GARUT — Guru Bahasa Indonesia didorong tidak lagi hanya menjadi pengajar yang menyampaikan materi literasi di ruang kelas. Mereka ditantang untuk naik kelas sebagai pembaca kritis, penulis produktif, sekaligus penghasil karya yang mampu menembus ruang publik.
Dorongan tersebut mengemuka dalam Workshop “Cakrawala Literasi Guru Bahasa Indonesia pada Abad 21: Analisis Teks, Penulisan Kreatif, dan Publikasi Ber-ISBN” yang digelar Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut di Aula Yayasan Nurul Mutaqin, Cisurupan, Kabupaten Garut, Senin (10/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang bertemunya tiga perspektif dalam satu gerakan penguatan literasi guru. Peserta tidak hanya diajak memahami pentingnya kemampuan membaca dan menganalisis teks, tetapi juga diarahkan untuk mengembangkan gagasan menjadi karya dan mengenal jalur publikasi yang dapat memperluas manfaat karya tersebut.

Dr. Asep Nurjamin, M.Pd. menjadi salah satu narasumber dengan materi yang mengangkat kemampuan berpikir dalam pembelajaran melalui pendekatan LOTS dan HOTS. Guru diajak melihat pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai proses yang dapat melatih kemampuan berpikir tingkat rendah hingga tingkat tinggi, terutama dalam membaca, memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan gagasan.
Sementara itu, Aditya Ansor Alsunah mengajak peserta bergerak dari gagasan menuju karya melalui materi “Dari Ide Menjadi Buku: Alur Penulisan Kreatif dan Publikasi Ber-ISBN.”
Menurut Aditya, persoalan literasi guru tidak cukup diselesaikan dengan mendorong kebiasaan membaca. Budaya membaca perlu dilanjutkan dengan budaya menulis dan menghasilkan karya.
“Guru jangan hanya menjadi konsumen literasi. Guru juga harus menjadi produsen pengetahuan melalui tulisan dan karya yang lahir dari pengalaman serta pemikirannya,” kata Aditya.
Pandangan tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam kegiatan. Pengalaman guru selama mengajar, menurutnya, sesungguhnya menyimpan banyak gagasan yang dapat dikembangkan menjadi artikel, buku, karya sastra, maupun bentuk publikasi lainnya.
Narasumber lainnya, Ayi Aam, turut memberikan perspektif mengenai penguatan literasi dalam menghadapi perubahan kebutuhan pembelajaran pada abad ke-21.
Ketiga perspektif tersebut kemudian bermuara pada satu gagasan: literasi guru harus bergerak dari sekadar aktivitas membaca menuju kemampuan berpikir, berkarya, dan berbagi pengetahuan.
Perubahan ekosistem informasi menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan tersebut. Arus informasi yang semakin deras menuntut guru memiliki kemampuan memilah informasi, membaca secara kritis, menguji gagasan, serta menyampaikan pemikiran melalui karya yang dapat dipertanggungjawabkan.
Workshop juga memberikan ruang kepada peserta untuk melihat proses kreatif secara lebih praktis. Gagasan yang semula muncul dari pengalaman mengajar maupun persoalan di lingkungan pendidikan dapat dipetakan, dikembangkan, ditulis, disunting, hingga dipersiapkan untuk dipublikasikan.
Dengan pendekatan tersebut, kegiatan tidak berhenti pada seminar satu arah. Guru ditempatkan sebagai pelaku utama yang diharapkan mampu membawa hasil workshop ke lingkungan sekolah dan komunitas masing-masing.
Magister PBSI IPI Garut melalui kegiatan tersebut turut memperlihatkan peran perguruan tinggi dalam membangun jembatan antara dunia akademik dan kebutuhan pengembangan profesional guru.
Harapannya, gerakan literasi guru tidak berhenti setelah workshop berakhir. Sebaliknya, kegiatan tersebut menjadi titik awal lahirnya lebih banyak guru yang mampu membaca dengan kritis, menulis dengan kreatif, dan mempublikasikan gagasan secara produktif.
Sebab, di tengah perubahan zaman, guru Bahasa Indonesia tidak cukup hanya mengajarkan literasi. Mereka juga dituntut untuk menjadi teladan dalam budaya literasi itu sendiri. (Aditya Ansor Alsunah)





































