Workshop Guru PAUD Garut Dorong Seni dan Mendongeng dalam Pembelajaran Deep Learning

0
67

GARUT — Seni menjadi bagian penting dalam menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan, bermakna, dan sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam Workshop Guru PAUD Kabupaten Garut bertajuk “Seni dalam Pendekatan Pembelajaran Deep Learning PAUD” yang digelar di TK Baiturrahman 3, Jalan Adung No. 146, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jumat-Sabtu (18-19/9/2026).

Workshop yang diselenggarakan secara gratis tersebut diikuti sebanyak 50 peserta dari 42 kecamatan se-Kabupaten Garut. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kompetensi guru TK dalam mengembangkan pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, dan mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak.

Ketua IGTKI Kabupaten Garut, Tati Nurbaeti, S.Pd., M.M., mengatakan workshop tersebut diselenggarakan IGTKI Kabupaten Garut bekerja sama dengan Kak Cahyo dan tim, dengan memberikan penguatan kepada guru TK melalui pendekatan seni dalam pembelajaran deep learning.

Ketua IGTKI Kabupaten Garut, Tati Nurbaeti, S.Pd., M.M.

“Workshop seni dalam pendekatan deep learning ini ditujukan bagi guru TK di Kabupaten Garut dalam rangka peningkatan kompetensi. Pesertanya sebanyak 50 orang dan berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Garut,” ujar Tati saat ditemui di sela seminar Disiplin Positif “Nyalakan 10 Tombol Ajaib Anak Anda” di Gedung Pendopo Kabupaten Garut.

Menurut Tati, seni dan guru TK merupakan dua hal yang sulit dipisahkan. Guru PAUD dituntut tidak hanya mampu menyampaikan materi, tetapi juga memiliki kreativitas dalam mengemas pembelajaran agar sesuai dengan dunia anak.

“Seni dan guru TK itu tidak bisa dipisahkan. Guru TK yang tidak memiliki seni dalam mengajar, pembelajarannya bisa kurang bermakna dan kurang menyenangkan bagi anak,” katanya.

Pada workshop kali ini, salah satu materi yang mendapat perhatian adalah seni mendongeng. Para guru mendapatkan pengalaman dan pembekalan mengenai bagaimana mendongeng dengan baik serta menjadikan cerita sebagai salah satu metode pembelajaran yang interaktif.

Tati menjelaskan, mendongeng bukan sekadar aktivitas bercerita untuk menghibur anak. Lebih dari itu, mendongeng dapat menjadi media untuk menyampaikan pesan moral, nilai-nilai kehidupan, ilmu pengetahuan, sekaligus menstimulasi perkembangan imajinasi dan literasi anak.

“Melalui mendongeng, kita bisa memberikan hiburan kepada anak, menyampaikan pesan moral, menstimulasi imajinasi, sekaligus menjadi media literasi. Mendongeng yang menyenangkan akan menggairahkan kegiatan belajar mengajar bersama peserta didik,” tuturnya.

Ia menilai, di tengah perubahan kebiasaan anak pada era digital, kemampuan guru menghadirkan cerita secara menarik menjadi semakin penting. Jika dahulu dongeng identik dengan cerita pengantar tidur, kini anak-anak semakin akrab dengan perangkat digital dan berbagai konten di dalamnya.

“Kalau zaman dahulu mendongeng menjadi rutinitas sebagai pengantar tidur, sekarang anak-anak sebelum tidur malah scrolling HP. Karena itu, guru perlu menghadirkan kembali kegiatan mendongeng dengan cara yang menarik dan sesuai dengan dunia anak,” ujarnya.

Workshop tersebut menghadirkan sejumlah pemateri dari kalangan akademisi dan pegiat seni serta literasi. Mereka yakni Agung Cahya Karyadi, S.Pd., M.Pd. (Kak Cahyo), Dosen PG-PAUD Universitas Trilogi Jakarta sekaligus pegiat literasi; Ratna Ayu Budhiarti, penyair, cerpenis dan pegiat literasi; serta Iin M. Zakaria, pendongeng dan penyair sekaligus Founder Komunitas Dongeng Dakocan.

Sementara itu, kegiatan dipandu oleh Tuanku Muhammad Radiyan, pengamat dan peneliti seni budaya, sebagai moderator.

Melalui kegiatan tersebut, IGTKI Kabupaten Garut berharap guru TK tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi juga membawa pulang pengalaman praktis yang dapat diterapkan langsung di satuan pendidikan masing-masing. (Jajang Sukmana)