GARUT, Kamis (4/6/2026) – SMPN 5 Garut menggelar kegiatan Tasyakur Bi Ni’mah Kelulusan Siswa-Siswi Kelas IX Tahun Ajaran 2025/2026 bertema “Bersama dalam Cerita, Berpisah untuk Menggapai Cita-cita” di lingkungan sekolah pada Kamis (4/6/2026).
Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh haru dengan dihadiri seluruh dewan guru, komite sekolah, orang tua siswa, serta seluruh peserta didik kelas IX. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMPN 5 Garut berhalangan hadir karena pada waktu yang bersamaan harus menghadiri kegiatan pelepasan siswa di sekolah definitif yang dipimpinnya.
Ketua Pelaksana, Nurhasanah, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan yang dilaksanakan bukanlah acara perpisahan yang bersifat meriah, melainkan bentuk rasa syukur atas selesainya proses pendidikan siswa kelas IX selama menempuh pendidikan di SMPN 5 Garut.
“Tahun ini terdapat 261 lulusan yang terdiri atas 129 siswa laki-laki dan 132 siswa perempuan. Kegiatan ini dilaksanakan secara sederhana karena yang terpenting bukan kemeriahannya, tetapi makna dan kenangan yang membekas di hati seluruh yang hadir,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh pembiayaan kegiatan berasal dari partisipasi orang tua siswa dengan persetujuan pihak sekolah dan komite sekolah. Berbagai unsur warga sekolah turut mendukung sehingga acara dapat terlaksana dengan baik.
“Saya menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh panitia, dewan guru, komite sekolah, orang tua siswa, dan seluruh warga SMPN 5 Garut yang telah bekerja sama. Sebuah kegiatan tidak mungkin berhasil jika hanya dikerjakan oleh satu orang, tetapi karena adanya dukungan dan kebersamaan dari semua pihak, acara ini dapat berjalan dengan lancar,” katanya.
Menurut Nurhasanah, rangkaian kegiatan pelepasan sebenarnya telah dimulai sejak 23 Mei 2026 melalui pembuatan video sinematik, dokumentasi seni kreatif siswa, hingga berbagai kegiatan pendukung lainnya yang dapat disaksikan melalui media sosial SMPN 5 Garut.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga berpesan kepada para lulusan agar terus melanjutkan pendidikan dan menjaga nilai-nilai yang telah ditanamkan selama belajar di SMPN 5 Garut.
“Raihlah ilmu setinggi-tingginya. Di manapun kalian berada, bawalah bekal ilmu, adab, dan akhlak yang telah diperoleh dari SMPN 5 Garut. Jadilah generasi yang mampu mengangkat derajat diri, keluarga, serta nama baik almamater. Terbanglah setinggi-tingginya meraih cita-cita, tetapi jangan pernah melupakan tempat yang telah membesarkan kalian,” pesannya.
Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan pelepasan tahun ini adalah prosesi upacara adat yang dikemas secara berbeda dan inovatif. Penampilan Pasukan Pramuka SMPN 5 Garut berhasil menyita perhatian para tamu undangan dan orang tua siswa melalui formasi Tongkat Bara yang dipadukan dengan nuansa budaya Sunda.
Pengamat pendidikan dan kepramukaan, Ade Yusup, menilai inovasi tersebut sebagai langkah kreatif yang sarat makna serta layak menjadi inspirasi bagi sekolah lain.
“Ada pemandangan yang tidak biasa sekaligus menggetarkan jiwa saat Pasukan Pramuka melangkah di lapangan SMPN 5 Garut dalam prosesi pelepasan siswa. Jika biasanya upacara adat Sunda identik dengan lengser, penari merak, atau payung agung, SMPN 5 Garut berani menghadirkan formasi Tongkat Bara sebagai simbol utama dalam prosesi pelepasan,” ungkapnya.
Menurut Ade Yusup, penggunaan Tongkat Bara bukan sekadar modifikasi teknis, melainkan sebuah bentuk akulturasi budaya yang memadukan kearifan lokal Sunda dengan jiwa kepanduan yang sarat nilai karakter.
Integrasi Tongkat Bara yang menjadi simbol kegagahan, kepemimpinan, dan kesiapsiagaan dalam Gerakan Pramuka ke dalam prosesi adat Sunda dinilai sebagai gagasan yang cerdas dan visioner. Upacara yang biasanya berlangsung syahdu dan gemulai berubah menjadi lebih berwibawa, tegas, namun tetap mempertahankan kesakralannya.
Ketukan tongkat yang serempak serta formasi yang presisi menciptakan harmoni visual yang memukau sekaligus memberikan nuansa baru dalam tradisi pelepasan siswa.
Momen yang paling mengesankan terlihat ketika para anggota Pramuka membentuk Gapura Tongkat menggunakan Tongkat Bara. Para lulusan berjalan melewati lorong tongkat yang saling bertaut sebagai simbol perjalanan menuju masa depan.
Menurut Ade Yusup, filosofi tersebut sangat mendalam karena menggambarkan bahwa lulusan SMPN 5 Garut dilepas dengan bekal kemandirian, ketangguhan, kepemimpinan, dan semangat menolong sesama yang menjadi ruh pendidikan kepramukaan.
“Ini bukan sekadar dekorasi atau atraksi seremonial. Gapura Tongkat menjadi simbol gerbang masa depan yang harus dilalui para lulusan dengan penuh keyakinan dan tanggung jawab,” jelasnya.
Lebih jauh, inovasi tersebut menunjukkan implementasi nyata dimensi Profil Pelajar Pancasila, khususnya kreativitas, gotong royong, disiplin, dan pelestarian kearifan lokal.
Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya menjadi penonton budaya, tetapi terlibat langsung dalam proses latihan, membangun formasi, menjaga kekompakan, serta menampilkan keterampilan kepramukaan yang estetis dan bermakna.
Ade Yusup menilai SMPN 5 Garut berhasil menghadirkan pembelajaran karakter yang hidup melalui sebuah prosesi budaya yang edukatif.
Menutup apresiasinya, Ade Yusup menyatakan bahwa SMPN 5 Garut telah memberikan contoh bagaimana tradisi dapat terus berkembang tanpa kehilangan nilai-nilai luhurnya.
“SMPN 5 Garut berhasil membuktikan bahwa tradisi tidak harus kaku. Dengan memadukan simbolisasi Tongkat Bara dan nilai-nilai kepramukaan ke dalam upacara adat, kegiatan ini naik kelas menjadi sebuah pertunjukan yang sarat energi muda, patriotisme, kreativitas, serta penguatan karakter. Ini menjadi preseden baik bagi inovasi kegiatan pendidikan di Kabupaten Garut,” pungkasnya.
Pelepasan 261 lulusan SMPN 5 Garut tahun ajaran 2025/2026 pun tidak hanya menjadi momentum perpisahan, tetapi juga menjadi panggung pendidikan karakter yang memperlihatkan harmonisasi antara budaya, kreativitas, kedisiplinan, dan semangat kepramukaan sebagai bekal menuju masa depan. (Jajang Sukmana)



































