajang tersebut di sejumlah kecamatan masih tergolong rendah.
FTBI sejatinya bukan sekadar ajang perlombaan. Festival ini menjadi salah satu ruang bagi generasi muda untuk mengenal, menggunakan, mencintai, sekaligus melestarikan bahasa ibu, khususnya bahasa Sunda, beserta berbagai seni dan tradisi yang menyertainya.
Namun, data yang dihimpun redaksi dari pelaksanaan FTBI SD tingkat kecamatan di sejumlah wilayah Kabupaten Garut menunjukkan adanya kesenjangan cukup besar antara jumlah peserta yang seharusnya mengikuti festival dengan peserta yang benar-benar terlibat.
Redaksi mencatat, di Kecamatan Garut Kota, dari 70 SD, peserta FTBI tercatat sebanyak 420 murid atau sekitar 42,8 persen, dari jumlah yang seharusnya mencapai 980 peserta.
Sementara itu, Kecamatan Bayongbong dengan 56 SD hanya mencatat 225 peserta atau 28,7 persen, dari jumlah ideal sebanyak 784 peserta.
Di Kecamatan Cisurupan, sebanyak 238 murid dari 51 SD mengikuti FTBI atau sekitar 33,4 persen dari 714 peserta yang seharusnya.
Sedangkan Kecamatan Tarogong Kidul mencatat partisipasi relatif lebih tinggi dibanding beberapa kecamatan lainnya, yakni 264 peserta atau 47,15 persen dari 40 SD, dengan jumlah peserta yang seharusnya mencapai 560 murid.
Jika data tersebut dibaca sebagai gambaran awal, maka terlihat bahwa belum seluruh satuan pendidikan dapat mengikutsertakan murid secara optimal dalam FTBI. Kondisi ini patut menjadi bahan evaluasi bersama, bukan semata-mata untuk mencari pihak yang harus disalahkan, melainkan untuk mengetahui berbagai faktor yang menyebabkan rendahnya partisipasi.
Pasalnya, semakin sedikit anak yang mendapatkan ruang untuk berlatih dan tampil menggunakan bahasa ibu, semakin terbatas pula kesempatan untuk menumbuhkan rasa percaya diri, kecintaan, dan kebanggaan terhadap bahasa serta budaya daerah.
Apabila kondisi tersebut berlangsung secara terus-menerus, bukan tidak mungkin regenerasi pelaku seni dan pengguna bahasa Sunda di kalangan generasi muda akan menghadapi tantangan yang semakin besar.
FTBI karenanya perlu ditempatkan bukan hanya sebagai agenda tahunan dengan orientasi kompetisi, tetapi sebagai bagian dari gerakan kebudayaan di lingkungan sekolah. Keterlibatan sekolah, guru, orang tua, pengawas, K3S/K2S, PGRI, serta pemangku kepentingan lainnya menjadi penting agar pembinaan bahasa dan budaya Sunda tidak berhenti pada saat festival berlangsung.
Kepala Bidang Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Ai Sadidah, S.Pd., M.Pd., M.Si., saat dihubungi melalui telepon selulernya, Kamis (3/9/2026), menyampaikan bahwa data partisipasi FTBI 2026 akan menjadi bahan evaluasi bersama bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Garut.
“Dinas Pendidikan Kabupaten Garut memandang data partisipasi FTBI 2026 sebagai bahan evaluasi bersama. Kami akan melakukan verifikasi dan mendorong penguatan pembinaan di sekolah agar FTBI tidak sekadar menjadi ajang perlombaan, tetapi menjadi bagian dari gerakan mencintai dan melestarikan bahasa serta budaya Sunda,” ujarnya.
Menurutnya, upaya pelestarian bahasa ibu tidak boleh berhenti pada pelaksanaan festival atau perlombaan semata. Bahasa ibu harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak, baik di lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat.
“Yang terpenting, bahasa ibu tidak hanya hadir saat festival, tetapi hidup dalam keseharian anak di sekolah, keluarga, dan masyarakat,” tegasnya.
Catatan partisipasi FTBI 2026 tersebut semestinya menjadi momentum evaluasi. Terlebih, bahasa ibu merupakan bagian penting dari identitas budaya yang membutuhkan proses pewarisan antargenerasi.
Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan bahasa Sunda sebagai materi pembelajaran. Anak-anak juga perlu diberikan ruang untuk ngabasa, ngaregepkeun, nyarita, maca, nulis, ngawih, maca sajak, dongeng, dan mengenal berbagai bentuk seni budaya Sunda secara menyenangkan.
Dengan demikian, rendahnya angka partisipasi FTBI tahun ini jangan sampai sekadar menjadi angka dalam laporan kegiatan. Data tersebut perlu dibaca sebagai alarm bersama bahwa pelestarian bahasa ibu membutuhkan perhatian yang lebih serius, konsisten, dan melibatkan lebih banyak anak sejak jenjang sekolah dasar.
Sebab, ketika semakin sedikit generasi muda yang menggunakan dan mencintai bahasa ibunya, yang dipertaruhkan bukan hanya keberlangsungan sebuah bahasa, tetapi juga identitas dan kekayaan budaya yang melekat di dalamnya. (Jajang Sukmana)



































