Partisipasi FTBI SD Kecamatan Cisurupan 2026 Capai 33,4%, Jadi Bahan Evaluasi

0
28

CISURUPAN — Sebanyak 238 murid dari 51 sekolah dasar (SD) se-Kecamatan Cisurupan mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang SD Tingkat Kecamatan Cisurupan Tahun 2026, Rabu (2/9/2026).

Kegiatan yang dipusatkan di SDN Karamatwangi dan SDN 2 Cisurupan tersebut menjadi salah satu upaya untuk melestarikan, melindungi, mengembangkan, sekaligus merevitalisasi bahasa Sunda sebagai bahasa ibu, khususnya di kalangan peserta didik sekolah dasar.

Pembukaan FTBI berlangsung di lingkungan Dinas Pendidikan Kecamatan Cisurupan dan diikuti para peserta, kepala sekolah, guru pembimbing, dewan juri, serta jajaran panitia. Acara dipandu Sekretaris Pelaksana, Budi Firdaus, S.Pd., M.Pd.

Koordinator Pengawas (Korwas) Kecamatan Cisurupan, Hj. Tina Palita, S.Pd., M.M., secara resmi membuka pelaksanaan FTBI. Dalam sambutannya, ia berharap kegiatan tersebut tidak semata-mata berorientasi pada pencapaian juara, tetapi menjadi momentum untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat upaya revitalisasi bahasa Sunda di lingkungan sekolah.

“Mudah-mudahan dari kegiatan ini ada yang dapat menorehkan prestasi di tingkat kabupaten. Tetapi yang paling penting bukan hanya soal juara, melainkan bagaimana kita melakukan evaluasi dan revitalisasi bahasa Sunda,” ujarnya.

Menurutnya, pelestarian bahasa Sunda membutuhkan keterlibatan bersama, terutama sekolah, guru, peserta didik, dan keluarga. Ia berharap pada pelaksanaan FTBI mendatang seluruh sekolah di Kecamatan Cisurupan dapat mengirimkan perwakilannya.

“Mudah-mudahan ke depannya semua sekolah dapat mengirimkan perwakilannya. Kalau bukan oleh kita, siapa lagi yang akan melestarikannya,” katanya.

Ia juga mengajak seluruh pihak untuk menjadikan bahasa Sunda sebagai bagian dari jati diri masyarakat Sunda yang perlu terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana FTBI SD Tingkat Kecamatan Cisurupan Tahun 2026, H. Endang, S.Pd., SD., menyampaikan bahwa tingkat partisipasi peserta pada tahun ini masih perlu terus ditingkatkan.

Dari 714 peserta yang secara keseluruhan diharapkan mengikuti FTBI, baru 238 peserta dari 51 sekolah yang berpartisipasi atau sekitar 33,4 persen. Kondisi tersebut menjadi catatan sekaligus bahan evaluasi untuk meningkatkan keterlibatan sekolah pada pelaksanaan tahun berikutnya.

“Partisipasinya sekitar 35 persen. Mudah-mudahan tahun yang akan datang lebih digelorakan lagi, utamanya dalam memelihara dan melestarikan budaya Sunda,” ungkapnya.

Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) sekaligus Ketua PGRI Cabang Kecamatan Cisurupan, Hidayat, S.Pd., M.Pd., MCE., menegaskan bahwa FTBI jangan hanya dipandang sebagai ajang perlombaan untuk mengejar prestasi.

Ia berharap para peserta dari Kecamatan Cisurupan mampu berprestasi hingga tingkat yang lebih tinggi, bahkan dapat mewakili Kabupaten Garut di tingkat Provinsi Jawa Barat.

“Mudah-mudahan dari Cisurupan ada yang bisa tampil sampai tingkat provinsi. Jangan sekadar apal (hafal), tetapi harus bisa memelihara dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Menurut Hidayat, kemampuan berbahasa Sunda perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga bahasa ibu tidak hanya dipelajari saat mengikuti perlombaan, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan dan karakter peserta didik.

Dalam pembukaan tersebut juga dilaksanakan Ikrar Juri sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen dewan juri dalam menjalankan tugas secara jujur, adil, objektif, dan bertanggung jawab. Ikrar tersebut sekaligus menegaskan bahwa seluruh peserta memperoleh perlakuan yang sama tanpa membeda-bedakan asal sekolah maupun peserta.

Pada FTBI tahun ini, para murid mengikuti berbagai cabang perlombaan yang berkaitan dengan bahasa, sastra, dan aksara Sunda. Setiap cabang menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya daerah.

Pelaksanaan FTBI Tingkat Kecamatan Cisurupan Tahun 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi mampu menjadi sarana nyata dalam menjaga keberlangsungan bahasa Sunda di tengah generasi muda.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan tumbuh rasa bangga pada diri anak-anak terhadap bahasa ibu mereka sendiri, sekaligus memperkuat kesadaran bahwa bahasa Sunda merupakan bagian penting dari budaya dan jati diri masyarakat Sunda yang harus terus dijaga, digunakan, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (Jajang Sukmana)