Garut, Sabtu (5/9/2026) — Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang Sekolah Dasar (SD) Tingkat Kecamatan Karangpawitan Tahun 2026 diikuti sebanyak 365 murid dari 56 sekolah dasar. Tahun ini, kepesertaan sekolah yang mengutus peserta tercatat mengalami peningkatan dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.
Mengusung tema “Ngamumule Bahasa Indung, Ngariksa Warisan Karuhun”, kegiatan FTBI dibuka di GOR PGRI Cabang Karangpawitan, Kabupaten Garut, dan dilanjutkan dengan pelaksanaan berbagai mata lomba di lingkungan PGRI Cabang Karangpawitan.
Ketua Pelaksana FTBI Tingkat Kecamatan Karangpawitan 2026, Erni Kusmawati, M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu ikhtiar bersama untuk menjaga, melestarikan, sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa dan budaya Sunda.

“Sebanyak 365 peserta yang mengikuti kegiatan ini diharapkan dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya dengan tetap menjunjung tinggi kejujuran dan sportivitas,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kepesertaan sekolah menjadi sinyal positif bahwa perhatian terhadap pelestarian bahasa ibu di lingkungan sekolah terus tumbuh. FTBI tidak sekadar menjadi ajang perlombaan, tetapi juga ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan bakat dan keberanian tampil.
Sementara itu, Ketua PGRI Cabang Karangpawitan, Indra Rakhman, M.Pd., menegaskan bahwa perjuangan melestarikan budaya Sunda membutuhkan keterlibatan dan dukungan bersama.

“Mari kita dukung program tahunan ini yang sudah memasuki tahun kelima,” katanya.
Ia menekankan, tidak ada prestasi yang lahir secara spontan. Setiap juara membutuhkan proses panjang melalui latihan, pembinaan, dan pendampingan yang konsisten.
“Untuk menjadi juara membutuhkan pelatihan dan pendampingan. Karena itu, jangan sia-siakan perjuangan untuk melestarikan bahasa Sunda ini,” tegasnya.
Indra juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan FTBI, khususnya pada tahun kelima penyelenggaraannya di Kecamatan Karangpawitan.

Menurutnya, bahasa ibu merupakan bagian penting dari identitas dan warisan budaya yang perlu dipertahankan. Sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kecintaan anak-anak terhadap bahasa dan budaya daerah.
“Bahasa harus menjadi salah satu benteng untuk mempertahankan budaya. Kita harus percaya bahwa melalui pendidikan dan pembiasaan di sekolah, bahasa Sunda dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Koordinator Pengawas (Korwas) Kecamatan Karangpawitan, Drs. H. Jujun Junaedi, M.Pd., secara resmi membuka pelaksanaan FTBI Tingkat Kecamatan Karangpawitan Tahun 2026.

Dalam sambutannya, Jujun menyampaikan bahwa pelaksanaan kegiatan tersebut tidak mungkin berjalan tanpa bantuan, dukungan, dan kolaborasi dari berbagai pihak.
“Semoga segala dukungan yang diberikan menjadi amal kebaikan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan ini,” ungkapnya.
Ia mengaku bangga melihat antusiasme para peserta didik dan guru dalam mengikuti FTBI. Menurutnya, semangat tersebut menjadi modal penting untuk menampilkan kemampuan terbaik dalam setiap cabang yang diikuti.

“Bapak dan Ibu guru harus merasa bangga melihat anak-anak dan guru sangat semangat. Mudah-mudahan mereka bisa menampilkan yang terbaik. Anak-anak yang hadir di sini merupakan anak-anak terpilih,” katanya.
Jujun juga mengingatkan para guru agar tidak pernah bosan dalam memberikan pembelajaran dan pendampingan kepada peserta didik, terutama dalam hal akhlak dan pembentukan karakter.
“Zaman sekarang sangat mengkhawatirkan. Anak-anak harus memiliki karakter yang baik,” pesannya.
Ia berharap FTBI dapat menjadi wadah untuk membuktikan sekaligus mengembangkan bakat yang dimiliki setiap peserta. Namun, hasil perlombaan tidak boleh semata-mata diukur dari menang atau kalah.

“Jadikan lomba ini sebagai pengalaman. Menang dan kalah jangan menjadi ukuran utama. Anak-anak sudah berani tampil, itu juga merupakan sebuah prestasi,” tuturnya.
Jujun berharap kolaborasi antara sekolah, guru, PGRI, pengawas, panitia, orang tua, dan berbagai pihak lainnya dapat terus diperkuat sehingga mampu melahirkan peserta didik yang berprestasi sekaligus berkarakter.
“Mudah-mudahan kolaborasi ini bisa mengantarkan anak-anak menjadi yang terbaik. Semoga dari tingkat kecamatan ini ada yang bisa menjadi terbaik di tingkat kabupaten, kemudian tampil di tingkat yang lebih tinggi, bahkan nasional, dan membawa harum nama Karangpawitan serta Kabupaten Garut,” harapnya.
Menurutnya, keberhasilan peserta didik dalam berbagai ajang prestasi juga menjadi salah satu bukti keberhasilan guru dalam mendidik, membina, dan mengembangkan potensi anak-anak.
FTBI Kecamatan Karangpawitan 2026 pun diharapkan tidak berhenti sebagai agenda perlombaan tahunan, tetapi menjadi bagian dari gerakan bersama untuk ngamumule basa indung—memelihara bahasa ibu—sekaligus ngariksa warisan karuhun, menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus. (Jajang Sukmana)







































