GARUT — Mengusung tema “Wani Ngabasa, Reueus ku Budaya, Ngalestarikeun Basa Indung” dengan semangat “Raksa Budaya, Waluya Bangsa”, Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang Sekolah Dasar (SD) Tingkat Kecamatan Tarogong Kidul Tahun 2026 resmi dibuka oleh Koordinator Pengawas (Korwas) Kecamatan Tarogong Kidul, Elin Ruslina, M.Pd., di GOR PGRI lingkungan SDN 2 Tarogong, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Kamis (3/9/2026).
Upacara pembukaan diikuti seluruh peserta lomba, sebagian orang tua, guru pendamping, kepala sekolah, serta para pengawas di lingkungan Kecamatan Tarogong Kidul.
Ketua Pelaksana FTBI SD Tingkat Kecamatan Tarogong Kidul, Suhendar, S.Pd., dalam laporannya menyampaikan, kegiatan tahun ini diikuti 264 peserta dari 40 sekolah. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 47,15 persen dari total 560 peserta yang seharusnya dapat berpartisipasi apabila seluruh sekolah mengirimkan peserta sesuai kuota yang tersedia.

Meski demikian, Suhendar berharap pelaksanaan FTBI dapat melahirkan talenta-talenta terbaik yang nantinya mampu mewakili Kecamatan Tarogong Kidul pada tingkat selanjutnya.
“Semoga melahirkan tunas-tunas yang terbaik dari yang baik ini. Kalian semua sudah menjadi juara,” pesannya kepada seluruh peserta.
Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K2S) Kecamatan Tarogong Kidul, Yanti Sri Mulyanti Arni, M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan berpartisipasi dalam pelaksanaan FTBI.

Menurutnya, FTBI bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan menjadi media untuk menumbuhkan kembali rasa bangga terhadap seni dan budaya Sunda, khususnya bahasa Sunda sebagai bahasa ibu.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi motivasi bagi peserta didik, orang tua, dan guru untuk membiasakan penggunaan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
“FTBI ini merupakan media. Kita sebagai orang Sunda harus peduli terhadap seni dan budaya Sunda. Jangan sampai bahasa Sunda hanya digunakan ketika mengikuti lomba, tetapi bagaimana dalam kehidupan sehari-hari kita tetap menggunakan bahasa Sunda. Mari bersama-sama mendukung pelestarian bahasa Sunda,” ujarnya.

Yanti juga berharap pelaksanaan FTBI dapat mendorong para guru untuk semakin meningkatkan pembelajaran bahasa Sunda di sekolah, sehingga bahasa daerah tetap hidup dan digunakan oleh generasi muda.
“Mudah-mudahan menjadi motivasi bagi anak-anak dan orang tua untuk sehari-hari berbahasa Sunda. Mudah-mudahan juga menjadi motivasi bagi guru di sekolah untuk terus mengembangkan bahasa Sunda,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Korwas Kecamatan Tarogong Kidul, Elin Ruslina, M.Pd., menegaskan bahwa seluruh peserta FTBI merupakan anak-anak pilihan sekaligus duta dari sekolah masing-masing.

Menurutnya, para peserta tidak hanya memiliki talenta dalam bidang seni dan bahasa Sunda, tetapi juga membawa nama baik sekolah masing-masing.
“Anak-anak semuanya merupakan duta, anak-anak terpilih yang mempunyai talenta dari masing-masing sekolah,” ungkap Elin.
Elin mengakui, partisipasi sekolah dalam FTBI tahun ini masih perlu terus ditingkatkan. Karena itu, ia berharap pada pelaksanaan FTBI berikutnya setiap sekolah dapat meningkatkan jumlah peserta yang dikirimkan, sehingga semakin banyak peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengembangkan bakat sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya Sunda.

“Ke depannya, setiap sekolah diharapkan lebih meningkatkan jumlah pesertanya. Jangan hanya melihat FTBI sebagai ajang tahunan atau sekadar mencari juara. Nilai terpenting dari pelaksanaan FTBI adalah bagaimana kegiatan ini mampu membentuk karakter peserta didik,” tuturnya.
Menurut Elin, keberhasilan peserta tidak semata-mata diukur dari perolehan juara. Lebih dari itu, FTBI diharapkan mampu menumbuhkan keberanian tampil, kepercayaan diri, kecintaan terhadap budaya daerah, serta karakter positif pada diri peserta didik. “Bukan hanya juara. Yang utama adalah meningkatkan karakter anak-anak agar memiliki karakter yang baik,” tegasnya.
Elin berharap tema “Wani Ngabasa, Reueus ku Budaya, Ngalestarikeun Basa Indung” tidak berhenti sebagai slogan dalam kegiatan FTBI, tetapi dapat menjadi motivasi bagi seluruh pihak untuk terus menggunakan dan melestarikan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan hanya mengikuti lomba, tetapi jadikan ini sebagai motivasi untuk melestarikan seni dan budaya Sunda. Mudah-mudahan di masing-masing sekolah bahasa Sunda terus hidup dan digunakan,” pungkasnya. (Jajang Sukmana)











































