GARUT — Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang Sekolah Dasar (SD) Tingkat Kecamatan Bayongbong Tahun 2026 berlangsung semarak. Namun, di balik kemeriahan pelaksanaannya, tingkat partisipasi peserta masih menjadi catatan penting.
Dari 56 SD negeri dan swasta se-Kecamatan Bayongbong, terdapat potensi sekitar 784 peserta yang dapat mengikuti festival. Namun, peserta yang tercatat mengikuti seleksi tahun ini hanya 225 murid, atau sekitar 28,7 persen dari potensi peserta yang tersedia.
Meski demikian, terdapat sisi positif dalam keterwakilan sekolah. Seluruh 56 SD di Kecamatan Bayongbong mengirimkan peserta, walaupun keterlibatan tersebut tidak merata pada seluruh cabang atau mata lomba yang dipertandingkan. Dengan demikian, setiap sekolah tetap memiliki keterwakilan dalam FTBI, tetapi jumlah dan jenis mata lomba yang diikuti berbeda-beda.

FTBI SD Tingkat Kecamatan Bayongbong berlangsung di SDN 1 Bayongbong, Kamis (3/9/2026). Ketua pelaksana kegiatan adalah Agus Dana Sukmana, S.Pd., dengan kepanitiaan yang melibatkan unsur kedinasan dan PGRI.
Ketua PGRI Cabang Bayongbong, Aa Kusdinar, S.Pd., M.Pd., saat dihubungi melalui telepon selulernya, Kamis (3/9/2026), mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan ruang kepada peserta didik untuk menunjukkan potensi, kreativitas, serta kemampuan mereka dalam bidang bahasa dan budaya daerah.
Menurut Aa, FTBI tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan peserta didik berprestasi, tetapi juga menjadi sarana untuk menanamkan kecintaan terhadap bahasa ibu sejak jenjang pendidikan dasar.

“Tujuh mata lomba yang difestivalkan meliputi Ngadongeng, Biantara, Maca Sajak, Nembang Pupuh, Maca jeung Nulis Aksara Sunda, Ngarang Carita Pondok, dan Ngabodor Sorangan,” ujarnya.
Ketujuh mata lomba tersebut menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, bersastra, berkesenian, sekaligus mengenal dan melestarikan budaya Sunda.
Pelaksanaan FTBI melibatkan panitia dari unsur kedinasan dan PGRI. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendukung kelancaran pelaksanaan seleksi sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keberlangsungan bahasa ibu melalui lingkungan pendidikan.

Pembukaan kegiatan ditandai dengan pelaksanaan upacara yang diikuti Camat Bayongbong selaku pembina upacara, Korwas dan para pengawas pendidikan, jajaran PGRI Cabang Bayongbong, tenaga kependidikan Kecamatan Bayongbong, seluruh kepala SD, guru pendamping, serta para peserta FTBI.
Di tengah keterwakilan seluruh sekolah, angka partisipasi 28,7 persen menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Sebab, jika dibandingkan dengan potensi 784 peserta, masih terdapat ruang yang cukup besar untuk meningkatkan keterlibatan murid pada penyelenggaraan FTBI berikutnya.
Aa Kusdinar menilai kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama, terutama dalam hal sosialisasi, kesiapan sekolah, serta pemberian kesempatan yang lebih luas kepada peserta didik untuk mengikuti berbagai cabang yang tersedia.

“Rendahnya jumlah peserta tahun ini menjadi catatan tersendiri bagi penyelenggaraan FTBI di Kecamatan Bayongbong. Ke depan, diperlukan evaluasi dan penguatan sosialisasi agar keterlibatan sekolah dan peserta didik dapat meningkat,” ungkapnya.
Menurutnya, peningkatan partisipasi bukan sekadar persoalan memenuhi jumlah peserta. Lebih penting dari itu, semakin banyak murid yang terlibat berarti semakin luas pula kesempatan generasi muda untuk mengenal, menggunakan, mengembangkan, dan mencintai bahasa ibu.
“FTBI pada akhirnya bukan hanya kompetisi untuk mencari juara. Lebih dari itu, festival ini menjadi salah satu upaya menjaga bahasa dan budaya daerah agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya. (Jajang Sukmana)







































